Senin, 25 April 2016

Sekali Duduk Membahas Kenaikan Harga

Sudah masuk minggu terakhir bulan kedua ya, ODOP Batch 2?

Tak terasa, perjalanan panjang sudah kita lalui bersama kawan, semoga perjalanan ini membawa manfaat yang besar untuk kita semua. Di pekan terakhir bulan ini, tantangannya adalah menulis dalam sekali duduk, tanpa edit. Uh, sekali duduk ya? Baiklah, mari kita coba. Eh, aku coba.


Harus pelan-pelan nih jari lompat kesana kemari-nya. Kalau hari biasa bisa ngetik cepet, tapi hari ini? Eh, bukan, cukup saat ini saja. Tadi dan nanti kalau ngetik lagi aku tak akan sepelan ini. Hahaha...

Tak ada ide khusus yang ingin kutulis kali ini. Hanya kegelisahan calon ibu rumah tangga yang akhir-akhir ini rada galau. Kenapa? Hmm, aku memang tak banyak andil dalam hal ini. Mengingat kesulitan yang harus dihadapi para ibu rumah tangga akhir-akhir ini tidak berimbas langsung padaku. Cuma kasihan aja lihat ibu-ibu di sekitar rumah, sudah sekitar dua minggu ini kesulitan mendapat gas LPG 3 kg. Warung bude beberapa kali harus menolak pembeli yang mencari gas. Agen yang biasanya setor mengantar gas kerumah setiap dua minggu sekali sudah sekitar sebulan ini tidak datang.

Kemana mereka semua? Kan kasihan ibu-ibu kalau mau masak gasnya ngga ada. Mau cari kemana-mana stok kosong semua. Permainan siapa ini?

Saat ini aku tinggal dirumah pakde dan bude dari pihak ibu. Di daerah kecamatan Playen, kabupaten Gunungkidul. Harga gas LPG saat ini masih Rp. 20.000,- per tabung 3 kg. Dengan harga perolehan berkisar antara Rp. 17.000 – Rp.18.000,- per tabung. Dengan minimnya stok saat ini, bisa diperkirakan sebentar lagi harganya akan naik. Beberapa waktu lalu pernah kejadian seperti ini harga tabung gas LPG 3 kg sampai Rp. 25.000,- . padahal di Jawa Timur, tepatnya tempat orang tua tinggal di daerah Jombang, harga tabung gas LPG ukuran 3 kg belum pernah melampaui angka Rp. 20.000,-.

Apa yang mendasari kenaikan harga ini? Adalah permainan pihak tertentu yang sengaja mengurangi stok peredaran barang dipasar. Maaf, bukan bermaksud su’udzon ya, tapi kejadian yang berulang semacam ini dan bukti  berita di beberapa media terdahulu menunjukkan bahwa analisa ini benar. Nah, mengingat ramadhan sebentar lagi, diikuti hari raya dan libur panjang, merupakan moment tepat untuk mendapat keuntungan maksimal bagi para pelaku bisnis.

Para ibu rumah tangga yang terhormat, bersiaplah. Sebentar lagi kenaikan harga bahan pokok dan kebutuhan sekunder akan naik. Penurunan harga BBM yang diumumkan pemerintah beberapa waktu yang lalu dapat dipastikan tidak banyak berpengaruh untuk meredam lonjakan harga barang di pasar.

Benarkah pola seperti ini?

Dilihat dari kacamata ekonomi Islam, sungguh islam melarang adanya ikhtikar atau penimbunan barang yang bertujuan merusak harga pasar. Kalau zaman islam masih berjaya ada dewan hisbah yang bertugas mengawasi mekanisme pasar agar selalu berjalan normal, sehingga harga bahan pokok terutama tidak perlu mengalami lonjakan drastis dalam moment hari raya. Namun tidak demikian dengan saat ini. Dimana sistem yang menguasai ekonomi kita adalah sistem ekonomi kapitalisme. Tidak ada badan yang khusus mengawasi kerja pasar. Para pebisnis bebas berbuat apa saja untuk mendapat keuntungan.

Sedih rasanya menghadapi kondisi ekonomi semacam ini. Semakin sedih rasanya melihat para ibu rumah tangga harus berjuang keras mengatur pemasukan dan pengeluaran keuangan seefektif mungkin. Maka, jauh di dalam hati ingin sekali rasanya berteriak lantang pada semua umat islam sedunia, mari terapkan sistem ekonomi islam!!!

#ODOP
#SekaliDuduk
#JamKuliahAudit

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rumah Impian

Tak perlu besar, yang penting cukup untuk menampung keluarga inti dan tamu yang datang berkunjung. Entah itu saudara, sahabat, atau...