Kamis, 29 September 2016

September Rasa Desember





September ceria, milik kita bersama...

Penggalan lagu itu begitu gempita mewarnai salah satu stasiun TV Indonesia. Iya, saya masih kecil saat itu, masih terpesona ketika melihat TV memukau penuh warna dan musik yang meramaikan gemuruh dalam dada.

Saat itu, musim masih berjalan begitu teratur. Guru bisa memberi pemahaman kepada kami, “Musim hujan itu biasa terjadi pada bulan Oktober-Maret  ya  anak-anak... sedangkan musim kemarau biasa terjadi saat bulan April hingga September”.

Tak heran, setiap bulan oktober pertengahan angin berhembus lebih kencang, awan berarak kesana kemari, lalu beberapa hari kemudian gumpalan awan menggantung siap memuntahkan kandungannya. Mengusir penat dan debu yang ditinggalkan dalam gersang selama enam bulan belakangan. Lalu bulan berikutnya, hujan lebih sering turun dan cuaca  semakin menyejukkan. Hingga saat penghujung tahun tiba, udara menjadi lebih sejuk. Hujan turun semakin sering, tak peduli siang atau malam. Kata orang jawa, Desember berarti  gede gedene sumber alias “besar-besarnya sumber air” yang tercurah dari langit.

Iya, sekitar lima belas tahun yang lalu atau lebih sedikit, musim di Indonesia masih berjalan begitu teratur. Para petani dapat pergi ke sawah dan ladang sesuai musim. Hasil panen dapat diperkirakan, dan kerugian dapat di hindari seiring pertanda musim yang datang.

Tapi kini?

Rasanya tahun ini begitu berbeda. Tak ada hawa panas pertanda kemarau tiba. Iya, cuaca ekstrim sering datang tiba-tiba. Matahari seolah menyengat kepala. Namun tak lama kemudian hujan deras turun tiba-tiba. Musim apa ini sebenarnya?

Penghujung September, seharusnya (atau menurut ritme musim di Indonesia) kita masih merasakan hawa panas kemarau hingga pertengahan oktober tiba. Tapi nyatanya?

Berita banjir begitu sering menghias layar kaca, tanah longsor baru saja merenggut beberapa nyawa dan kebahagiaan saudara kita sebangsa, dan di sini, di tanah kelahiran yang dulu terkenal gersang, hampir tak bisa kutemui pohon jati yang meranggas. Bahkan aku tak sempat menemui perubahan warna di Taman Hutan Rakyat (TAHURA), biasanya dedaunan berubah warna menjadi merah, kuning coklat, jingg, dan sebagian tetap berwarna hijau saat bulan September tiba. Dengan latar langit berwarna biru, pemandangan itu selalu berhasil menyihir sejenak hati dan pikiranku setiap kali melintasi jalanan sekitarnya, cantik sekali. tapi September ini, mereka berwarna hijau semua. Apalagi penyebabnya, selain hujan yang masih sering turun dengan deras?

Allah kariim...

Dingin begitu menusuk tulang saat malam tiba, hujan bisa datang tanpa diundang (iyalah, emang sejak kapan hujan perlu undangan? Meski kadang perlu dipanggil lewat do’a saat ia lama tak menunjukkan aksinya). Dan saat pagi menjelang, berat sekali rasanya membuka mata, di sini. Desa kelahiranku yang damai ini. Kabut tebal menyelimuti pagi setelah hujan deras yang turun malam tadi.

Penghujung September yang terasa seperti Desember. Semoga jiwa dan tubuh ini tak lelah bersyukur, untuk setiap nikmat yang melimpah. Dan untuk alam yang seolah “tak ramah”, sejatinya hatiku ingin meminta maaf, atas segala khilaf. Kami manusia memang tak semua bisa menjaga, bagaimana seharusnya semua berjalan seimbang seperti rencanaNya. Lahan resapan air banyak berubah fungsi jadi bangunan, hutan banyak gundul dan terbakar, tambang dikuras terus tanpa mengenal lelah, belum lagi sikap dan laku yang tak jarang mengotori bumi.

Semoga setiap apa yang terjadi menjadi pelajaran bagi diri. Untuk lebih hati-hati menyikapi, mengambil sikap dan mungkin termasuk rasa di hati.

#OneDayOnePost
#AlamKita

2 komentar:

  1. September, Asat-asate sumber (habis-habisnya sumber air)
    Januari (huJAN turun sehARI-hARI)
    =D

    BalasHapus
  2. Inilah knpa selimut dipagi hari terasa teman sejati

    BalasHapus

Rumah Impian

Tak perlu besar, yang penting cukup untuk menampung keluarga inti dan tamu yang datang berkunjung. Entah itu saudara, sahabat, atau...