Sabtu, 17 September 2016

Fu fu fu!!




Hai,..

Adakah yang merindukanku?

Maaf, berbagai alasan cukup kuat membuatku harus mengesampingkan posting di blog ini untuk dua minggu terakhir. Dan sekarang, alhamdulillah bisa muncul lagi. Maafkan aku...

Sebentar ya, biar kubersihkan rumah ini dari debu atau virus yang mungkin mampir setelah sekian lama kutinggalkan. Biar kalian enak duduknya. Nanti bolehlah kubuatkan kopi sama pisang goreng kalau ada yang mau?

Mungkin jika ini adalah rumah nyata, sudah banyak sarang laba-laba berseliweran membentuk dekorasi memenuhi setuap sudut ruang. Oke, bersihkan dulu kif... jangan ngomong mulu dari tadi....


Iya..iya...
.
.
Fu fu fu...

Baik, semoga sudah bersih. Silahkan duduk manis dan menanti kopi. Hehehe

Posting kali ini, dan mungkin beberapa yang akan muncul selanjutnya, adalah rangkaian ulang kata  yang pernah kuabadikan dalam lembar-lembar catatan harian saat masih menempuh pendidikan S1. Rasanya sangat perlu ditulis ulang, agar semakin meluas manfaatnya. Daripada disimpen aja kan kasian, ilmu ngga bisa berkembang kalau ngga di bagi. Iya kan?

Nah, untuk mengawali posting setelah liburan ini, aku ingin sampaikan sedikit tentang ruhiyah yang ringkih.

Ruh, jiwa manusia. Ruh atau jiwa manusia beragam jenisnya. Ada diantara kita yang kuat iman, tak mudah goyah dengan cobaan, tak mudah rapuh dengan prasangka, apalagi suara orang yang sebenarnya bukan siapa-siapa. Namun tak sedikit diantara manusia, yang ruh atau jiwanya begitu rapuh. Sehingga mudah sekali menyimpulkan cerita tanpa menelaah fakta, tanpa tabayyun dengan bahasa yang mudah di cerna. Lalu sendiri menikmati sakit hati. Menyangka orang lain sudah sengaja tak peduli. Bahasa gaulnya, labil. Iya, labil imannya. Siapakah mereka?

Ada beberapa tanda yang dapat kita kenali dari jiwa manusia yang rapuh. Akan menunjukkan tanda sebagai berikut:

1.    Keras hati.

Biasanya orang yang keras hati cenderung merasa benar sendiri. Situasi sekitar yang membuat dirinya tidak nyaman dianggap salah. Orang lain dituntut untuk mengerti, bukan dirinya yang berusaha memahami orang lain. Orang yang keras hati mudah menyalahkan orang lain tanpa pertimbangan.

Keras hati berbeda dengan tegas. Beda pula antara menyalahkan dengan menilai salah. Menyalahkan tanpa dasar, itu tidak benar. Sedangkan menilai salah, tentu berdasarkan standar penilaian tertentu. Situasi di sebuah kelas mungkin bisa menjelaskan perbedaan menyalahkan dan menilai salah. Jika dalam satu kelas, pada pelajaran tertentu, saat sang guru mengadakan ujian, ulangan, atau semacam tes yang berlangsung dengan jujur, dengan asumsi semua soal dibuat dari materi sudah diberikan sebelumnya.

Hasil tes tersebut akan menunjukkan hasil, dimana jika dalam kumpulan nilai semua siswa tersebut ada diantara mereka yang mendapat nilai sempurna, beberapa mendapat nilai bagus, dan sedikit saja dari semua murid yang mendapat nilai dibawah rata-rata, maka ini wajar. Guru bisa menyalahkan murid yang mendapat nilai rendah, karena berbagai faktor. Bisa jadi murid tersebut memang lemah kemampuan menyerap pelajaran yang dimaksud, bisa jadi murid tersebut malas belajar, atau karena sebab lain, dan selama yang mendapat nilai rendah masih dalam skala kecil, ini wajar. Karena kemampuan murid untuk menyerap pelajaran memang berbeda.

Namun jika yang terjadi adalah, mayoritas murid mendapat nilai rendah, atau sangat sedikit yang memperoleh nilai baik, maka guru tidak bisa menyalahkan murid. Karena kesalahan sebenarnya ada pada guru tersebut yang tidak bisa menyampaikan materi pelajaran sehingga para murid tidak bisa memahami pelajaran dengan baik.
Aku, kamu, atau siapa saja, mungkin pernah merasa benar sendiri, bukan? ayolah, akui saja. Tak masalah, semua orang pernah melakukan salah. Tapi yang pasti, mari berusaha menjadi lebih baik lagi dan lagi.

Kita mungkin benar, tapi orang lain juga mungkin tidak salah. Kita boleh memandang dari sudut pandang pribadi, tapi jangan lupa memandang sudut pandang orang lain juga agar tak sempit menatap dunia.

2.    Perangai yang tersumbat, dada terasa sempit, sulit memaafkan.

Ini salah satu ciri rapuhnya pribadi. Layaknya garam sesendok, jika dituang ke dalam segelas air, terbayang betapa asin rasa air dalam gelas tersebut. Tapi jika sesendok garam itu dituang ke dalam air di danau, diaduk seperti apapun tak akan terasa asin, bahkan sama sekali tak terasa pernah ada garm yang larut. Maka segelas air terlalu sempit menampung sesendok garam.

Sama halnya dengan masalah, jika dituang ke dalam hati yang sempit akan terasa sakitnya masalah itu. Namun jika berhasil meluaskan hati, maka masalah itu tak akan terasa “asin”nya.

3.    Tidak terpengaruh ayat Allah

Iya, bagi muslim, ayat Allah bukan sekedar ayat. Yang membuat nyaman hati saat dibaca. Ayat-ayat Allah ada berua kabar gembira, aturan yang didalamnya ada pula ancaman, dan ada pula kisah-kisah. Peringatan  dan kabar gembira selayaknya mempengaruhi suasana hati pembacanya. Namun jika tidak ada “rasa” yang tercipta ketika membaca, maka mungkin ada sesuatu yang “salah” di dalam hati.

4.    Kematian tidak menjadi peringatan

Kehidupan ini mau tidak mau, suka tidak suka, harus berujung pada kematian. Maka mungkin saja hati manusia menganggap bahwa kematian adalah sesuatu yang “biasa”, tanpa ada perasaan untuk mempersiapkan bagaimana jika kematian itu datang pada diri sendiri. Tanpa ingat bahwa ada kehidupan yang lebih abadi harus dipersiapkan sejak dini. Maka hal ini bisa jadi pertanda bahwa hati seseorang tak peka lagi dengan apa yang akan terjadi.

Bukankah Rasul kita sudah menganjurkan agar hati kita banyak mengingat tentang kematian? Iya, hati kita harus banyak mengingat mati agar tidak terlena dengan kehidupan dunia.

5.    Senang pada dunia

Jika sudah “lupa” dengan kematian, hati terasa sempit, maka ciri berikutnya orang-orang yang hatinya rapuh adalah begitu mencintai dunia. Hal ini akan berakibat pada perasaan kikir, sulit berbagi, mau menang dan memiliki sendiri tanpa peduli orang lain atau bagaimana cara memperolehnya.

6.    Malas beribadah

Nah, kalu sudah merasa “ogah” berangkat menunaikan kewajiban, perlu diwaspadai sebagai pertanda rapuhnya iman. Orang yang berada dalam kondisi iman baik, akan selalu semangat beribadah, menjaga kedekatan hubungan dengan Tuhan. Karena mereka merasa bahwa ibadah adalah kebutuhan, bukan sekedar menunaikan kewajiban.

7.    Lupa/keterlaluan kepada Allah

Bagaimana mungkin? Ah, betapa banyak manusia yang pernah merasa bahwa Allah tidak adil? Berapa banyak diantara kita yang menuntut Allah untuk memenuhi harapan, sementara ibadah masih jauh dari sempurna? Dan tidak sedikit pula yang ketika sudah mendapat apa yang diinginkan, lupa dari mana semua itu berasal.

Tidak, tulisan ini tidak bermaksud menggurui. Hanya berharap agar catatan kecil ini menjadi peringatan bagi diri sendiri. Agar mewaspadai apa yang sedang terjadi pada hati. Dan jika ada diantara tanda diatas yang sedang dirasakan, mari kita usir baik-baik.
Fu fu fu!

#OneDayOnePost
#i’mBack

3 komentar:

  1. Diingatkan kembali..terimakasih de

    BalasHapus
  2. Diingatkan kembali..terimakasih de

    BalasHapus
  3. Tulisan INI bisa buat Ku bercermin seperti apa aku

    BalasHapus

Rumah Impian

Tak perlu besar, yang penting cukup untuk menampung keluarga inti dan tamu yang datang berkunjung. Entah itu saudara, sahabat, atau...