Selasa, 08 November 2016

Ketertarikan lelaki pada wanita




Perhatikanlah alasan! Jangan asal nulis kalau ngga paham.


Hari ini, diam-diam saya merasa geram dengan status seorang teman. Bukan masalah dia siapa atau tinggal dimana, cuma kalimat yang ditulisnya itu loh, ngga berhasil bikin tention tapi jadi geli pengen nulis di sini. Inilah capture tulisannya.

Duhai pemilik akun, anggap sudah kusamarkan namamu. Maafkan aku.

Belajar dari berbagai media, aku mencoba menggarisbawahi beberapa kata yang menjadi “highlight” dalam kalimat tersebut.

Seorang lelaki sejati itu akan sangat tertarik pada seorang yang dimana di dalam Facebook-nya itu, tidak ditemukan foto dari si wanita. Itu membuktikan bahwa ia bisa menjaga diri dari pandangan fitnah lelaki yang bukan pasangannya.

Sekarang, ijinkan aku menafsirkan beberapa maksud dari kalimat tersebut. Silahkan koreksi jika saya salah, boleh tinggalkan komentar di bawah, ya.

1.                Lelaki yang sejati, akan sangat tertarik kepada wanita yang di facebooknya tidak ditemukan foto. Benarkah? Apakah salah jika kalimat ini diartikan sebagai: lelaki yang tertarik pada wanita yang memasang foto di facebook berarti bukan lelaki sejati. Ohoho, jadi mengukur standar “kesejatian” lelaki dari ketertarikannya untuk tidak melihat foto? Sepertinya perlu penelitian khusus untuk membuktikan kalimat ini. Duhai para lelaki, benarkah demikian? Maukah kalian di survey untuk penelitian semacam ini?

2.               Wanita yang tidak mamasang foto di akun facebooknya, berarti ia bisa menjaga diri dari fitnah lelaki yang bukan pasangannya. Hello, ini zaman modern dan global, siapa bisa menjamin wanita yang tidak memasang foto di facebooknya itu berarti bisa menjaga diri dari fitnah? Sudah survei semua akun media sosialnya? Kehidupan nyatanya? Karakter aslinya? Atau lupa, bahwa dunia maya bisa jadi sarang siapapun untuk berkepribadian ganda? Bukan, ini bukan suudzon. Cukup pikirkan saja.

Iya, cukup pikirkan baik-baik setiap kata yang tertulis di berbagai media milik kita. Sudah benarkah maksudnya?

Ah, mari belajar kritis. Tapi jangan egois. Mari belajar mengerti, menghakimi sesuatu dengan standar yang benar.

Kalimat diatas, menurut subjektifitas saya sebagai manusia biasa, masih mentah terhadap kesimpulan sesungguhnya. Kalau ada tombol dislike atau jempol yang mengarah ke bawah, pasti saya sudah meng-kliknya.

Bukan berarti saya tidak suka pada mereka yang memutuskan untuk tidak share foto apapun di media sosial. Terserah, itu hak pribadi siapa saja, toh tidak ada hubungannya dengan hidup saya. Tapi pernyataan yang salah, akan berakhir pada kesimpulan yang salah. Dan ketika semakin banyak orang mengambil kesimpulan yang salah, maka kau tahu sendiri akibatnya. Apalagi berusaha men-genaralisir kesimpulan pribadi, seolah memaksa publik untuk mengerti dan membenarkan pendapat pribadi semacam ini. Hati-hati, setiap pribadi punya alasan sendiri. Wanita muslimah yang masih memasang foto di facebook itu, tidak semuanya bermaksud menyebar fitnah kepada lelaki. Dan tentu saja, tidak semua foto bsia menimbukan fitnah, malah tidak sedikit yang berguna meminimalisir beredarnya fitnah. Pikirkanlah, jangan terlalu sempit mengambil sudut pandang.

Tentang lelaki, kesejatiannya tidak bisa diukur dari pandangan mereka terhadap foto di akun media sosial wanita. Mungkin kau tidak, atau belum pernah melihat lelaki yang menemukan hidayah dari pandangan matanya, atau yang punya prinsip melihat dan menilai wanita bukan dari apa yang dia lihat lewat mata, tapi apa yang tampak dalam hatinya.

Hidup kita terlalu singkat jika tidak bersikap bijak dalam memberi penilaian terhadap sesuatu. Jika satu hal saja tidak  bisa disikapi dengan baik, bagaimana dengan banyak hal lain yang mungkin lebih penting dan lebih luas dampaknya? 

Screeshot status tersebut sengaja saya coret bagian nama akunnya. Karena tulisan ini bukan bertujuan membully pemilik akun. Bukan. Hanya sebagai pengingat diri agar lebih bijak menilai. JIka pemilik akun memilih untuk mereh, saya tidak ingin melawan sekarang. toh percuma, bukan? buat apa? Ehm, lebih baik alokasikan waktu dan tenaga kemarahan itu untuk sesuatu yang lain, yang lebih bermanfaat buat masa depan. yuk!

Eh ya, sengaja pula tidak saya tandai pemilik akun untuk memaksanya membaca. Atau  mengetik tulisan ini di kolom komentarnya. Tidak, saya tidak sedang menabuh genderang perang. Hanya sedang belajar menyikapi status yang terbaca saja. Maafkan ya, boleh inboks kalau kebetulan membaca lalu tidak terima. Boleh unfriend jika tidak ingin lagi berteman dengan saya. Lakukan saja, asal dengan alasan yang benar, saya terima.

Jujur, saya sedikit kehilangan kendali di bagian akhir tulisan ini. haruskah kuselesaian sampai di sini? Atau masih ada hal lain yang mengganjal di hati? Jika ada yang salah, komentar, koreksi, atau persetujuan terhadap tulisan ini, silahkan sampaikan di bawah ya...

Terima kasih.

#OneDayOnePost

4 komentar:

  1. Mantap. Salurkan energi lewat tulisan. Hasilnya jd keren.

    BalasHapus
  2. Setuju mbak kifa!!!!!! Merdekaaaaaa!!!!#lohh������

    BalasHapus

Yang Terbaik

Edited by canva "Iya Ki, insya Allah kamu dapat yang terbaik."