Senin, 31 Oktober 2016

Kandungan syahadat



Sebagai muslim, berapa kali sudah kita ucap kalimat syahadat?

Dalam sehari saja, coba dihitung. Saat shalat, dzikir, atau membaca doa tertentu, sangat lazim diawali dengan syahadat. Tapi sudahkah kita sadari apa maknanya?

Seorang Abu Thalib, paman yang sangat menyayangi Rasulullah, rela meninggalkan dunia tanpa sekalipun mengucapkannya. Kenapa? Padahal Rasulullah adalah keponakan yang paling di sayang, paling dipercaya masyarakat satu suku bahkan terkenal di berbagai kota (saat itu), sebagai Nabi pembawa kebenaran. Apa yang membuat Abu Thalib tak mau memenuhi permintaan Rasulullah untuk mengucap syahadat?

Bahkan di akhir hidupnya, Rasulullah memohon dengan sangat kepada sang paman untuk mengucap dua kalimat syahadat. Air mata permohonan itu tak meluluhkan hati Abu Thalib, ia tetap bergeming dan enggan mengucapkannya. Kenapa?

Orang-orang Quraisy terkenal sebagai orang-orang yang memiliki karakter kuat, teguh pendirian, dan sangat menepati janji. Apa yang dikatakan, itulah yang jadi kenyataan. Pantang bagi mereka mengucap kebohongan. Dan soal syahadat, mereka menyadari benar konsekwensi dari dua kalimat sebagai tiket masuk islam tersebut.

Dalam sebuah kajian, seorang ustadzah menyampaikan ada tiga hal utama yang terkandung dalam kalimat syahadat:

1.                       Ikrar.
2.                       Sumpah
3.                       Janji

Ketiga kata tersebut berarti bahwa seorang yang mengucapkan syahadat, ia bersumpah bahwa hanya akan mengakui Allah sebagai “ilaah” (Sesembahan, Tuhan,  sesuatu yang paling diagungkan).  Sumpah yang tidak hanya sekedar ucapan, tapi juga janji dalam hati untuk bisa menepati, ikrar yang menegaskan diri akan menjaga sikap sesuai dengan apa yang sudah dijanjikan.

Sehingga jelas, syahadat merupakan pernyataan keimanan. Sedangkan dalam banyak literatur disebutkan bahwa iman adalah apa yang diucapkan, sesuai dengan apa yang diyakini dalam hati dan apa yang dilakukan dalam perbuatan sehari-hari.

Iman akan cacat dalam pengertiannya, jika hanya sebatas diucapkan, tapi tidak diyakini, apalagi tidak tercermin dalam sikap sehari-hari. Maka, tidak bisa disebut benar-benar beriman jika seseorang yang mengucapkan syahadat, tidak yakin bahwa Allah adalah satu-satunya yang hars diutamakan dari segala hal lain, lalu ketika mendengar adzan pura-pura tidak dengar atau bahkan mengabaikan.

Paman Nabi, juga orang-orang kafir pada masa itu sadar benar apa yang disebut dengan iman. Mereka memahami sepenuhnya konsekwensi dari pernyataan keimanan, dari dua kalimat syahadat.

Bagaimana dengan kita?
Atau orang tua kita?
Saudara-saudara kita?
Tetangga kita?
Orang-orang yang kita sayangi dan menyayangi kita?

Mereka semua, ketika sudah memilih untuk menjadi muslim, maka seharusnya tau tentang konsekwensi ini. Mengucapkan dua kalimat syahadat, berarti menyatakan ketundukan pada aturan Allah dan RasulNya. Bersedia memenuhi setiap perintah dan menjauhi laranganNya.  Termasuk menutup aurat, menjauhi riba, berkata jujur, menjaga hubungan baik, bersikap sopan, menjaga shalat, berpuasa, dan sebagainya.

Termasuk konsekwensi iman, diantaranya adalah berani bersikap benar, optimis, dan tenang dalam menghadapi situasi apapun. Para alim ulama banyak memberi contoh dalam hal ini, bagaimana sikap tenang dan rasa optimis mengantarkan mereka untuk menjadi orang-orang yang dipilih Allah terjaga dalam kebijaksanaan dan ilmu.

Jika kita belum sanggup menetapi apa yang seharusnya sudah menjadi konsekwensi, lalu dimana seharusnya kita posisikan diri dihadapan illahi?

#Onedayonepost

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kaos ODOP

Hasil jadi kaos Kira-kira tiga atau empat bulan pasca Kopdar Akbar ODOP pertama, ada wacana ingin membuat kaos ODOP. Koordinatornya...