Jumat, 06 Mei 2016

Surat Buat Hasna 8




Maassss...........................”

“Hemmmmmmmmmmmmm”


Aku mengirim dua pesan sekaligs saat iseng buka facebook meski dosen masih menerangkan materinya di kelas pagi ini. Daripada ngantuk, kan? Dan kebetulan sekali, kulihat kakak online jam segini. Sejak kembali dari rumah dan sms dari istrinya, aku belum pernah lagi berkomunikasi dengannya. Sudah dua minggu yang lau, sepertinya. Aku tak sempat bertanya tentang apa yang terjadi disana.

Kali ni, aku berharap bukan istrinya lagi yang mengetik pesan.

Ohh, maafkan aku ya Allah.. apakah aku jahat jika berharap kali ini dia tak lagi bersama istrinya? Sebenarnya aku ingin berprasangka baik kepada mbak Finda, istrinya Mas Rahman. Aku tak ingin ikut-ikutan berfikir buruk tentangnya meski mas Rahman sudah banyak bercerita. Sebagai sesama wanita, aku masih berharap ia punya segudang cinta, setidaknya untuk anak mereka, Hasna. Tapi cerita-cerita itu, sungguh menguras emosiku. Bagaimana mungkin seorang alumni sekolah agama berbuat seculas itu kepada suami, yang juga kakak kelasnya di SMA? Dan kemarin, sms seperti itu sama sekali tak pantas ditulis seorang istri kepada teman suaminya, yang bahkan ia tak tahu siapa?! Untuk apa, coba? Mau pamer aib suaminya? Oh, sayang, suaminya sudah lebih dahulu memberitahuku tentangmu mbak. Dan semua itu, sesuai dengan perkiraanku.

Kau yang dahulu jadi seniorku di SMA, selalu ingin tampil cantik dan elegan dihadapan teman, atau mahasiswa KKN yang kebetulan sedang magang. Kau yang jarang menyapa adik kelas dengan ramah, atau penuh senyuman. Sebaliknya, kau selalu banyak bicara dengan teman-temanmu, menceritakan model baju, artis, sinetron yang sedang hits, atau sekedar membicarakan teman lelaki atau senior yang kalian pikir akan tertarik dengan penampilan kalian. Jujur, aku kasihan denganmu. Makan apa sih dirumah, sampai punya kepribadian semacam itu? Aku yakin, ini bukan salah sekolah kita memberi pendidikan. Buktinya, sama-sama sekolah disini aku tak segila itu, kan?yang aku heran, bagaimana mungkin mas Rahman memilihmu jadi istrinya? Kalau saja ia tahu banyak sejak awal, pasti tak akan begini jadinya. Tapi, sudahlah. Mungkinini takdir kalian. Aku bisa apa?

Konsentrasiku kuliah terpecah, antara memperhatikan penjelasan dosen, mengingat kepribadian mbak Finda dan balasan SMS-nya, juga karena bunyi chatku mulai dibalas kakak.

iya dek”


“Maasss....apa kabar? Gimana kondisi sekarang? Pean lagi dimana? Baik-baik sajakah?” aku meberondongnya dengan pertanyaan. Lalu kembali memperhatikan dosen.


“Alhamdulillah baik, ini baru pulang nebus obat. Tadi dari RS trus ke apotek. Sekarang lagi di warnet, mau cari pembeli. Aku mau jual tanah dek”


Balasan teks kakak membuatku menahan nafas membacanya.


“Jual tanah?”


“Iya dek, buat makan. Uangku sudah habis. Bahkan buat beli obat ini tadi ngga ketebus semua. Padahal total cuma 400 ribu. Aku ambil setengahnya, sisanya nanti buat ongkos pulang dan makan. Makanya sekarang aku mau jual tanah warisan bapak”


“Mas, yakin?”


“Gimana lagi, masa ga makan? Kasihan banget ya aku dek, buat makan aja sampe harus jual tanah”


“Sebentar mas, BMT milik almarhum kakak sekarang siapa yang pegang? Trus, ga ada pemasukan sama sekali kah dari yang lain? Kalau cuma buat makan dan obat, apa harus jual tanah?”


“Engga dek, aku harus. BMT sudah kuserahkan ke sepupu. Aku ngga mau ikut campur lagi. Sekarang yang kupegang cuma TPA di musholla dekat rumah dek, buat bekal akhiratku nanti. Lainnya, aku ngga pegang sama sekali.”


“Mas, .... gapapa?”


“Doakan tanahnya cepat laku ya, biar aku bisa bertahan hidup lebih lama.”


Air mataku sejenak tertahan. Ingin sekali menguatkannya, tapi bagaimana? Sungguh, penjelasan dosen lebih terdengar sebagai siaran radio sekarang.

Mas, Hp mas siap ayang pegang?” Aku hati-hati bertanya. Lalu kembali berusaha memusatkan perhatian pada penjelasan dosen. Mengumpulkan bahan untuk bertanya beberapa hal, biar ga ketahuan kalau salah satu mahasiswanya cuma hadir dalam raga, tapi tidak pikirannya. Sambil dalam hari berdo’a, semoga dugaanku salah soal SMS mbak Finda tempo hari.

#Bersambung ke Surat Buat Hasna 9
#ODOP

1 komentar:

Rumah Impian

Tak perlu besar, yang penting cukup untuk menampung keluarga inti dan tamu yang datang berkunjung. Entah itu saudara, sahabat, atau...