Senin, 09 Mei 2016

Surat Buat Hasna 9




Sungguh, kuliah kali ini aku sangat berharap segera usai. Sisa pertanyaan di chatroom dengan kakak tadi pasti sudah dijawab. Dan benar, setelah dosen mengucapkan salam, mata dan tanganku reflek membuka jendela web yang tadi kusembunyikan.

“Aku udah ngga pegang Hp dek, udah kujual buat makan seminggu kemarin.”

Seketika rasa lapar yang sejak masuk kelas menderaku karena belum sarapan tadi pagi hilang entah kemana.

“Kenapa mas, udah ga ada uang sama sekali ya?”

“Kamu ingat Mak Inah, tetangga yang mengurusku sejak kecil?”

“Iya, beliau masih bisa bantu mas dirumah kan?”

“Beliau meninggal seminggu kemarin. Uangku dipakai untuk pengurusan jenazah dan sebagainya...karena itulah akhirnya HP kujual.”

“Terus, kemarin pas aku pulang mbak Finda yang balas sms-ku?”

“Loh, iya ta?”

“Iya, tapi bacanya bikin aku nyesek mas. Dia belum tahu mas sakit? Sepertinya dia masih cinta, apa balik tinggal lagi dirumah mas?”

“Oh, kemarin itu dia kerumah minta uang buat Hasna. Tapi ngga ku kasih. Lha wong aku buat makan sendiri aja susah, sementara dia kan kerja. Kalau buat kasih makan Hasna, aku yakin dia mampu dek”

“Yasudah gapapa mas, ga usah dipaksain kalau pean ngga ada uang. Biar dia rasain akibat ga bisa menghargai suami.” Aku ikut geram membaca penjelasan kakak.

“Entah kemana uang ratusan juta di tabunganku, dulu kan buku tabungan plus ATM-nya dia yang pegang. Aku baru tahu beberapa minggu setelah bundanya Hasna ngga mau pulang kerumah dan memilih tinggal sama orang tuanya, sebelum ke dr. Farid sempat aku print itu bukunya. Dulu awal pernikahan kami rekening itu masih ada sekitar 900 juta. Aku percayakan dia agar mengatur keuangan rumah tangga, berharap bisa jadi modal usaha atau apalah buat masa depan keluarga. Waktu aku ke bank itu tinggal 1,2 juta. Sekarang sudah habis semua dek,”

“Astaghfirullah...”

“Akhir-akhir ini aku dapat info dan sudah ku cek soal itu dek,”

“Terus? Kemana uangnya?”

“Ibunya sudah tiga tahun ini usaha kasih pinjaman ke orang-orang dek. Semacam rentenir gitu. Kok bisa aku ngga tahu ya? Tiga tahun kan berarti sejak pernikahan kami usia setahun, dan itu Hasna belum lahir?”

“Parah, mas ngga pernah ngecek gitu keuangan yang dia pegang?”

“Sama sekali”

“Mas terlalu percaya, saking cintanya sama mbak Finda?”

“Terbukti iya, aku salah ya??”

“Banget!”

“Kenapa semua teman dekat yang tahu ceritaku selalu menyalahkanku sudah menikah dengannya, dek? Termasuk kamu”

“Maaf mas... aku tak bermaksud membuatmu menyesal... :-(

“Iya gapapa, tapi aku perlu tahu, emang seburuk apa sih dia sebenarnya?”

“Dia ga buruk mas, cantik. Cantik banget , malahan.”

“Dek, aku serius ya. Please” antara kesal dan gregetan, aku tak tahu bedanya.

“Iya aku juga serius mas. Emang dia cantik, kan? Kalau engga, mana mungkin mas tertarik dan menikahinya?”

“Entahlah dek, antara terpaksa dan takdir, mungkin.”

“Loh? Kok bisa nyalahin takdir? Emang ada yang maksa mas harus nikah sama dia, gitu?”

“Engga ada.”

“Nah, Terus?”

“Emang ngga ada yang maksa, tapi aku harus segera menikah waktu itu. Dan pilihannya cuma ada dia”

“Hmm... yakin cuma ada dia?” aku bertanya penuh selidik kali ini.

“Salahku apa sih dek, nikah sama dia?”

“Tenang aja, mas ngga salah. Udah jangan dipikirin ya? Sekarang istirahat aja sana. Aku ngga mau mas ngedrop di warnet. Kasihan yang jaga nanti kerepotan bawa ke RS.”

“Tuh kan, kamu suka banget ya bikin penasaran?”

“Hobi baru mas”

“Aku ngga bisa pulang nih kalau masih ngga jelas gini.”

“Duh, bawel banget sih masku satu ini, disuruh istirahat aja ngeyel. Aku susah nih jelasinnya.... musti panjang kali lebar kali tinggi. Bisa-bisa nanti mas harus nginep di warnet kalau mau penjelasan lengkap. Tapi kalau kucicil setengahnya, yakin mas pasti maksa buat nerusin. Mending kapan-kapan aja ya dilanjutin? Kalau mas lagi fit dan online aja. Sekalian aku pengen denger cerita waktu sidang cerai pertama kemarin, udah lewat kan?”

“Hemmmmmm....ga mau”

“Loh?? Kok??”

Duh, susah nih, masa kakak merajuk gini? Aku memutar otak.

Beberapa saat kemudian...

“Baik, PR deh buat mas. Nanti kalau udah tau jawabannya, dan sempet online kabari aku. Tak kasih tau kesalahan mas soal pernikahan. Pertanyaannya, pikir baik-baik, apa alasan mas menikahinya dulu?”

“Oke” singkat, padat, ga jelas kapan lagi mau online.

Dia langsung offline. Aku bengong. Ah sudahlah, let’s see what he will say.

#Bersambung ke Surat Buat Hasna 10
#ODOP

1 komentar:

Rumah Impian

Tak perlu besar, yang penting cukup untuk menampung keluarga inti dan tamu yang datang berkunjung. Entah itu saudara, sahabat, atau...