Senin, 02 Mei 2016

Surat Buat Hasna 4



Cerita ini adalah lanjutan dari Surat Buat Hasna 3.
Berat rasanya untuk melanjutkan. Tapi hidup harus terus bergerak maju. Waktu terus bergulir, tanpa peduli siapa dan dimana kita. Bukankah dari setiap kejadian, kita harus mengambil pelajaran?


Bersyukurlah, saat masih bisa belajar dari kehidupan orang lain. Karena jika kehidupan itu telah menjelang kematian, rasanya semakin dekat dengan perpisahan. Ada kegamangan tersendiri saat kita harus menghadapi kematian. Meski orang bilang kematian hanyalah gerbang kehidupan yang menjanjikan keabadian. Dan ketika kematian itu menjadi kenyataan, akan ada kerinduan yang menyeruak tak terbendung oleh harapan. Karena kau tahu, setelah ketiadaan nyawa harapan hanya bisa bergantung pada yang tersisa. Bukan pada dia yang telah pergi selamanya.

Kakak.

Bukan kakak kandung, karena aku tak punya. Aku anak pertama, sejak dahulu sekali sering aku merasa iri. Iya, iri pada merek ayang punya kakak. Biasa dimanja, dituruti permintaannya, disayang dan dilindungi. Lalu aku? Kenapa harus jadi anak pertama?

Lalu dalam perjalanan panjang kehidupanku, Tuhan berbaik hati memberiku sosok kaka, meski beberapa datang dan pergi tanpa permisi. Dan kali ini, datang sosok kakak yang baik bagiku. Tapi haruskah ia pergi secepat ini dengan permisi? Sungguh, rasanya mengiris hati.

Biarlah aku menganggapnya sebagai kakakku sendiri. Kakak yang kusayangi dengan sepenuh hati. Aku tak peduli pada istrinya yang mungkin saja cemburu jika tahu cerita ini. Toh dia sendiri yang sudah mengajukan cerai? Aku tak merasa perlu meminta izinnya untuk menjadi bagian berharga dari kehidupan kakak. Toh aku juga tak minta apa-apa darinya. Hanya rasa memiliki, cukuplah jadi pemupus rindu akan hadirnya.

Hari terus berganti.

Tak banyak cerita yang ia bagi. Online tak sesering biasanya. Aku yakin, bukan karena ia tak ingin berbagi cerita. Hanya saja kesibukannya pasti membuat jarak yang diluar rencana. Aku juga tak ingin mengganggunya.

Rindu.

Aku mulai merasa ada yang kurang, ingin rasanya mengirim pesan, menanyakan kabarnya. Sedang apa disana? Bagaimana kondisinya? Apa yang dirasakannya?

Sementara tugas kuliah terus menggunung, menyisakan sedikit waktu untuk memikirkannya. Bagaimanapun, aku ingin menyelesaikan studi ini tepat waktu. Kalau bisa lebih cepat dari seharusnya. Empat semester, bukan waktu yang lama. Tapi kalau bisa tiga saja, bukankah lebih bahagia rasanya? Baik, aku harus berbagi waktu, pikiran, tenaga, dan sebagainya.

Beberapa minggu berlalu, masih tak ada kabar darinya. Apa yang terjadi sebenarnya?

Mas, apa kabar?
  

Tak ada balasan. Hanya dibaca.

Mas, aku mau pulang. Sekalian ke Surabaya. Sebenarnya aku perlu bantuan mas, gimana?

   

Apa kakak marah padaku?


#ODOP
#MeiIs Coming
#Lanjuutttt.... Surat Buat Hasna 5

1 komentar:

Rumah Impian

Tak perlu besar, yang penting cukup untuk menampung keluarga inti dan tamu yang datang berkunjung. Entah itu saudara, sahabat, atau...