Senin, 03 Oktober 2016

Jangan terlalu banyak tanya!




Kisah ini benar-benar terjadi, sehingga Allah menilainya pantas diabadikan dalam Al Quran yang mulia. Jika kita sebagai manusia biasa saja tidak suka menanggapi orang yang terlalu banyak bertanya, bagaimana dengan Allah, sang pemilik semesta?

Umat Nabi Musa menjelaskan dengan sangat gamblang melalui perilaku mereka. Suatu hari, seseorang terbunuh tanpa ada yang tahu siapa yang membunuhnya. Sementara orang yang terbunuh adalah orang penting. Tanpa bukti, tanpa saksi, siapa yang bisa dituduh dalam keadaan seperti ini? Saat itu Allah memerintahkan melalui Nabi Musa untuk menyampaikan kepada kaumnya, "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina."

Orang-orang itu bukannya segea melaksanakan perintah sang Nabi, rasa tidak percaya pada Nabi Musa menganggap bahwa perintah itu adalah ejekan. Mereka pikir, apa yang bisa dilakukan bangkai seekor sapi? Mana mungkin seekor sapi dapat menyelesaikan masalah pelik yang sedang terjadi diantara mereka? Nabi Musa meyakinkan mereka dengan berkata, "Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil (bodoh)". Jahil dalam bahasa arab berarti bodoh, maksudnya Nabi Musa ingin meyakinkan ummatnya bahwa perintah itu bukan senda gurau apalagi hinaan belaka.

Baik, jika ini adalah sebuah perintah yang benar berasal dari Tuhan, mereka tetap tak bisa percaya begitu saja. Mereka menjawab: " mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk Kami, agar Dia menerangkan kepada kami; sapi betina Apakah itu." Bukankah lebih mudah bagi mereka mencari sapi betina lalu menyembelihnya? Tapi tidak, rasa ketidakpercayaan mereka kepada Nabi Musa dan perintah TuhanNya mendorong untuk bertanya lagi.

Sampai disini, Nabi Musa tidak ingin kehilangan kesabaran. Musa menjawab: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; Maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu". Apakah mereka langsung melaksanakan perintah itu?

Tidak! Mereka berkata: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk Kami agar Dia menerangkan kepada Kami apa warnanya". Oh, rupanya mereka sedang menyulitkan diri sendiri. Atau memang berniat untuk tidak melaksanakan perintah Sang Nabi? Dalam kesabaranya, Musa menjawab: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya."

Penjelasan yang sudah jelas tersebut tidak juga menggerakkan mereka untuk segera berangkat mencari sapi yang dimaksud. Mereka berkata: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk Kami agar Dia menerangkan kepada Kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena Sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi Kami dan Sesungguhnya Kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu)."

Bodohkah mereka? Percayalah, orang bodoh tidak akan mampu memnyusun pertanyaan sedetail itu. Justru pertanyaan mereka sesungguhnya mencerminkan bahwa mereka mamiliki otak yang cemerlang. Sebagai seorang Nabi, tentu saja Nabi Musa tidak bisa menyerah begitu saja dengan pertanyaan ummatnya. Maka Nabi Musa berkata: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya." mereka berkata: "Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya". Iya, hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.

Setelah sapi selesai disembelih, kembali Allah berfirman dan melalui Nabi Musa menyampaikan kepada ummatnya, "Pukullah mayat itu dengan sebahagian anggota sapi betina itu !" Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dam memperlihatkan padamu tanda-tanda kekuasaanNya agar kamu mengerti. Iya, mayat orang yang terbunuh itu kemudian hidup lagi dan dapat ditanya siapa yang telah membunuhnya.

Kisah ini ada dalam Al Quran Surah Al Baqarah ayat 67-73. Lalu bagaimana Allah menyikapi orang-orang yang telah banyak bertanya? Membiarkan saja? Sungguh, hidayah itu hanya milikNya. Dan Allah lebih mengetahui daripada setiap Nabi yang diutusNya. Allah mengetahui bahwa orang-orang itu tidak memiliki kecenderungan untuk beriman kepada Nabi Musa. Maka dalam ayat selanjutnya dijelaskan apa yang terjadi pada mereka yang telah banyak bertanya, bahwa setelah itu hati mereka menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal batu itu lebih mudah dibelah dan diantara mereka da yang dapat memancarkan air, ada yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Dan sungguh, Allah Maha Mengetahui pada setiap kejadian.

Mungkin, “jangan terlalu banyak bertanya” hanya salah satu hikmah sederhana dari diabadikannya cerita ini dalam kitab suci yang mulia. Para ahli tafsir dan para ahli Al Qur’an dapat memetik hikmah yang lebih banyak lagi, dan sungguh yang sedikit ini semoga mampu mengingatkan kita untuk tidak meragukan ketetapanNya.

Apa yang Allah tetapkan sungguh telah melalui banyak pertimbangan bahkan lebih banyak dari apa yang bisa kita bayangkan. Jika perintah shalat sudah ditetapkan, maka laksanakan. Selain menunaikan kewajiban, pasti ada banyak hikmah yang bisa dinikmati. Kesehatan tubuh, kedekatan denganNya, rasa tenang, dan sebagainya. Kemudian shalat menjelma sebagai kebutuhan, bukan sekedar kewajiban. 

Ketika diperintahkan untuk menutup aurat, maka tidak perlu banyak tanya kenapa atau bagaimana. Karena sungguh, dibalik perintah itu ada hikmah yang terjaga. Kehormatan orang yang menutup aurat tentu lebih terjaga dibanding mereka yang tampil terbuka di depan umum, bukan? lagi pula, kulit lebih terlindungi dari sinar matahari, mata lawan jenis lebih tenang menatap makhluk yang terlindung sempurna. Jika sudah menjadi perintahNya, pantaskah kita masih melontarkan banyak alasan dan tanya? Laksanakan saja, jika benar hati kita percaya padaNya.

#OneDayOnePost

4 komentar:

  1. Masyaallah.. diingetin lagi.. makasih mbak kifa..😍😍😍

    BalasHapus
  2. Yang paragraph terakhir nendang banget dik saki

    BalasHapus
  3. Nggak boleh banyak tanya..eh iya de

    BalasHapus
  4. Nggak boleh banyak tanya..eh iya de

    BalasHapus

Rumah Impian

Tak perlu besar, yang penting cukup untuk menampung keluarga inti dan tamu yang datang berkunjung. Entah itu saudara, sahabat, atau...