Rabu, 25 Mei 2016

Surat Buat Hasna 21




Aku melangkah ragu, menyeberangi jalan setelah memarkir motor. Menuju mall yang dikatakan kakak. Entah dia benar-benar disana atau tidak. Terik matahari tak mengusik perhatianku meski harus berkeringat melangkah ditengah siang yang terik ini.

Entah seseorang yang kusebut kakak, Mas Rahman, di dalam sana atau tidak. Aku meragukannya. Setengah menahan langkahku untuk benar-benar memenuhi undangan itu. Haruskah kami bertemu?

Memasuki teras mall, hawa dingin mulai menyerbu. Entah beribu watt setiap hari yang harus dihabiskan mall ini hanya untuk membuang peluh ditubuh para pengunjung. Karena pengunjung adalah raja, kata mereka.

Aku berhenti sejenak, meyakinkan diri. Meneguhkan niat. Kesini semata hanya untuk memenuhi undangan. Meski tanpa konfirmasi, ku harap kakak mengerti. Bukan masalah yang ingin kutimbulkan disini.

Aku mengenakan gamis coklat, berkerudung dan warna tas senada. Flat shoes ini membuatku merasa ringan melangkah. Langsung menuju foodcourt. Mengedarkan pandangan, antara berharap dia ada disana, atau tidak sekalian. Entah apa yang sebenarnya kuharapkan?

Sesosok lelaki, putih, kurus, rambut ikalnya tertutup topi. Berjaket hitam tersenyum dan melambaikan tangan ke arahku. Apakah itu...? ohh, seingatku, dulu masih SMA dia tak sekurus itu. Bisa dibilang tambun, malah. Tapi sekarang? Meski sisa ketampanannya masih ada disana. Aku menepis pikiran untuk merasa kasihan. Tak ingin dia menangkap ketidaknyamanan itu. Aku melangkah maju.

“Assalamu’alaikum... udah lama mas?” Ku angkupkan kedua tangan di depan dada, menyapanya. Kikuk rasanya, setelah sekian lama... 

“Wa’alaikum salam.. ternyata benar dek, sekarang kamu benar-benar dewasa ya.” 
Entah apa maksud dari kata-katanya. Ia tersenyum menatapku, mata itu seperti takjub melihat apa yang ad adidepannya. Oh tidak, sepertinya khayalanku melambung terlalu tinggi. Dia hanya... bangga. Iya, prsis tatapan seorang kakak yang bangga melihat adiknya. Adik yang dulu tampak culun, cupu, bandel, dan tengil dimatanya. Kini sudah mampu bersikap dan membawa diri sebagaimana mestinya.

“Maaf ya, lama nunggu...” Aku melirik jus alpukat yang tinggal setengah gelas besar di depannya.

“Mau minum apa dek, pesan aja sendiri ya?” Ia melambaikan tangan memanggil pelayan. Aku memesan es degan durian. Tampak segar dalam gambar menu yang mereka sediakan. Lalu duduk menatap kakak yang selama ini hanya kutemui di layar kaca, tulisannya.

“Jadi,..?” Aku membuka pembicaraan

“Makasih ya dek, kamu mau datang. Kukira ngga datang. Ngga ada balasan sama sekali.” Ada gurat khawatir di wajahnya. Lalu sejenak kemudian berubah jadi lega. Aku tersenyum melihatnya.

“Maaf, he...aku juga ragu sebenarnya. Tapi seperti ada yang penting banget. Jadi akhirnya aku dateng deh.. ada apa sih mas?”

“Hmm, iya. Ini penting banget, bagiku. Maaf ya kalau ngga penting bagimu?” Kembali tersirat sedih di matanya, dan jujur.. aku tak tega. Tapi bisa apa?

“Silahkan mbak... ada yang lain mau dipesan?” suara pelayan yang tadi menahan percakapan kami. Hanya saling pandang.

“Mau makan apa dek?” Kakak menyodorkan menu makanan yang tersedia.

“Saya gado-gado ya mbak? Sama....” Ia melirikku.

“Sama aja deh mbak, gado-gado dua ya..” Aku menyahut. Pelayan itu mengangguk takzim. Lalu melangkah pergi setelah mencatat pesanan kami.

“Aku mau nitip ini.” Kakak mengeluarkan sesuatu dari balik jaketnya. Lalu perlahan meletakkannya tak jauh dari tanganku. “Simpan ya.” Katanya.

#Bersambung ke Surat Buat Hasna 22
#ODOP

6 komentar:

Yang Terbaik

Edited by canva "Iya Ki, insya Allah kamu dapat yang terbaik."