Jumat, 13 Mei 2016

Surat buat Hasna 13


Finda tak peduli. Luka di hatinya lebih berdarah-darah. Pertemuan dengan Rahman tadi pagilah penyebab hatinya keruh siang ini.


Sesaat ia tertegun, melihat Hasna meraung kesakitan. Apa yang terjadi? Terkesiap, dadanya berdesir, jantungnya berdegup kencang.

Apa yang kulakukan?” Batinnya bertanya gusar. Melihat Hasna menangis semakin membuatnya bingung. “Jangan, jangan terus disini! Jauhkan dirimu dari Hasna!” Batinnya berteriak lagi. Ia berlari, membuka pintu kamar. Sesaat kemudian membantingnya. Lalu menjatuhkan diri di tempat tidur. Menutup wajahnya dengan bantal. Ia ingin berteriak, melihat semua kejadian tadi pagi diputar ulang dalam kepalanya.

***
Pagi,

Sudah sebulan ini ia tak menerima nafkah sepeserpun dari Rahman. Ramadhan begini, harga kebutuhan pokok naik semua. Kebutuhan susu dan pampers buat Hasna sudah menipis. Sementara itu, gajinya sebagai guru sukuan yang tak seberapa memang sekarang sudah cukup buat memenuhi kebutuhan hidupnya, tapi akan semakin menipis kalau dipakai buat keperluan Hasna juga. Keperluan Hasna kan tanggung jawab ayahnya.

***

Tok...tok...tok....

“Assalamu’alaikum, Man.. Rahman....” beberapa detik menunggu, tak ada suara, apalagi tanda pintu akan dibuka.

Tok..tok..tok...

“Man, ini aku. Bukain pintunya man.....” ia mulai sebal. Kemana Rahman? Paling masih tidur. Hufft, ga berubah juga nih orang. udah pengangguran, pemalas pula!

“Maan....bukain pintu...” ia berteriak kali ini, baru mau mengetuk lagi kesekian kali, tiba-tiba..

“Ish, apasih teriak pagi-pagi. Ga malu didenger tetangga? Haa?!” Rahman muncul dengan rambut acakadul, masih bersarung dan kaos oblong. Namun suaranya jelas menunjukkan bahwa ia tak suka. Rahman bukan type lelaki temprament, tak biasanya iai membentak. 

Tapi kali ini?

Sebentar, mukanya pucat. Rahman sakit? Finda hanya bertanya dalam hati. Kalah dengan emosi yang terlanjur menguasai.

“Kamu sih, dipanggilin dari tadi bukannya cepet buka pintu. Jam segini masih tidur, ha?” Suara Finda tak kalah tinggi. Matanya menantang Rahman.

“Eh, dasar perempuan tak tahu diuntung!! Mau apa kamu kesini? Hah?? Ngga capek ya ngrecokin hidupku? Udah sana pergi. Aku ngga punya recehan buat kamu!” Rahman berteriak tak kalah sengit. Pertengkaran kali in itak bisa dihindari.

“EEEhhhhh....enak aja!! Hasna itu tanggung jawab kamu! Mana uangnya, aku mau beliin susu sama roti buat dia!” Finda tak ragu menengadahkan tangan. Dengan menatap mata Rahman tajam. Ia tak mau kalah.

“Heh, denger baik-baik ya Fin, aku ngga akan lagi kasih kamu uang! Ngga peduli itu buat keperluan Hasna atau kamu, atau mungkin keluarga besarmu. Aku sudah muak dengan kalian semua! Dan satu lagi, jangan pernah injakkan kakimu dirumah ini lagi. Kita sudah cerai. Ingat? Urusan kita selesai!” rahman mengatakan kalimat terakhirnya dengan mengacungkan telunjuk tepat didepan mata Finda. Lima detik kemudian, ditatapnya Finda tajam, tanpa suara. Lalu..

Brakk!!!

Pintu tertutup.

Finda masih mematung. Tak menyangka ia akan kalah hari ini. Rahman biasanya lembut dan baik hati. Meminta uang berapapun pasti diberi. Tapi kali ini? Rahman sudah jauh lebih berani.

Ini tak bisa dibiarkan. Ia menggedor pintu lagi, berkali-kali.

“Rahman, dengar!!  Aku ngga akan pergi sebelum kamu kasih uang buat Hasna! Hasna anak kamu..!!!” brak....brak..brak..ia masih menggedor pintu. Tak berhenti sampai pintu itu terbuka.

“Oh, kamu ngga mau pergi? Oke, terserah!! Sekarang apa maumu?” Rahman menantang Finda.

“Aku yakin, kamu pasti punya uang, kan? Cuma pura-pura aja ngga mau kasih? Hah? Sudahlah Rahman, kalau kamu ngga mau kasih,  aku mau cari sendiri uangmu disini!. Jangan halangi!” Finda melangkah maju, menyingkirkan Rahman dan masuk ke rumah itu.
Rumah yang seharusnya menjadi surga bagi keluarga kecilnya. Kini kosong, terasa hampa. Tetiba Rahman menahan langkahnya, mencengkeram lengannya kuat.

“Uang, uang, uang terus!! Heh, kamu ngga punya hak masuk rumah ini lagi! Keluar sekarang atau aku akan menyeretmu!” Suara Rahman, jelas dan tegas. Terasa menyayat, tepat didepan telinganya.

Seumur pernikahan mereka, tak pernah sekalipun Rahman bersikap sekeras ini. Lengannya mulai sakit, ia merintih tertahan. Menambah hampa suasana hatinya.

“Rahman, lepaskan! Kenapa kamu jadi begini? Iya, kita cerai, tapi kan belum resmi?” air mata perlahan memenuhi kelopak matanya.

“Hah? Belum resmi? Kamu pikir resmi versi siapa? Pengadilan agama?? Ingat Finda, aku sudah tandatangani surat cerai itu, jangan pernah berharap kita bisa bersama lagi. Catat baik-baik di kepalamu, aku bahagia dengan keputusanmu untuk cerai dariku! aku ba-ha-gi-a!”

Rahman mengulang kata terakhirnya perlahan, dengan suara tetap tegas.

"Jangan pernah datang lagi kesini, atau kamu akan tahu akibatnya!" Lalu melepaskan cengkeraman tangan Finda, mendorongnya keluar. Finda menangis tertahan.


***

Bahagia? Benarkah Rahman Bahagia?

Lalu bagaimana dengan dirinya? Bahagiakah dengan keputusan pisah darinya?

 Kata-kata Rahman terus terngiang di kepalanya. Membuat hatinya semakin perih dirasa.

Bersambung ke Surat Buat Hasna 14

4 komentar:

  1. gemes sama dua-duanya. "berisikk!!!" Kata tetangga di samping rumah, yang didepan juga, trus yang di belakang apa lagi, syukur yang di atas nggak ikut-ikutan..berabe jadinya ntar.. hehehe

    pecahkan saja piringnya biar ramai..biar gaduh sampai beradu!

    *ngelap keringat ah..lelah jg jadi kompor. Mantap mba..hatiku ikutan panas bacanya.

    BalasHapus
  2. itulah, kata kata saat kesal suka lepas kontrol huhu

    BalasHapus
  3. Pas diadegan yang ini jd ingat seseorng.

    BalasHapus

Yang Terbaik

Edited by canva "Iya Ki, insya Allah kamu dapat yang terbaik."