Rabu, 26 Oktober 2016

Memeluk Mimpi



Mimpi indah, adalah ketika kita merasakan bayangan nyata yang terasa sangat menyenangkan. Adakalanya bayangan itu benar-benar ada, meski tak jarang hanya ilusi semata. Dan pagi ini, mimpi indah itu terasa kian nyata.

Kau tahu, jika mimpi itu sekedar ilusi, aku tak ingin bangun lagi. Biar indahnya merasuki sanubari, membawaku terbang, menjelajahi setiap ingin hati. Tapi ini?

Tidak, aku mendapati semuanya saat terbangun. Bahkan tanpa firasat sama sekali.

Semua ini berawal dari ekitar hampir dua bulan yang lalu, awal september yang kata orang bulan ceria dan aku setuju karena lahir pada salah satu tanggal di dalamnya. Seorang yang sudah kuanggap adik memintaku menulis artikel tentang bahagia. “Kak, ikutlah event ini. Ya? Awie mah kompor aja. Kakak yang nulis, aku bantu nyemangati. Hahaha” katanya merajuk.

Menulis bahagia?

Aku memang benar-benar menuliskannya, bukan sebatas kata. Tapi lebih sebagai terapi jiwa agar selalu merasa bahagia. Maka jadilah tulisan sepanjang 500 kata (aku berusaha keras untuk tidak menawarnya barang satu kata), berjudul “membungkus rasa bahagia”. Selesai menulis, kutinggalkan naskah itu mengendap (dan sebenarnya benar-benar mengendap karena tak ada apapun yang terjadi setelahnya). Sampai menjelang deadline, sang adik kembali mengingatkanku untuk mengirimkannya.

Kirim ngga ya?

Batinku masih ragu. Kembali kutengok naskah itu, sudah sedikit berdebu (banyak pun kubilang sedikit saja, boleh ya). Kutengok pula persyaratan dan segala ketentuannya. Sudah cukup memenuhi. Lalu kuminta dia yang sebenarnya seniorku dalam dunia tulis menulis untuk membaca, “Ssudah lumayan, kirim aja kak” ujarnya tanpa ragu. Ia memang selalu begitu, berusaha meyakinkanku.

Baiklah, apa salahnya mencoba? Toh ngga harus diterima. Kalaupun iya, itu luar biasa. Batinku menghibur diri.

Deadline berlalu, sampai datang bulan berikutnya. Hari demi hari terlewati begitu saja, aku sudah lupa tentang naskah itu, ah mungkin sudah ke alam mimpi berikutnya. Sampai suatu hari awie bilang, “Aku juga kirim naskah buat SOBAT loh, meskipun last minute. Hehehe”, ujarnya suatu sore. Kupikir untuk seleksi September sudah berlalu, sehingga Oktober buka termin baru. Semoga naskahmu terpilih, wie.

Hingga pagi ini, seusai menuntaskan rangkaian mimpi dan menyelesaikan sekian ritual pagi, kubuka kembali akun Facebook yang tertutup semalam tadi.  Ada satu notifikasi, permintaan join group komunitas SOBAT. Setelah ku tutup kembali tanpa melanjutkan notifikasi, hati mengingatkanku akan naskah yang ku kirim,,, ah.. mungkinkah? Segera kubuka kembali icon notifikasi dan kuikuti instruksi join group. Disana sudah ada namaku diantara sebelas nama yang lulus seleksi September.


Mau tahu tentang Komunitas SOBAT yang merupakan akronim dari “SOTO BABAT” dan tentang orang-orang yang sudah berjasa disana siapa saja? simak nih.

Dan, disinilah aku sekarang. Menambah satu lagi komunitas menulis, setelah OneDayOnePost yang kini menjadi seperti keluarga tak kasat mata (karena masih dominan di dunia maya) yang lebih dari setengah tahun mengisi hari-hariku, menekuni hobi dan berusaha melejitkan potensi. Baca, bahas, tulis. Disinilah aku kini, memeluk mimpi untuk menerbitkan buku sendiri, ditemani segelas coklat hangat yang bukan sekedar ilusi.

Terima kasih Om Nass, atas kesempatan merealisasikan mimpi. Murid baru ini siap dijewer, di jitak, sekaligus disayang biar bisa jadi penulis yang bermanfaat dan terus menebar bahagia. Salam kenal teman-teman baruku semuanya... semoga pertemuan yang berawal dari kebaikan ini selalu bisa melahirkan kebaikan-kebaikan berikutnya dan menjaga tulisan kita meluaskan kebaikan itu.

Apa yang akan terjadi selanjutnya, mari kita nantikan bersama.

#OneDayOnePost
#HariBahagia
#BahagiaSetiapHari

5 komentar:

  1. Huaaa.... Selamat kakak :) mantab (y)

    BalasHapus
  2. Selamat, mba Kifa. 👍👍👍 keren.

    BalasHapus
  3. Mewujudkan mimpi sendiri itu indah. Tapi, lebih indah bisa saling membantu Mewujudkan mimpi orang lain. Setiap niat baik yang kita tawarkan akan bebuah kebaikan lainnya. 😊

    BalasHapus

Rumah Impian

Tak perlu besar, yang penting cukup untuk menampung keluarga inti dan tamu yang datang berkunjung. Entah itu saudara, sahabat, atau...