Kamis, 05 Mei 2016

Surat Buat Hasna 7





Pagi kembali menjelang. Rasanya masih malas beranjak dari pelukan guling kesayangan. Guling yang lebih mirip ulat bulu raksasa ini selalu berhasil membuatu bergelung, melupakan segala kewajiban. Sekaligus memupus habis rasa geliku terhadap ulat bulu, berganti dengan nyaman selama memeluknya.


Tapi ingat kejadian kemarin, aku harus beranjak meski jam masih menunjuk angka 03.30 di kamarku. Tanda-tanda kehidupan sudah dimulai dirumah ini. Meski tanpa suara, lampu kamar umi sudah menyala terang, itu tanda penghuninya sudah terjaga. Umi memang terbiasa bangun jam tiga.

Kuambil air wudhu, lalu bermunajat. Menembus cakrawala tanpa sekat. Memusatkan seluruh harapan pada sang pemberi kehidupan. kepadaNya lah langkahku tertuju. Selesai tahajjud, kubuka surat cintaNya. Sambil menunggu adzan berkumandang, aku tak ingin terlelap lagi setelahnya.

Rutinitas pagi berjalan seperti seharusnya. Aku menyapu halaman, menyiangi tanaman, memeriksa beberapa tumbuhan seperti jeruk lemon dan buah tin yang sudah berbuah. Memetik beberapa dan menikmatinya. Dulu saat aku masih kecil, senang sekali rasanya jika selesai menyapu halaman lalu memanjat pohon jambu yang sedang musim buah. Makan diatas sekenyangnya, baru turun jika sudah selesai acara “sarapan”.

Sekarang, pohon jambu itu tak berbuah lagi. Bukan tak mau, tapi karena beberapa cabang intinya sudah di potong. Jadi sepertinya, ia lebih fokus mengembangkan daun dan batang daripada buah.

Sinar mentari yang mulai menyengat mengingatkanku untuk bergegas, bersiap untuk segera berangkat. Semua barang yang harus kubawa sudah rapi. Aku mengingat lagi, apa yang masih tertinggal disini?

Teringat kembali tentang pesan yang tak terbalas. Ah biarlah. Mungkin kakak tak mau ku ganggu. Semua barang sudah siap, aku siap meluncur. Om Atim yang akan mengantarku ke terminal pagi ini. Beliau juga sudah menunggu di ruang tamu.

Iseng kubuka layar HP. Dua pesan diterima.

Maaf mbak, Saya istrinya Rahman. Siapa yang di RS? Emang Rahman sakit apa? Rahman ngga sakit, sehat wal afiat sekarang sedang dirumah.

Lalu kubuka sms berikutnya

Dan kalau pean dibilangi dia kerja di RS bohong besar!. Rahman sekarang pengangguran... kasih makan anak istri aja dia ngga sanggup mbak, bisa-bisanya ya? Apalagi belikan pampers dan susu untuk anaknya???

Ohh, speechless. Dadaku memanas, sesak rasanya.

Jadi, mbak Finda belum tahu sakitnya Mas Rahman? Bagaimana bisa ia menyembunyikan semuanya begitu lama? Kenapa ia tak merasa istrinya perlu tahu? Meski surat cerai sudah ditandatangani, penggilan sidang sudah melayang kerumah, dan lusa jadwal sidang pertama mereka. Tidakkah ada jalan bagi merek auntuk kembali bersama? Kasihan Hasna. Pikiranku melayang kemana-mana.

Maaf mbak, udah telat. Kasian banget sih kamu ngga tau kondisi Mas Rahman sekarang?

Aku memilih diam, menyimpan kalimat itu dalam-dalam. Lalu segera berpamitan dan berangkat. Meski jujur, aku masih memikirkannya. Apa yangs ebenarnya terjadi disana?

#ODOP 

 Lanjut ke Surat Buat Hasna 8

1 komentar:

Rumah Impian

Tak perlu besar, yang penting cukup untuk menampung keluarga inti dan tamu yang datang berkunjung. Entah itu saudara, sahabat, atau...