Minggu, 30 Oktober 2016

Mengalir




“Kak, tulisanmu itu masih kebanyakan ‘pengakuan’. Karakternya kurang kuat. Gregetnya kurang dapet. Nulis yang bener napa!” Suara adikku di seberang telepon membuat telingaku sontak berdiri.


Bagaimana tidak, baru selesai menjawab salam sudah di katain gitu. Bukannya nanya kabar atau sudah makan belom, ngga pakai basa basi langsung aja nyerocos dia. Kebiasaan.

“Hahhh? Hhmmmmm, biarin!” Jawabku malas.

“Dih, di bilangin....” Bantahnya kesal. Eh, emang dia siapa? Kalau ngga suka tulisanku ngga usah baca. Simpel kan? Batinku tak mau kalah.

“Iya, emang gitu. Kamu tau, suka tidaknya, baik jeleknya tulisan itu tergantung apa?” Tak tahan juga akhirnya, aku tanggapi ucapannya.

“Apa?” ah, penasaran juga dia.

“Selera. Perasaan.” Jawabku asal.

Haha, dia diam. Memang tujuanku membuatnya diam, kali ini. Meski kutahu dia tak setuju ucapanku.

Ah, adik. Aku tahu kau menyayangiku. Ingin aku menjadi penulis bukan hanya untuk mereka, tapi juga untukmu. Tapi kau juga tau kapasitasku. Belum sekeren penulis buku yang biasa kau lahap karyanya. Siapa itu? Pram, hamka, maesa, siapa lagi? Tere liye? Bahkan otakmu lebih banyak terisi karya mereka daripada otakku yang lebih banyak berkutat dengan jurnal dan modul. Parah, ya?

Maka ku jawab singkat, biar saja.

Biar kesempatan yang datang sebisa mungkin kumanfaatkan. Menuangkan pikiran dalam tulisan. Biar bacaan yang bisa kulahap habis ketika ada waktu untuk menyelesaikan. Biar saja, aku mengalir bersama karyaku. Kau tahu, suatu hari aku akan sampai pada titik maksimal potensi dan impianku, lalu menikmati perjuangan untuk menyelesaikan setiap tantangan dalam tulisan. Menghirup udara bebas dalam karya yang menyenangkan. Ah, kau tau saat itu aku ingin kau tetap ada disampingku.

Iya, kuakui bahwa aku harus lebih banyak membaca, lebih banyak menuliskan karya, lebih banyak belajar dalam berbagai suasana. Aku tak bisa mengadakan pemakluman untuk setiap waktu yang bisa kuabaikan. Tak bisa membenarkan kesempatan yang terlewat begitu saja tanpa pesan. Tak bisa mengatakan “biar saja” sementara orang lain lebih banyak berkarya daripada berprasangka.

Terima kasih, untuk setiap teguran, dukungan, juga keberadaan yang tak pernah bisa ku abaikan. Walau jarak kelahiran kita tak sebatas usia belia, kedewasaanmu tumbuh begitu sempurna.  Terima kasih telah menjadi saudara yang baik untukku, selamanya kau harus begitu. Mendukungku saat benar, menegurku saat lalai, dan menyeretku kembali ke jalan utama jika diperlukan. Semoga Allah mudahkan setiap urusan kita. Menjadi mutiara di hati ayah bunda.

#Onedayonepost

1 komentar:

Rumah Impian

Tak perlu besar, yang penting cukup untuk menampung keluarga inti dan tamu yang datang berkunjung. Entah itu saudara, sahabat, atau...