Rabu, 09 November 2016

Menyemai Kenangan 5



“Kalian tahu, siapa pahlawan yang paling dekat silsilah perjuangannya dengan keberadaan kita dalam organisasi ini?” Kak Tama berapi-api menanyakan kalimat itu kepada kami, yang berdiri tegak, mematung menerima materi di tepi lapangan bumi perkemahan. Beruntung, cuaca agak mendung melindungi kami dari teriknya mentari. Tapi cuaca yang mendung itu tidak membantu, mungkin lebih baik jika terik menerjang kepala, mencairkan otak kami.

Said, pras, Ferry, Rahman, Rouf, Putra yang berjajar rapi di barisan sebelah kanan kami masih diam, tatapan lurus kedepan, tidak berani bergeser mencari jawaban. Begitu juga aku, Yana, Noe, Evi, dan peserta perkemahan putri yang lain. Tidak satupun berani bersuara. Sampai mungkin senior kami jengkel melihat tingkah “bodoh” kami.

“Jawab!! Kalian ini manusia atau batu?!” hardikan senior membuat telinga kami meradang. Suasana semakin mencekam beberapa detik kemudian, sampai Said bersuara lantang, “Siap, tidak!”

“Apa? Bilang sekali lagi! Yang keras! Yang tegas! Kalian bukan ba***!” Suara senior tak kalah keras. Meski hanya seorang yangs edang mengisi materi, itu cukup menciutkan nyali kami.

“Siap! Kami tidak tahu!” suara Said kembali terdengar, lebih tegas dan lantang. Kami pasrah.

“Yang lain??!” kami menarik nafas panjang, lalu berteriak bersama, lantang. “Siap! Kami tidak tahu!”.

Apapun risikonya, kami tidak boleh ragu. Sekali keputusan diambil, harus terus melaju. Pantang bagi kami menarik kata, apalagi membalik rasa percaya. Pantang bagi kami menyatakan iya, jika kata “tidak” yang tersimpan dalam dada.

“Push-up, 10 hitungan. Putra, pimpin!”

“Siap!” Putra mengambil alih aba-aba. Tidak peduli lelaki atau wanita, konsekwensi harus diambil sepenuhnya. Keluhan hanya erarti tambahan hukuman. Jadi mau tidak mau, kami lalui sepuluh kali push-up tanpa suara. Lelah? Ah, mungkin kau tidak tahu, bahwa kelelahan bersama itu bisa jadi sumber kekuatan.

Usai menyelesaikan hukuman, senior kami memberi dua kali istirahat di tempat. Artinya kami boleh duduk, dengan posisi tetap sempurna. punggung tegak, pandnagan lurus ke depan, fokus pada materi.

“Kalian yakin tidak ada satupun yang tahu, siapa pahlawan nasional yang harusnya jadi panutan?” Ujar kak Tama melunak. Tapi tetap tegas. Kami menggeleng. Kakak senior itu tampak kecewa.

“Bapak Soeharto, kak?” Rouf mencoba keberuntungan, tapi kak Tama menggeleng.

“Kartini?” aku iseng menjawab. Lagi-lagi gelengan yang kami dapat. Ingin sekali rasanya menyerah.

“Jendral Soedirman?” Putra menjawab mantap.

“Bagus!” kak Tama tersenyum puas. Tepat saat itu, entah kenapa mataku melirik Yana yang duduk di sebelah kiri tepatku duduk. Ia sedang melirik Putra, dengan tatapan mata penuh cahaya, seperti sangat bahagia melihat pujaan hatinya memenangkan sayembara. Oh, please deh...cuma gitu doang. Batinku.

“Risa, coba jelaskan apa istimewanya kehidupan Jendral Soedirman?” Suara kak Tama membuatku terperanjat. Huft, aku harus jawab apa?

“Eng...ngga tahu kak” Ujarku polos sedetik kemudian. Diiringi tawa ledekan dari teman-teman.

“Siapa yang tahu? Berhak dapat satu hadiah dari saya!” Iming-iming kak Tama berhasil membuat semua peserta terkesima. Tapi siapa yang tahu jawabannya? Kami sangat jarang membaca, apalagi lihat berita. Huft... dalam hati aku menyesal tidak jadi anggota aktif perpustakaan sekolah.

“Silahkan, Yana. Kasih tahu teman-teman kamu yang malas baca buku!” Spontan kepala kami menoleh ke arah Yana yang masih mengangkat tangan kanan. Dia, tahu? Pasti begitu bunyi suara yang bergema di dalam kepala kami, penasaran.

“Jendral Soedirman itu salah satu pelopor berdirinya kepanduan Hizbul Wathan, kak. Karena beliau adalah panglima tentara yang dekat dengan tokoh penting Muhammadiyah saat itu. Beliau dalah pahlawan yang selalu menjaga kesucian, tidak pernah meninggalkan shalat dan mengamalkan banyak sunnah, dan sukses dengan perang gerilya saat agresi militer Belanda di Yogyakarta.” Jawabnya lugas. Diiringi tatapan heran kami. Wow....! Begitu kesimpulannya.

“Hadiah untuk kamu Yana, dua butir permen.” Kak Tama menyerahkan dua bungkus permen kepada Yana, diiringi seruan “Huuuuuu.................” Koor dari  kami semua.

Okey, boleh juga ternyata.

“Kak, yang satu boleh aku kasih ke Putra ya? Kan dia tadi udah jawab juga?” Suara Yana memecah koor kami. Terang saja mengundang koor berikutnya.

“Cie...cieee....so sweet....kompakan nih yee...” Hahaha, akupun larut dalam euforia suasana. Sempat kulirik sebentar si-Putra itu. Dia diam saja. Ekspresinya datar. Menerima satu permen pemberian Yana, tapi tidak memakannya. Bahkan ketika Rouf meminta, ia rela menyerahkan permen itu begitu saja. Ah, untung Yana tidak melihat bagian itu.

“Baiklah, mari kita lanjutkan sebentar lagi.” Suara kak Tama kembali menyatukan fokus kami.

“Ada beberapa sifat teladan dari Jendral Soedirman, yang harus kalian tanam dalam-dalam.. menjadi sifat dan karakter yang harus kalian bawa sampai kapanpun dan dimanapun. Pertama jujur dan kedua, berani. Mungkin kalian akan punya banyak kesempatan untuk membohongi orang lain suatu hari nanti. Tapi ingat baik-baik, sesungguhnya ketika itu terjadi, kalian hanya sedang berbohong pada diri sendiri. Orang lain mungkin tidak tahu jika kalian berbohong. Tapi hati yang suci tak pernah rela mengotori diri sendiri. Maka disinilah hubungannya kesucian yang selalu Jendral Soedirman jaga sampai ajal, beliau selalu berwudhu setiap kali batal. Untuk menjaga kesucian diri baik batin maupun fisik, mengingatkan hati agar selalu bersikap jujur. Sampai di sini ada pertanyaan?”

“Siap, tidak!” kami menjawab serempak.

“Kedua, adalah berani. Ketika kalian sudah mengambil dan memutuskan sesuatu yang benar, maka kalian harus berani menerima konsekwensinya. Tidak peduli konsekwensi itu menyenangkan atau menyakitkan. Jangan karena kepentingan, lalu kalian takut mengungkap kebenaran. Mengerti?!”

“Siap, mengerti!” Kami menjawab serempak, lagi.

“Oke, setelah ini kalian bisa istirahat, shalat berjamaah, dan jangan lupa setiap berjamaah yang tugas kultum, ya? Nanti setelah isya’ kalian ada materi dari kak Mirza. Dan karena malam ini puncak acara, siapkan fisik dan mental kalian untuk jelajah malam.”

“Haaaa???” Suara peserta cewek yang biasa “centil” di sekolah mulai terdengar lebay. Sementara para peserta cowok tidak terlalu peduli. Aku diam saja. Ah, masa ngga berani?

Oh ya, aku jadi penasaran gimana cewek-cewen centil itu kalau jelajah tengah malam, ya? Hihi, bayangkan mereka ketakutan, jadi geli sendiri.

Tunggu saja di cerita selanjutnya, insya Allah segera.

#OneDayOnePost

3 komentar:

  1. Hhii... Ikutan nostalgia nih waktu dulu aktif di pecinta alam.

    BalasHapus
  2. Ini tulisan, keren banget kan?!!
    Siap, memang keren!

    BalasHapus
  3. Hahahaha pukan diantara jendral sudirman

    BalasHapus

Yang Terbaik

Edited by canva "Iya Ki, insya Allah kamu dapat yang terbaik."