Rabu, 18 Mei 2016

Surat Buat Hasna 16



“Kenapa, ada apa?”

“Pilihin satu kaos dong... mana yang lebih bagus menurutmu?”


“Yaelah mas, pilih ndiri napa? Cocok semua itu buat masnya.... “ Aku memilih memanggilnya mas, bukan karena menganggapnya seperti kakak. Tapi lebih karena....., karena dia lebih tinggi dariku. Itu saja. Aku bahkan tak tahu usianya, lebih muda atau lebih tua? Lagipula, apa bedanya?.

“ Yaudah ngga jadi aja,” Ia nampak kecewa dan melangkah lagi. Lurus ke selatan.

“Eeeehhh....???” Aku menarik tas ranselnya untuk menepi. Mencegah kemacetan di gang sempit ini. “Masnya mau beli kaos? Yaudah beli aja...kenapa ngga jadii?”

“Engga, gapapa. Nanti aja.” Jawabnya enteng. Tapi ekspresinya jelas sekali bagiku, “Ga papa” yang dia maksud berarti “kenapa-kenapa”.

“Iya deh, nanti di depan ku pilihin. Satu doang, ga kurang?” Aku mengalah. Ia tersenyum menang. Amboi, setengah jam yang lalu aku bertemu dengannya di alam nyata, baru kali ini ia tersenyum lepas, atau aku yang terlambat menyadari, bahwa senyumnya begitu mempesona? Aku memejamkan mata. Merekam setiap goresan. Lalu mengalihkan pandangan.

Ia sudah melangkah lagi didepanku. Aku mengikutinya. Benar saja, ia berhenti lagi di penjual kaos berikutnya. Terpaksa, aku menepati janji memilihkan kaos untuknya. Satu warna hitam, satu krem, satu warna abu-abu, dan satu lagi warna biru dongker. Empat kaos, membuatnya mendapat diskon spesial dari sang penjual. Ia tampak bahagia. Ah, aku tak menyangka bahwa cara membuatnya bahagia begitu sederhana. Terpaksa? Ah tidak, aku senang memilih sesuatu untuknya. Setidaknya itu berarti, ia menganggapku ada. Sang upik abu.

Kami melangkah lagi, dengan ia tetap didepanku. Setelah memborong gantungan kunci, souvenir, dan macam-macam gelang dari benang, ia mulai tampak lelah. Aku juga, sebenarnya.

“Shalat yuk, dimana?” uff, hampir saja! 

Kalau saja ia tak bersuara setelah berhenti melangkah tanpa aba-aba, aku pasti sudah menabraknya. Mataku memang sedang lihat ke tumpukan baju batik  di seberang sih, jadi ngga fokus kedepan.

“Ehh? Eng... bilang apa tadi?” aku gelagapan.

“Hmm, makanya jangan ngelamun. Shalat, yuk? Dimana?” Ohh.... ia tertawa cekikikan. Dan.... sangat tampan. Memaksaku untuk menundukkan pandangan.

“Eng...  disana, sebelah selatan pasar bringharjo trus belok ke timur. Yuk!” kali ini aku melangkah melewatinya. Daripada nunggu dia, kan? Aku yang tahu arah, bukan dia.

Jam memang sudah menujuk angka 16.00, belanja memang sangat menyita waktu, ternyata. Kami sudah terlambat menunaikan shalat ashar. Tapi tak apa. Masih ada waktu. Lima menit kemudian, kami sudah sampai di masjid Al-Muttaqien. Ia menuju tempat wudhu pria, tentu saja. Dan aku ke arah sebaliknya. Sekitar setengah lima, kami selesai.

“Kemana sekarang?” Tanyaku.

“Ngabuburit. Buka setengah enam kan hari ini di jogja?” ia balik bertanya.

“Iya, mau kemana?”

“Paling dekat dari sini, mana?” Hmm, aku hampir lupa. Dia kan orang asing disini.

“Altar aja, ya?” Tawarku.

#Bersambung ke Surat Buat Hasna 17
#ODOP

16 komentar:

  1. Makasih mba. Sudah ajak kami jalan2. Ditunggu kisah berikutnya.πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€

    BalasHapus
  2. Makasih mba. Sudah ajak kami jalan2. Ditunggu kisah berikutnya.πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€

    BalasHapus
  3. De Kifah....ajak aku lagi ke Malioboro

    BalasHapus
    Balasan
    1. ayuk mbaaak..kapan mudik?? aq puasa full di jogja

      Hapus
  4. Bahasanya enak diikuti euy.. Ngalir banget..

    Lanjutkan terus, mbak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih bang semangatnya,, jejaknya, dan semua ilmunya,, jazakallah bi ahsan jaza'

      Hapus
  5. Suka suka. Serasa aku yg menemani masnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. boleh mba wid temani sekalian..hehe

      Hapus
  6. aku juga mau diajak k jogja.. 😊😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. bolehlaah,,..ayo tak tunggu disini yaa

      Hapus
  7. Huaaa jogjaaa... Dekeettt...

    BalasHapus
  8. Jogja mah gitu.. bikin baper..πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    BalasHapus
  9. Mbk Sakifah, ini Yogya bangetttt ...
    Suka bacanya!

    BalasHapus
  10. Wah... di jogja setting tempatnya. Selalu pingin kesana.

    BalasHapus
  11. Aku setuju dgn Bang Syaiha. Ngalir bagai air...
    Awas kecebur!!! He..

    BalasHapus
  12. Jadi pengen ke bringharjo lagi. Gudeg...

    BalasHapus

Yang Terbaik

Edited by canva "Iya Ki, insya Allah kamu dapat yang terbaik."