Rabu, 20 April 2016

Mereka perlu tahu



Supeno, usianya masih sekitar tiga tahun. Anak pak Seno dan bu Supi itu menangis tertahan, suaranya masih sesenggukan. Ibu dan bapaknya menggeret lengan anak itu keras-keras. “Sudah, ayo pulang! Kamu itu masih kecil ngga tau susahnya orang tua! Dibilangin ngga boleh ya ngga boleh! Ngga usah cari alasan!” ibunya mengomel sepanjang gang sempit menuju kampung kumuh diujung gang.


Sementara itu, didepan Mall G*ler** seorang ibu berpakaian resmi seragam kantor juga menyeret anak perempuan kecil yang meronta dalam genggaman lengannya. “Mama jahaatttttt!!!! Aku Cuma mau satu tas baru mamaaaa…!! Mama jahaat..mama ngga saying Anggiii……huwaaaaaaaaaa…!”. Sang mama tidak menjawab, hanya menyeret anaknya ke dalam mobil dan segera menyuruh sopirnya tancap gas tanpa peduli tatapan orang disekitarnya.

Sekilas, pemandangan tersebut taka sing bagi kita. Tidak ahanya di persimpangan jalan, bahkan mungkin di lingkungan keluarga atau tetangga pernah kita lihat hal demikian. Dimana anak “terpaksa” mengikuti keinginan orang tuanya, tanpa penjelasan, dan tanpa pernah tau “mengapa”.

Sederhana, tapi sungguh berarti banyak bagi masa depan mereka. Anak perlu tahu alasan mengapa mereka dilarang atau diperintah melakukan sesuatu. Anak perlu belajar untuk mengerti maksud pembelajaran itu sejak dini. Karena sungguh, rasa penasaran sejatinya tak pernah mati.

Ketika anak dilarang melakukan sesuatu, hatinya pasti bertanya kenapa?

Jika ia mendapat penjelasan logis yang bisa diterimanya, maka otomatis dia akan mengerti dan menghindarinya lain kali. Namun jika penjelasan itu tak cukup membuatnya mengerti, ia akan mencoba hal serupa lain kali. Percayalah, rasa ingin tahu itu tak akan terhenti sampai ia benar-benar tahu.

Sayang, kita sebagai orang tua kadang tak paham bagaimana harus memberi penjelasan, lalu lebih memilih diam. Akibatnya? Anak tidak akan terima. Ia akan tetap melakukan hal serupa, ketika tidak mendapat pengawasan dari orang tua.

Seperti pada kasus diatas, Supeno dan Anggi. Keduanya berasal dari latar belakang ekonomi yang berbeda. Namun mendapat perlakuan yangs ama dari orang tuanya, penolakan untuk sebuah penjelasan. Orang tua Supeno enggan menjelaskan bahwa mereka tidak bisa memenuhi keinginan anaknya karena alsan ekonomi. Sementara orang tua Anggi memilih diam supaya anaknya tidak perlu membeli tas baru karena mungkin tas yang ada masih bisa dipakai, atau mungkin juga karena alasan lain. Entahlah. Yang ejalsa, mereka sama-sama tidak mendapat penjelasan.

Maka dalam kasus ini, orang tua tidak bisa menyalahkan anaknya, jika –misal- suatu hari anaknya kembali merengek, atau melakukan hal lain supaya keinginanya bisa dituruti.  Sungguh, mereka bukan nakal. Tapi belum mengerti. Maka, pendidikan yang baik adalah pendidikan yeng bisa membuat mereka memahami tujuan dan pelajaran dari apa yang harus kita sampaikan.

#yukBelajar

#ODOP

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yang Terbaik

Edited by canva "Iya Ki, insya Allah kamu dapat yang terbaik."