Kamis, 25 Agustus 2016

HaCan.. (2)



Lupus kembali memperhatikan gadis yang duduk di seberang. Seragamnya sama dengan yang ia gunakan. Tapi siapa? Perasaan ngga ada anak sekolahnya yang secantik itu. Gadis itu benar-benar lain dari yang lain. Lihat saja, kerudung abu-abu yang dikenakan gadis itu, menambah anggun sosoknya. Siapa sebenarnya ia? Satu-satunya cara untuk tahu itu anak sekolah mana, adalah melihat emblem di lengan sebelah kanan. Disana ada nama sekolah asal, pasti. Demi mengetahui asal sekolah gadis itu, Lupus memperlambat makannya. Berharap gadis itu lewat lagi di depannya sehingga ia bisa membaca emblem dan asal sekolahnya.

Benar saja, tak lama kemudian gadis itu melintas menuju wastafel, saat kembali ke mejanya, ia melalui dekat tempat duduk Lupus, lagi. Tak mau kehilangan kesempatan, Lupus membaca emblem yang tertera “SMA Patriotisme”. Mata Lupus berbinar, gadis cantik itu satu sekolah dengannya! Mungkinkah dia anak baru yang dimaksud? Ah entahlah, yang jelas akan lebih mudah menemukan jika satu sekolah.

Kembali Lupus menekuni makanannya. Melahap habis tanpa sisa, sepiring nasi padang porsi besar ditambah rendang, ayam bumbu merah, ikan bandeng goreng, plus sambel ijo plus merah dan kuah. Termasuk es jeruk, cukup itu sebagai hidangan penutup. Perutnya kenyang, banget malahan. Oh, belum selesai. Ia mencari sesuatu di sakunya. Apa lagi? Oh, tentu saja, permen karet. Pandangannya mulai beredar sambil mengunyah permen karet kesukaannya.

Lhoh..??

Ia mengernyitkan dahi, mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruang makan itu. Tapi tak ada. Matanya mencari keluar, mungkin ia sudah disana?

Gadis itu tak ada!

Bahkan meja di seberang yang tadi diduduki gadis itu sudah bersih seolah tak pernah ada yang makan disana sebelumnya. Padahal jelas sekali tadi, belum lama kan? Lupus bergidik ngeri, jangan-jangan gadis tadi...? tapi ini kan masih siang bolong, masa iya? Satu sisi hatinya protes, menepis bayangan hantu yang datang dan pergi tiba-tiba.

Ia bahkan masih ingat wangi parfum gadis itu. Tapi kemana ia sekarang? Pikiran itu benar-benar mengganggunya. Jangan-jangan, dia penunggu rumah makan ini? Hii.. Lupus ingin sekali segera berlalu dari situ.

Selesai membayar, Lupus langsung ke tempat latihan Taekwondo. Ia ada jadwal mengajar hari ini sampai satu jam kedepan. Setelah selesai, Lupus meluncur ke redaksi majalah Hello untuk mengambil honor tulisan dan menyerahkan karyanya yang sudah selesai.

Hari sudah sore ketika Lupus pulang. Mama belum pulang dari kantor. Dirumah itu hanya ia sendiri. Bersuara sendiri, mandi, ganti baju, lalu menghabiskan sore dengan membaca buku. Menjelang maghrib suasana masih sepi. Angin berhembus perlahan menyapa Lupus yang sedang duduk di teras. Dingin, diiringi gemerisik dedaunan dari pohon mangga depan rumah. Lupus yang duduk di teras merinding, teringat hantu yang ia temui tadi siang. Angin terasa makin kencang, merontokkan dedaunan. Tidak ada mendung, hujanpun tak turun. Tapi kenapa terasa mencekam?

“Mending abis maghrib langsung cuzz kewarung babe Somad. Daripada dirumah sendirian....hiii.. “ Lupus segera beranjak mengambil wudhu saat adzan berkumandang. Selesai sholat ia meluncur ke warung babe Somad yang hanya sekitar lima belas menit dari rumahnya naik motor.

“Assalamu’alaikum, be....” Lupus menyapa babe Somad yangs edang asik membakar satenya. Aroma sedap segera menyapa Lupus, mengusik cacing diperutnya.

“Wa’alaukumsalam, eh elu pus...sendirian aje?” Babe Somad memang sudah akrab dengan Lupus, karena seringnya Lupus dan kedua temannya nongkrong disitu. Yang paling suka sate sebenarnya Gusur, makanya dia paling embul diantara kawanan itu. Sate babe Somad memang paling nikmat. Dagingnya selalu matang sempurna dan sambal kacangnya.. membuat air liur selalu meleleh.

“He, engga be.. ntar lagi juga Gusur sama Boim dateng kok”

“Oh iye, duduk dulu sono. Gatau nih hari ini sepi amat yak... tadi sore doang pus ramean dikit. Abis maghrib ini baru elu doang yang dateng. Mau makan sekarang atau minum dulu?” Babe Somad memang ramah, makanya lupus dan teman-temannya suka betah.

“Errrrm... minum dulu aja deh be, sambil nunggu anak-anak. Es jeruk ya be...”

“Beress...” Babe mengangguk riang.

Lupus memilih duduk di pojokan, berbatasan langsung dengan kebun kosong di sebelah warung babe. Warung sate milik babe memang bukan warung mewah. Hanya berdinding bambu setinggi pinggang dengan hamparan karpet sebagai alas. Tidak ada kursi, semua pengunjung duduk lesehan kalau makan di warung babe.

Sepuluh menit menunggu, Gusur dan Boim belum tampak batang hidungnya. Kebun kosong di belakang Lupus gelap. Hanya terkena bias dari lampu warung babe yang tak seberapa. Duduk sendiri begitu membuat lupus berfikir aneh. Soal hantu tadi siang, angin dingin di teras rumah, dan sekarang, duduk sendiri di tepi kebun kosong. Lupus bukan penakut, pun tak pernah ingin jadi penakut. Karena itulah ia berani memilih tempat paling pojok warung ini. Karena disitulah satu-satunya spot yang ada stop kontak. Jadi sewaktu-waktu HP-nya lowbat, bisa langsung ngechas. Gitu maksudnya.

Ia coba menghubungi Gusur dan Boim, keduanya tak menjawab. Ah, mungkin masih dijalan, pikirnya. Es jeruknya tinggal setengah. Tiba-tiba... wusss......... angin lembut menerpa, membuat bulu roma berdiri. Lupus merinding. Ia menoleh ke belakang, tak ada siapa-siapa. Babe Somad masih di dekat tungku, asik dengan satenya. Duh, please.. jangan ganggu aku. Rintihnya dalam hati.

Kebun itu ngga terkenal angker sih, tapi siapa tahu ada makhluk astral lewat barusan? Lupus merinding lagi. Wuusss........ srek.. srekk...srekk... seperti suara daun jati yang terinjak dan terseret kaki. Lupus mulai berpikir untuk pindah tempat.

Kling klong....

Alarm di HP-nya berbunyi, tanda baterei lemah. Mau tak mau, ia harus bertahan disitu. Seharian tadi memang ia lupa mengechas HP-nya. Kalau dia pindah, baterenya habis ngga bisa hubungi anak-anak. Kalau tetap disitu, kok ngeri? Atau dichas aja trus ditinggal? Duh, jangaannn....ntar HP-nya dipinjam makhluk astral gimana? Batinnya tak rela. Ia dilema.

Akhirnya, ia memilih bertahan. Berbalik ke belakang, ia penasaran dengan suara barusan. Ada orangkah? Namun tak ada siapa-siapa. Batinnya tak tenang.

Brumm....Brumm.... lalu berhenti.

Oh, untunglah... Gusur datang. Ia lega.

“Waduh, bro.... kirain ga jadi dateng. Kemane aje lu?” Lupus berusaha menutupi rasa takut, bersikap bisa saja di depan Gusur.

“Sorry.. tadi macet banget, buset dah.  Udah nunggu lama ya? Boim mana?”Gusur melepas jaketnya, duduk di depan Lupus.

“Au nih belon dateng dari tadi gue nungguin kalian sendirian” Lupus menatap Gusur agak kecewa.

“Eh, btw..lu tadi pagi kenape lari-lari kaya orang kesetanan?” ia teringat kejadian tadi pagi.

“Oh, iya bro..itu die yang mau gue ceritain.. lu pasti ga percaye. Tadi pagi gue ketemu hantu cantik!”

“Maksud loh? Gimana ceritanya tuh?” Lupus penasaran. Mengingat kata “hantu” sudah terlalu banyak menghantuinya hari ini.

#Bersambung
#OneDayOnePost
#TeruslahMenulis

1 komentar:

Yang Terbaik

Edited by canva "Iya Ki, insya Allah kamu dapat yang terbaik."