Selasa, 31 Mei 2016

Surat Buat Hasna 23




“Besok kalau nikah, jangan sembarangan pilih suami.” Air wajahnya berubah serius.

“Iya.. tenang aja... besok aku tanya mas deh kalau mau nikah, ya?”

“Jangan....”

“Loh??”

“Tanya aja sama Allah, Dia yang lebih tau apa dan siapa yang terbaik untukmu. Percaya padaNya, jangan ada ragu sedikitpun jika sudah mengambil keputusan.”

“Hemm.....baiklah. sekarang apa lagi?” aku mendadak serius juga. Ngga enak kan lama-lama. Ntar dikira apa...

“Udah, yang tadi ku kasih buka aja nanti kalau sudah dirumah ya?”

“Oke, siap.” Jawabku mantap. Sambil merapikan meja, tas, dan bersiap memakai jaket.

“Mas...?” Kataku sambil menatapnya lurus.  Serius.

“Hmm...Kenapa?” Ia yang semula sudah ingin beranjak, jadi duduk menatapku lagi.

“Jaga kesehatan ya...jalani yang terbaik aja. Allah pasti punya rencana.” Tatapanku mencoba meyakinkannya. Aku tahu, di dalam hatinya seudah siap meninggalkan semua isi dunia. Tapi bagaimanapun, ia hanya manusia biasa. Yang mungkin kadang tak kuasa menghadai ketetapanNya.

Ia mengangguk, tanpa kata.

Aku berpamitan, beranjak menjauhi meja dan kursi yang tadi kami tempati. Namun beberapa langkah, sesosok wanita berdiri mematung. Kakak masih jauh dibelakangku. Membayar makanan di booth yang tadi kami pesan. Wanita itu, ... menatapku.

Jelas sekali, ia benar-benar menatapku. Dari ujung rambut hingga ujung kaki. Antara heran, curiga, penasaran, entahlah. Tak ada beda. Mau tak mau, aku menatapnya balik.

Siapa sih nih orang?

Mata, wajah, penampilan...seperti..pernah kenal. Tapi siapa?

Dahiku mengernyit tanpa kata. Hanya berjarak sekitar dua meter dari tempatku berdiri. Mata itu...penampilannya.. seperti...

“Nda.......” Sebuah panggilan memecah keheningan kami. Seorang lelaki jauh berdiri di seberang, melambai ke arah kami.

Perempuan itu menoleh. Lalu mengangguk. Kembali menatapku sejenak, dengan pandangan seolah...benci. aku tak mengerti. Siapa dia? Lalu ia pergi, menuju lelaki itu. Menyerahkan telapak tangannya dan diterima okeh lelaki yang tadi. Mereka pergi, bergandengan tangan.

“Dek, masih disini?” Sebuah suara membuyarkan pandanganku.

“Eh?...” Aku menoleh. Ternyata kakak.

“Itu tadi.....” aku menunjuk arah perempuan itu pergi. Lalu menatap kakak.

“Siapa? Finda?” Kakak tersenyum, tapi ekspresi di wajahnya begitu pahit kurasa. Aku tak mengerti kenapa.

“Itu tadi....mas lihat? Tau siapa?” Aku menyelidik.

“Sepertinya, dia tahu kita disini. Kamu cepetan pulang ya. Apapun yang terjadi, kamu langsung pulang. Ngga usah mampir kemana-mana. Hati-hati dijalan.” Kakak melangkah pergi. Aku merinding.

Dua orang tadi....beberapa bulan yang lalu masih suami-istri. Lalu sekarang, kenapa jadi begini? Aku benar-benar tak mengerti.

Sekarang, haruskah pulang atau melihat apa yang terjadi diantara mereka selanjutnya? Aku bimbang. Tapi langkah kaki menuntunku ke tempat parkir.
***

Motor baru saja kunyalakan, ketika tiba-tiba di pintu masuk mall, terjadi keributan. Sekelompok orang berteriak-teriak minta diberi jalan. Perempuan itu, perempuan yang tadi ada diantara mereka. Aku hanya melihatnya dari jauh. Beberapa lelaki tampak memapah seseorang keluar dari gedung.

“Mobil...mobil... Rumah sakit...rumah sakit....” lamat-lamat kudengar kata-kata itu berulang. Aku masih terpaku. Siapa itu? Kenapa perempuan tadi terus mengikuti rombongan itu? Benarkah itu...mbak Finda?

Lalu?

“Sepertinya, dia tahu kita disini. Kamu cepetan pulang ya. Apapun yang terjadi, kamu langsung pulang. Ngga usah mampir kemana-mana. Hati-hati dijalan.” Kalimat kakak tadi menyergap otak. Bergema di seluruh ruangan dalam kepala. Aku berusaha menguasai diri.

Kuperhatikan rombongan itu terus keluar... lelaki yang dipapah...itu??

Mas Rahman!!

Darahku terkesiap. Apa yang terjadi tadi? Perempuan yang kutemui melangkah cepat-cepat dibelakang rombongan. Seseorang membuka intu mobil. Lalu pelan-pelan mendorong kakak ke dalam. Wajahnya tampak begitu terseiksa, pucat. Perempuan itu ikut masuk. Lalu pintu ditutup. Mobil sedan itu melaju beberapa detik kemudian. Kerumunan orang mulai bubar. Salah satu tukangparkir melangkah ke arahku, dari rombongan tadi.

“Itu tadi, siapa pak?” tanyaku.

“Ngga tau mbak, katanya tadi ada yang bertengkar terus yang laki-laki hampir pingsan. Sekarang mereka ke RSUD.”

“Bertengkar? Sama perempuan atau laki-laki?”

“Ngga tau mbak...” Tukang parkir itu pergi. Aku hanya mampu bertanya dalam hati.

Aku menyalakan motor. Segera memacunya keluar. Meninggalkan mall, bukan untuk pulang. Di benakku hanya ada satu nama: kakak. Akuharus tahu keadaannya.

Sampai di Rumah sakit, aku langsung menuju IGD. Kerumunan orang masih tampak disana. Aku bingung harus menemui siapa. Langkahku tertahan di luar pintu. Aku tak bisa menerobos kerumunan itu. Lalu memilih keluar, duduk di ruang tunggu.

Cemas menunggu, takut untuk bertemu, semua rasa berpadu jadi satu. Aku teringat senyumnya tadi, begitu tulus dan ceria dihadapanku. Tak lama, kulihat perempuan tadi keluar ruangan, menuju gerbang luar. Kesempatan, pikirku.

Aku melangkah masuk. Ragu sekali rasanya meneruskan langkah ke tempat kakak dirawat. Kakiku hanya perlu lima langkah lagi. Tak tampak seorangpun di dalam. Dia sendirian.

“Mbak keluarganya?” aku terperanjat. Seorang perawat menegurku.

“Mbak, mas Rahman gimana kondisinya?” Tanyaku balik.

“Tekanan darahnya turun drastis mbak, indikasi erythropoietin sangat rendah. Mungkin pasien harus segera cuci darah dan serangkaian tindakan medis lain.

“Tolong lakukan yang terbaik ya mbak...” Jawabku mantap. Perawat itu mengangguk, lalu meninggalkanku sendiri. Tiba-tiba HP-ku berbunyi... Ustadz Adhan? beliau adalah guru sekaligus mentorku saat masih aktif di WAFA, Belajar Al Qur'an Metode Otak Kanan .

Wa’alaikumsalam ustadz.. Oh, tanggal 15 bulan depan? Insya Allah bisa. Nggeh ustadz.. sama-sama. Wassalamu’alaikum...

Aku termenung sejenak. Harus segera pergi dari sini. Sebelum mbak Finda kembali.

#Masih Bersambung sedikitttttt lagii

Buka Surat Buat Hasna 24
#ODOP

4 komentar:

Yang Terbaik

Edited by canva "Iya Ki, insya Allah kamu dapat yang terbaik."