Minggu, 12 Juni 2016

Surat Buat Hasna 27




Surat Buat Hasna pada Ultah ke 18,


Dear Hasna, apakah kau sudah mengenal kata cinta? Dengarkan aku, ayahmu. Cinta adalah logika sempurna. Ia adalah kata kerja yang berarti memberi tanpa meminta kembali.

Jika kau temui pemuda yang mengerti tujuan cintanya kepada sang pencipta semata, lalu ia memintamu menikahinya, maka terimalah.

Tapi jika tidak, jangan bermain-main dengan kata cinta, karena ayah tak mau kamu menderita karenanya.

Setuju ya?

Salam sayang,

Ayah


Lumayan singkat. Tapi sungguh, kenapa pesan itu lebih terasa buatku saat ini? Oh my Allah, tuntunlah langkahku, please...

Aku memejamkan mata sejenak. Lalu membuka surat berikutnya.

Surat Buat Hasna pada Ultah ke 20


Dear Hasna.

Ayah yakin kamu sudah jadi gadis cantik sekarang. Apakah kau suka menghamburkan uang buat kosmetik layaknya gadis zaman sekarang? Ah semoga tidak. Ayah ingin anak gadis ayah tumbuh sederhana. Percayalah, kecantikanmu memancar dari dalam dirimu. Bukan dari kosmetik yang kau pakai sehari-hari.

Jangan tiru bunda, atau teman sebaya, ya? Ayah mengawasimu dari dunia yang berbeda. Kamu memang mudah terpengaruh teman. Tapi percayalah, selalu ada teman yang baik. Dekatlah dengan mereka. Jangan salah memilih teman. Oke?

Salam sayang ayah buat Hasna


Surat Buat Hasna pada uLtah ke 21


Dear Hasna,

Kata orang usia 21 tahun adalah masa peralihan dari remaja menuju dewasa. Apakah kau sudah siap dengan segala kenyataan dunia, nak?

Ayah selalu mengawasimu dari sini. Antara khawatir, takut, juga bangga. Ayah khawatir dan takut kamu melalaikan Allah. Ayah mohon, jangan biarkan itu terjadi ya?

Ayah bangga karena kau tak lupa mendoakan ayah. Kau tahu, ayah selalu menanti do’a-doa’mu. Hanya do’a anak shalihah yang akan sampai pada kami, orang tua yang sudah tiada di dunia, nak. Maka jangan lelah doakan ayah. Agar kita selalu merasa dekat meski hanya dalam hati.

Love you as always
Ayah


Ah, satu lagi!!

Surat Buat Hasna Dewasa.

Dewasa?

Nak, kau harus membaca kisah para wanita shalihah zaman Rasulullah. Betapa tangguh mereka menghadapi kerasnya dunia. Ayah ingin Hasna setegar meeka, terutama bunda Khadijah, Aisyah, Asiyah, Maryam dan Fatimah. Mereka para pemimpin muslimah nak. Belajarlah dari mereka.

Setelah ini mungkin tak ada lagi surat dari ayah. Semoga kau mengerti, bukan karena ayah tak mau, tapi ayah pikir, saat kau dewasa sudah tidak membutuhkan surat. Biar kau tumbuh bebas, tapi semoga tak lupa aturan agama yang harus kau jaga.

Jangan lalai, ya? Hasna, menikahlah karena Allah. Biarkan disini ayah ridha untukmu. Pilihlah yang terbaik dari hidupmu, cukup karena Allah saja. Jangan karena yang lain ya.

Biarkan pemuda sholeh memilihmu bukan karena kecantikanmu yang berpoles kosmetik, bukan karena ia tahu kau anak ayah, bukan pula karena harta yang kau punya. Menikahlah dengan pemuda, yang memilihmu karena Allah.

Salam sayang ayah untukmu selalu Hasna...



Menikah?

Aku curiga, sebenarnya ini surat buat Hasna atau nasehat untukku?

Kakak mengkhawatrikan masa depan anak gadisnya, ayah yang luar biasa.

Lalu sepucuk surat untukku, tanpa judul. Aku bimbang ingin membuka, tiba-tiba HP-ku berbunyi tanda pesan masuk.

Mbak Finda!

Mbak Risa, Rahman kritis. Mohon do’anya.”

Allahu rabb... inikah maksud kata kakak “tak lama lagi”?? aku merinding.

Segera kubereskan semua, bersiap. Lalu berangkat ke Rumah Sakit. Sampai disana, mbak Finda menunggu dengan cemas. Kakak masih tak sadarkan diri, mendapat perawatan intensif dari tim medis.

Aku bingung harus berkata apa. Hanya saling diam, hingga kupikir percuma. Aku memilih pulang saja.

Sampai saat aku harus kembali ke jogja, tak bisa lagi kutemui kakak, berbincang layaknya waktu itu. Benarkah itu pertemuan terakhirku? Nelangsa rasanya. Melihat orang baik yang kukenal berpamitan. Solah tak butuh lagi kehidupan dunia. Sedang aku, kadang masih terpesona dunia yang fana.

Dan dua hari setelah aku di jogja, mbak Finda kembali mengabarkan kalau kakak sudah pergi selamanya. Aku sempat bertanya bagaimana kondisi terakhirnya. Mbak Finda cerita bahwa kondisinya sangat baik saat ia pergi. Bahkan tak ada yang menyangka. Dokterpun sudah mengizinkannya pulang jika kondisinya bertahan seperti itu sehari kemudian. Tapi malam, saat ia berpamit tidur, esoknya tak bangun lagi. Allah menjemputya dengan cara yang indah, tanpa tampak kesakitan sama sekali.

Ah, kakak.. Allah senang menyambutmu disana? Semoga kau bahagia, khusnul khotimah yang kau pinta benar-benar jadi nyata.

Surat-surat buat Hasna kusimpan rapi dirumah. Hanya surat untukku yang belum terbuka, kubawa ke jogja.

Penasaran apa isinya?

Baiklah...

Kakak cuma bilang....

Dek, maafkan aku telah menyayangimu dan izinkan aku selalu menyayangimu. Semoga kita ketemu lagi di kehidupan berikutnya.

Rahman.



Mas Syamsi?

Ah iya, aku hampir saja lupa. Belum ada kabar darinya sejak kukirim tabel perbandingan itu. Apakah ia kecewa, terluka, atau semacamnya?

Kenapa aku tiba-tiba takut menyakitinya?

Salahkah apa yang kusampaikan padanya?

Oh, ragu menyelimuti kalbu. Berkali-kali layar hp kulihat, berharap satu nama muncul dari sana. Tapi alpa.

Kemana dia?

#OneDayOnePost
#SatuEpisodeLagi di Surat Buat Hasna 28

2 komentar:

Yang Terbaik

Edited by canva "Iya Ki, insya Allah kamu dapat yang terbaik."