Senin, 14 November 2016

Membungkus Rasa Bahagia




Hampir setiap orang ingin bahagia. Namun faktanya, tidak semua orang bisa merasakan apa yang di sebut dengan bahagia. Banyak orang merasa tidak nyaman, gelisah sepanjang hari, ada saja yang di khawatirkan. Bahkan diantara mereka yang merasa tidak bahagia tersebut, kebutuhan hidupnya sudah bisa tercukupi dengan layak. 

Tinggal di rumah yang baik, memiliki pekerjaan, kendaraan, lengkap dengan fasilitas yang tersedia saat dibutuhkan. Dalam kondisi seperti ini, “seharusnya” mereka lebih berhak merasa bahagia dibandingkan dengan mereka yang hidupnya serba kekurangan.

Fakta di sekitar kita menunjukkan bahwa tidak semua orang bisa selalu merasa bahagia, kenapa? Padahal jika dipikir, bahagia itu gratis. Tidak perlu beli dan tidak ada toko yang menjualnya. Ia bisa diambil dimana saja, kapan saja, semau kita. Selalu tersedia saat dibutuhkan siapapun. Tak perlu khawatir kehabisan stok, apalagi harus mencari isi ulang. Tidak, bahagia adalah salah satu sumber daya yang melimpah jumlahnya. Bahkan jika semua orang di dunia merasakannya, sepertinya tetap tidak akan habis. Tidak ada seorangpun yang bisa menjual atau membeli rasa bahagia, bukan hanya karena ia adalah benda tak kasat mata. Namun juga karena bahagia adalah kata sifat yang tak ternilai harganya. Di sisi lain, ini adalah pertanda bahwa sesungguhnya, setiap orang berhak merasa bahagia. Tanpa batasan usia, gender, taraf ekonomi, status sosial, atau bahkan gengsi.

Setiap orang mungkin pernah merasa bahagia. Entah sebentar atau lama, sekali, dua kali, atau bahkan berkali-kali. Tapi kadang musibah, ujian hidup, hasil yang tidak sesuai harapan, atau kecewa atas kenyataan berhasil mengenyahkan rasa bahagia dari hati. Dendam dan rasa tidak bisa menerima memperpanjang perginya bahagia dari hati manusia. Sekali saja hati merasa kecewa, misal karena gagal dalam ujian. Jika hati tidak bisa menerima lalu merasa bahwa apa yang dilakukan selama ini untuk lulus dari ujian adalah sia-sia. Belajar siang malam, ikut bimbingan, membeli banyak buku, semua terasa tidak berarti ketika hasil ujian ternyata tidak memuaskan. Dalam kondisi seperti ini, masihkah bisa merasa bahagia?

Dalam contoh kasus lain, orang tua yang memiliki anak berusaha merawatnya dengan sepenuh jiwa. Dipenuhi setiap kebutuhan sejak bayi merah hingga dewasa, apalagi ketika sakit, orang tua tak lagi peduli berapa biaya yang harus dikeluarkan. Lalu ketika dewasa, sekali saja sang anak membantah keinginan orang tua, mereka merasa usaha selama ini sia-sia. Masihkah rasa bahagia berhak tinggal di hati orang tua seperti mereka?

Bahagia, kecewa, sakit hati, sedih, senang, susah, sesungguhnya datang dan pergi dengan alasan. Manusia bisa merasa bahagia memiliki sepasang sandal setelah merasakan panasnya melangkah di jalan raya saat siang hari tanpa alas kaki. Kita bisa tahu betapa berharga sebuah prestasi setelah melalui masa sulit dan beratnya ujian yang harus dihadapi. Kita bisa menikmati manisnya secangkir kopi karena menyadari ada gula yang larut bersama seduhan bubuk kopi yang aslinya terasa pahit.

Hadirnya kesedihan, kekurangan, kecewa, sakit hati, rasa sedih, susah, atau gagal sekalipun adalah wujud dari bungkusan rasa bahagia. Mungkin saat mengalami itu semua, sejenak bahagia terasa lenyap dari hidup kita. Namun sesungguhnya, bahagia hanya terbungkus dan akan terbuka pada saatnya. Iya, saat kita siap dan mau merasakan bahagia. Karena tak ada yang tercipta sia-sia.

#RuangBahagiaSOBAT
#OneDayOnePost

3 komentar:

  1. Saya siap.. Saya siap.... Tentu dengan segala konsekuensinya :)

    BalasHapus
  2. Jadi, bahagia adalah menerima apapun rasa dengan lapang dada yah?

    BalasHapus

Rumah Impian

Tak perlu besar, yang penting cukup untuk menampung keluarga inti dan tamu yang datang berkunjung. Entah itu saudara, sahabat, atau...