Selasa, 24 Mei 2016

Surat Buat Hasna 19




Sepi. Semoga itu berarti ia mengerti. Bahwa aku bukan bagian dari pengganggu rumah tangganya. Bahwa aku tak ingin mengusik keputusan mereka. Dan yang terpenting, aku tak ingin citra kakak runtuh dimatanya. Meski tak tahu masalah sebenarnya diantara mereka.


Entah siapa yang salah, perceraian selalu menyisakan sikap saling menyalahkan. Belum pernah kudengar kasus perceraian dengan masing-masing pihak membenarkan pihak yang lain. Kecuali membenarkan keputusan cerai itu sendiri.

Mbak Finda, Hasna.. apa jadinya jika mereka tahu mas Rahman sedang berjuang sendiri menyambut kematian dalam sepi?

Aku memejamkan mata, merapal do’a sebelum tidur. Ditambah do’a semoga jika kelak aku berumah tangga, cinta selalu terjaga hingga akhir masa. Hingga cerai tak pernah jadi pilihan untuk menyelesaikan masalah yang mendera.

Meski aku masih tak tahu, akan menikah dengan siapa?
***


Sesuai rencana, libur hari raya aku pulang ke kota santri kembali. Menemui sanak saudara dan merayakan hari kemenangan. Sampai beberapa hari setelahnya, aku baru ingat harus ketemu kakak.

Aku ragu. Haruskah menghubunginya terlebih dahulu?

Sungguh, aku tak ingin prasangka mbak Finda meraja. Ini bukan saat yang tepat menceritakan semuanya. Tidak tepat untukku. Memang harusnya bukan aku yang memberitahu semua padanya.

Ya Allahu Rabb...

Engkau yang Maha Tahu, betapa lemahnya aku.

Engkau yang Maha Kuasa, atas setiap cerita.

***

Jika kucoba hubungi kakak, mungkin saja mbak Finda mengetahui. Lalu jika itu terjadi.. pasti dia kembali curiga. Mengira aku selingkuhan kakak. Atau setidaknya, mengira kakak yang menggoda.

Bisa saja, ia berfikir bahwa akulah penyebab kakak menyetujui permintaannya untuk bercerai. Dan... akulah penyebab kakak bahagia berpisah dengannya?

Oh, tidak, tidak. Sebaiknya aku tidak menghubunginya.

Kakak sudah tahu kalau aku dirumah saat hari raya tiba. Harusnya ia menghubungiku jika memang penting untuk bertemu. Tak pantas rasanya aku hubungi dia lebih dulu.
***

Apa yang sebenarnya bisa diharapkan dari perceraian?

Aku memejamkan mata. Tepat di malam ke tujuh di bulan syawwal. Rumah sudah mulai sepi dari para tamu. Aku bisa merebahkan diri lebih awal. Menikmati pelukan tempat tidur yang nyaman. Tapi tak senyaman apa yang terlintas dalam pikiran. Ia sedang dalam pengembaraan. Mencoba mengingat berapa cerita perceraian yang sempat mampir di kepala.

Lani yang dua kali bercerai dan sekarang sudah menikah lagi, yang ketiga kali. Imel dan Panji yang dulu teman sekelas, menikah sebelum mendaftarkan diri di perguruan tinggi, berpisah saat selesai kuliah. Lalu Ika, terdengar bertengkar setelah tiga bulan pesta pernikahan, dan resmi cerai setahun kemudian. Prasetya, yang memilih menjadi duda setelah setahun mencoba berdamai, namun akhirnya sang istri menuntut cerai. Sekarang ia sudah menikah lagi, daripada terjebak nafsu lelaki katanya.

Entah diluar sana, berapa banyak lagi perceraian yang harus jadi pelajaran. Tapi benarkah setiappelakunya mendapat pelajaran?

Kepalaku terasa pusing memikirkan semua. Kembali teringat pada kakak. Benarkah cerai bisa jadi jalan terbaik untuknya? Bahkan jika benar sisa hidupnya tak lagi lama? Mataku sudah terpejam saat sebuah pesan datang menyalakan layar HP-ku.

Dek, besok temui aku di foodcourt mall Keraton jam 1 siang, selesai dhuhur”

-Mas Rahman-


Bersambung ke Surat buat Hasna 20

3 komentar:

  1. Bagaimana kabar rahman sekarang ini?

    BalasHapus
  2. hmm dag dig duhg nggak mau ketemu rahman?

    BalasHapus
  3. Ceritanya panjanggg... hebat mbak kifa bisa bikin begini.

    BalasHapus

Yang Terbaik

Edited by canva "Iya Ki, insya Allah kamu dapat yang terbaik."