Selasa, 08 November 2016

Menyemai kenangan 4





Eh, bener kan ini yang ke-4?

Mungkin kau bertanya, untuk apa kutulis ulang semua cerita jika akhirnya tak seindah taman surga? Untuk apa menulis cerita yang pernah torehkan luka? Kau mungkin saja berfikir, aku belum mengikhlaskan semua. Belum bisa melepaskan kenangan yang terlanjur tercipta?

Kau salah!

Justru karena aku sudah tidak lagi menganggapnya sebagai duri, tulisan ini bisa terlahir sebagai cerita yang akan menguak sepi, membuang pisau yang mungkin ujungnya bisa kembali menoreh luka. Aku melepaskannya dengan segenap keikhlasan tanpa perantara.

Dan mungkin kau tak tahu bagaimana rasanya menapak taman surga, hingga sembarangan merangkai kata? Sama. aku juga belum pernah kesana. Tapi setidaknya aku tahu, bahwa bahagia di taman itu tercipta bukan untuk mereka yang tidak pernah merasa kecewa dalam hidupnya. Tapi bagi mereka yang ikhlas berdiri diatas setiap cerita yang harus dilakoninya.

Keikhlasan yang tanpa sadar kubangun sejak kata “cinta” belum pernah berseliweran di dalam kepala. Atau mungkin saat itu aku masih ragu, cinta akan datang menyapaku.

Siang itu di kantin sekolah, aku masih menikmati makan siang nasi soto dan segelas es jeruk. Duduk di depanku adalah tetangga sekaligus saudara jauh, Fia namanya. Dia teman sekelas saat SD, kemudian SMP kami berpisah sekolah, dan SMA ini kembali masuk ke sekolah yang sama, tapi beda kelas. Karena itulah moment makan siang bersam amenjadi sedikit istimewa dengannya. Kami jarang bersama karena tempat kos, kelas dan pilihan kegiatan ekstra yang berbeda.

“Kak, denger-denger lagi deket sama senior teater ya? Yang imut itu, siapa namanya?” Ujarku memecah kesepian. Bertanya iseng tentang gosip yang beredar, dia hanya tertawa. Matanya  yang sipit hampir terpejam setiap kali dia tertawa, membuat  kesan lucu siapa saja yang melihatnya. Aku memanggilnya “kak Fia” karena statusnya yang lebih tinggi dariku dalam silsilah keluarga. Seharusnya aku memanggilnya “bulek”, karena kakak perempuannya menikah dengan pamanku. Tapi jelas dia tak mau, kan kami sekelas? Ya sudah kupanggil kakak saja.

Tawanya jelas mengisyaratkan sesuatu. Tapi bukan aku kalau tidak berhasil mengorek berita darinya. “Kakak suka ngga sama dia? Kayaknya sih dia baik ya, kan dia seniorku di HW juga. Jadi aku tahu lah, terima aja kak?” Usulku membuat tawanya berhenti seketika, aku menatapnya mengambil minum, meredakan tawa dengan menyeruput sedikit es jeruk.

“Ngga usah aneh-aneh deh, dia itu cuma kakak kelas. Ngga lebih. Kamu nih bikin gosip aja. Sekolah yang rajin, jangan pacaran!” ujanya sengit tanpa memberiku kesempatan menggodanya lebih jauh.

Tiba-tiba Yana, teman seorganisasi yang pernah kuceritakan sebelumnya datang dan ingin bergabung, kami tak bisa menolak. aku belum begitu kenal dengan Yana ini. Tapi rupanya dia teman satu kos Kak Fia, jadi mereka langsung akrab.

Awalnya aku tidak begitu peduli dengan apa yang mereka bicarakan. Tapi entah kenapa telingaku menjadi stereo ketika mendengar kak Fia bertanya pada Yana, “Jadi gimana, berhasil PDKT sama Putra?” Oho, aku langsung pengen nimbrung.

“Putra? Siapa kak? Anak OSIS yang juga ketua HW itu?” Aku hanya ingin memastkan tidak salah mengerti tentang orang yang sedang menjadi topik bahasan.

“Iya, siapa lagi... kamu ikut HW juga kan? Yana ini naksir berat loh sama Putra. Emang dia sekeren apa sih? Kok kalau di kos nih, Yana cerita ngga ada habisnya. Udah kaya ombak di pantai itu, habis datang, pergi sebentar, ada lagi bahan cerita yang lain, gitu aja terus. Kamu kenal Putra?” Kak Fia panjang lebar menjelaskan, Yana hanya agak tersipu. Aku? Oh, jangan khawatir. Saat itu belum kenal kata cemburu.

“Kenal? Engga juga sih. Cuma bagiku dia itu nyebelin aja. Jarang ikut kegiatan soalnya, padahal kan dia ketua.” Jawabku enteng.

“Jadi kamu setuju, kalau Yana PDKT sama Putra? Bantuin yah, biar dia senang nih.” Permintaan kak Fia hampir saja ku tolak. Toh, apa hubungannya denganku? Males banget ngurusi urusan ornag. Apalagi sama, Putra? Oh No! Tapi masa iya aku bilang gitu sama kakak sendiri?

“Hemmm, ngga janji sih kak.. besok kemah Yana ikut kan? Biar aja sekalian PDKT gitu”. Usulku, hanya sekedar usul.

“Oh iya bener, tuh Yan, besok waktu kemah kamu buatlah Putra itu terpesona. Siapa tahu jodoh. Iya kan Sa?” Kak Fia semakin semangat jadi “kompor” hubungan mereka.

“Iyalah, emang itu tujuan utama ikut kemah. Sekaligus refreshing abis ujian semester. Kira-kira Putra suka apa ya? Biar kubawain makanan ah besok kalau kemah.” Yana tampak begitu sumringah menyusun rencana.

Aku hanya mengangguk dan ber-he’em sambil merapikan mangkok dan gelas yang sudah habis isinya, lalu mengembalikan mangkok dan gelas itu ke penjualnya sekaligus membayar. Tidak peduli lagi pada obrolan mereka. Cukuplah aku tahu bahwa, “Yana ikut kemah karena pengen PDKT sama Putra. Alias si Pukan itu. Mari kita lihat hasilnya nanti”.

#OneDayOnePost


3 komentar:

  1. Penasaran abis deh sams sipukan

    BalasHapus
  2. Aiihhh... Sekeren apa sih sampe direbutin gt? Tp pegang status jd ketua udah modal sih :)

    BalasHapus

Yang Terbaik

Edited by canva "Iya Ki, insya Allah kamu dapat yang terbaik."