Selasa, 12 April 2016

Mengejar Rupiah, perlukah?

 sumber: google

Kerjarlah rupiahmu, wanita mengikuti
-sentilan sentilun-

Ungkapan tersebut diatas menuai kontroversi. Terbukti ketika menjadi status di akun sosmed salah seorang teman, dibawahnya ada komentar:

Yakin mau diikuti hanya demi rupiah?

Lalu dibawahnya muncul lagi komentar:
Iya wanita bakal ngikut rupiah... nilai tukar turun..ikut turun pula cintanya =))

Tapi ada juga yang setuju. Dengan komentar:
Cocok!
Persis salah satu dialog khas si MaCan di sinetron AJ.

Sang empunya status masih bertahan dengan argumennya. Tak lama kemudian ia membalas beberapa komentar diatas dengan satu kalimat singkat,
Yakin merasa cukup, sekedar cinta?

Amboi, sebagai wanita yang sekaligus mengaku seorang muslimah, rasanya seperti makan cabe rawit dengan garam membaca status dan komentar dibawahnya.

Apa iya semua wanita hanya mengejar rupiah?

Atau muslimah itu akan cukup hidup hanya dengan cinta?

Jika hanya mengamati wanita dari kedua sudut pandang tersebut, rupiah dan cinta, maka selamanya hal ini akan menjadi perdebatan tak berujung. Debat kusir, kata para mahasiswa  –padahal pak kusir ngga suka debat, kerjaannya cuma narik kekang kuda. Debat macam ini sudah seperti masuk ke lingkaran setan. Hanya akan berputar tanpa ada habisnya.

Manusia mana ngga doyan rupiah? Tak hanya wanita loh, lelaki juga sama! bahkan banyak diantara sekian lelaki itu yang pengeluarannya melebihi wanita modern. Ngga percaya? Coba saja hitung harga kemeja plus celana panjangnya, yang sedikit bermerk (alias merk standar) bolehlah di kisaran lima ratus ribu. Belum underwear, katakanlah sekitar 50.000.  Alas kaki macam sepatu atau sandal di kisaran dua-tiga ratus ribu, buat rata-rata 250.000 lah ya? Belum parfum, tas, apalagi kalau perlu rokok dan makan. Gengsi beli di pedagang kaki lima, mampirlah ke cafe. Total berapa? Hitung saja sendiri, kan makannya belum tau pakai menu apa? Paling murah paket lah ya. Harga mahasiswa kelas bintang lima. *eh

Wanita? Model wanita modern harga bajunya ratusan ribu hingga sekitar sejutaan, jangan heran. Anggaran ke salon, parawatan rambut, wajah, kulit, kaki, kuku, masing-masing beda harga. Minimal sekitar lima ratus ribuan kalau rutin ke salon. Eh budget segitu jangan harap ke salon bermerk internasional ya.  Belum anggaran jalan-jalan, makan, tranpostasi, kebutuhan sehari-hari. Apalagi muslimah kan bajunya udah panjang, banyak rangkap pula. Belum hijab yang modern, berapa harga tuh? Apalagi kalau biasa pakai make up wajib dan perawatan salon. Tas bermerk, sandal, kaos kaki, semua ada harganya.

Apa iya, kalau menikahi muslimah cukup dinafkahi dengan cinta? Jelas engga!
Duh, tak perlu naif bahwa semua orang butuh rupiah (baca: uang, karena manusia yang tinggal di LN bisa jadi ga butuh rupiah sama sekali). Tapi siapa yang bisa jamin rupiah bisa membawa wanita kemana-mana? Mungkin tubuhnya  iya, tapi hatinya? Oh please, jangan terlalu simple memandang mereka.

Wanita tak pernah cukup puas dengan materi. Berapapun yang diberi, bisa saja meminta lagi dan lagi. Ia punya selaksa cinta, tapi tak akan bisa bertahan lama hanya dengan cinta. Ini rahasia, yang sudah jadi milik kita.

Lalu apa bedanya wanita “kebanyakan” dengan muslimah?

Muslimah punya cara berbeda memandang cinta dan rupiah kawan.

Muslimah yang baik, mendapat pendidikan dan memiliki pemahaman serta iman yang benar tidak akan meng-oriantasi-kan hidupnya pada kesenangan duniawi semata. Tidak pada cinta, tidak pula pada uang semata. Visinya jauh menembus angkasa. Bahkan melewati batas usianya. Baginya, dunia ini hanya kehidupan sementara. Kehidupan sebenarnya ada setelah kematian yang jadi kenyataan.

Seperti apa kehidupannya di dunia?

Ia akan pandai bersyukur dengan segala yang tersedia untuknya. Diberi nafkah cukup ia bersyukur, diberi nafkah sekedarnya pun ia terima. Tanpa mengeluh atas apa yang ia tak punya. Bukan karena ia tak pernah ingin hidup mewah. Fitrahnya sebagai manusia biasa menginginkan kemewahan yang tampak indah di depan matanya. Tapi percayalah, hati dan imannya tak akan membiarkan sifat dan sikapnya mengambil jalan yang salah. Bisa saja ia bekerja dan mendapat penghasilan melebihi jatah sari sang suami, tapi itu tak akan membuatnya tinggi hati. Paling buat keperluannya sendiri. Para suami, semoga tak perlu merasa iri jika ini terjadi.

Ia akan mencintai karena Allah semata. Bukan semata membalas cinta dari suaminya. Suami dicintai bukan sekedar karena materi yang ia beri kepada sang istri. Tapi karena cintanya kepada Allah, yang menuntunnya untuk menghormati suami lebih dari orang tuanya sendiri. Disayang suami, akan menjadi penyejuk hati. Pun jika suaminya ternyata tak cukup mengerti, ia akan tetap berusaha memahami.

Ia akan mencintai anak-anaknya, bukan sekedar karena naluri pribadi. Tapi ia sadar sepenuhnya bahwa anak-anak adalah titipan dari Sang Maha Besar. Ia tahu kewajibannya untuk mendidik mereka, bukan memanjakannya dengan harta. Ia tahu kewajibannya mengajarkan kemandirian dan mengabdi pada Tuhan. Diberi sedikit atau banyak anak ia tak akan mengeluh, karena ia percaya Allah tak akan mengujinya diluar batas kemampuan.

Baginya cinta kepada sesama manusia bukan segalanya. Percayalah, hatinya mungkin saja memilih seseorang yang tidak memilihnya. Tapi cintanya pada Allah, melebihi kekaguman pada makhlukNya. Ia tak akan lari dari suami sahnya, tak akan mengkhianati ikatan sucinya, bahkan jika ia harus memilih, ia akan memilih Allah sebagai tujuan akhir apapun yang harus terjadi.

Uang dan cinta tak akan membuatnya silau menatap dunia. Tak akan membuatnya menderita menikmati usia. Dan jika engkau menemukannya, akankah engkau biarkan ia mendampingi lelaki lain?

Sedangkan wanita “biasa”, banyak kau dapati terbuai cinta dan materi. Atas nama cinta, ia rela berkorban raga. Atas nama rupiah semata, ia mampu mengumbar nafsunya pada dunia. Ah sudahlah, kau pasti tahu maksudku. Itulah kenapa seorang penyair berkata:

Cinta datang bersama datangnya sebab, dan akan hilang bersama hilangnya sebab”

Mana ada cinta tanpa sebab? Itu tipuan dunia. Bukankah 14 abad yang lalu Rasul kita tercinta telah bersabda:

“Wanita dinikahi karena empat perkara: hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Pilihlah karena agamanya maka engkau akan selamat” (al hadits)

Kenapa Rasulullah tidak ada menyebut wanita dinikahi karena cinta? Apakah itu berarti sesungguhnya lelaki menikahi wanita bukan karena cinta? Mungkin saja, para lelaki lebih berhak menjawab. Bukankah Nabi kita lelaki? Aku percaya soal ini beliau jauh lebih paham dari pada semua lelaki yang pernah kukenal. Tapi jelas kan, harta bisa jadi salah satu sebab adanya pernikahan (termasuk rupiah) tentunya.

Dalam hadits yang lain dijelaskan lebih detail tentang apa jadinya jika menikah karena harta, keturunan, atau kecantikan. Semua membuat rugi saja. Maka Rasulullah menganjurkan untuk tidak memilih wanita yang hanya mengutamakan harta, keturunan, dan kecantikan diatas perhatiannya pada agama.

Maka, masihkah kau ingin mengejar rupiah agar diikuti oleh wanita?

Sungguh, tak masalah jika engkau ingin mengejar rupiah. Mungkin si rupiah sedang berlari hingga engkau harus mengejar untuk mendapatkannya? Ah, absurd sekali dibayangkan. Tapi bukan itu inti paragraf ini. Muslim yang baik, akan berusaha memenuhi kebutuhan istri dan keuarganya tanpa diminta. Ia tak hanya bisa memberi cinta yang berupa rasa. Tapi cintanya lebih nyata dibanding terangnya dunia. Terpatri dalam keyakinan pada sang pencipta, bahwa rezeki ada dalam kuasaNya. Ia hanya wajib berusaha, dan menaati aturanNya.

Maka nikmat tuhan yang mana pantas engkau dustakan?

GK, April 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rumah Impian

Tak perlu besar, yang penting cukup untuk menampung keluarga inti dan tamu yang datang berkunjung. Entah itu saudara, sahabat, atau...