Minggu, 13 November 2016

Menyemai Kenangan 6



Alam selalu menawarkan pesona, tanpa peduli siang atau malam, tanpa peduli ceria atau gulita. Namun bagaimana jika pesona yang ditawarkannya tak kasat mata? Akankah engkau tetap terpesona?

Malam sudah benar-benar gelap saat kami selesai materi. Bumi perkemahan ini tidak di desain dengan banyak lampu penerangan. Kak Mirza berpesan, agar kami tidur cepat karena nanti tepat tengah malam harus siap dibangunkan. Akan ada acara jelajah malam, dengan rute yang masih dirahasiakan.

Aku tak peduli apa yang akan terjadi nanti malam. Yang kubutuhkan sekarang cuma satu: tidur.

Mungkin sudah tepat tengah malam, ketika senior membangunkan kami yang ulas di dalam tenda untuk segera bersiap, harus berseragam lapangan lengkap dengan sepatu dan hasduk.

“Hoaammmm.....” terdengar suara orang menguap di barisan cowok. Aku ikut menguap diam-diam.

“Sebelum berangkat, silahkan ambil posisi push-up. Dua puluh hitungan untuk membuat kalian benar-benar bangun. Putra, silahkan di pimpin!” Suara kak Mirza tidak ada penurunan intonasi dari sesi sebelumnya. Dia pasti tidak tidur sejak tadi.

“Siap, laksanakan!” Suara Putra. Meski dalam gelap, aku tetap bisa mengenalinya. Dan bayang-bayang tubuh kami dalam temaram lampu neon di tepi jalan cukup menunjukkan kepada senior, siapa yang belum mengambil posisi. Bisa ditebak, dalam hitungan detik kami sudah harus mengikuti instruksi.

Senior membagi kami dalam beberapa kelompok kecil. Laki-laki sendiri, perempuan sendiri. Masing-masing kelompok ada tiga orang. aku bersama Noe dan Evi. Lumayan, mereka cewek tangguh. Jadi tak ada yang perlu di khawatirkan. Namun sialnya, kami diberangkatkan paling akhir. Sebagai kelompok sapu jalan. Huft, terima nasib. Sementara Pukan dan kelompoknya berangkat paling awal, sekaligus sebagai ujian ketua menerjemahkan tanda dalam rute yang harus kami lewati.

Klotak..klotak..klotak...

Aku menyeret tongkat, membiarkannya beradu dengan bebatuan yang berserak di sepanjang jalan. Dua adik kelasku yang sekelompok tadi kubiarkan berjalan beberapa langkah di depan. Sementara aku mengawal mereka dari belakang. Jalanan setapak ini cukup terang menurutku meski tanpa penerangan. Bintang di langit menjadi penunjuk jalan. Cuaca malam ini begitu cerah, seolah mendukung perjalanan kami.

“Heh, tongkatnya diangkat! Jalan tanpa suara.” Suara bariton tiba-tiba terasa dekat sekali, di sebelah kiri jalan. Aku terkesiap, dua gadis di depanku serantak berhenti, lalu berjalan mundur, merapat padaku. Aku masih berdiri mematung, mencerna suara tadi, itu suara manusia atau sesuatu yang lain?

“Kak?” panggilku. Tak ada jawaban. Ih, aku mulai kesal. Jujur, orang sungguhan lebih menakutkan bagiku ketimbang hantu. Kalau hantu, mana mungkin memberiku peringatan seperti itu? Tapi kalau manusia, atau senior, dimana wujudnya? Antara kesal dan takut, aku mengancam.

“Kak? Aku hitung sampai tiga! Kalau ngga mau muncul kulempari tongkat nih!! Satu.....” tak ada suara, hanya sedikit gerakan mencurigakan. Aku bersiap mengangkat tongkat. Sementara kedua gadis tadi bersiap di belakangku.

“Duaa........ Ti...”

“Hush!! Ngga sopan sama orang tua!!” bentaknya lagi. Satu sosok hitam tinggi berdiri di semak semak. Aku mengerjapkan mata, berusaha memutar informasi. Siapa? Sosok itu lalu melangkah ke depan, semakin dekat. Aku sudah berniat benar-benar memukulnya kalau sampai macam-macam, kunyalakan alarm siaga 1 dalam otak, warna merah menyala!

“Risa...Risa, turunkan tongkatmu! Buruan jalan.” Katanya datar.

Oh my................ Kak Mirza!! Kukira siapa? Huuufft...kami menarik nafas panjang, lalu melanjutkan perjalanan. Kak Mirza mengikuti langkah kami, di belakang.

Sampai di pos 3, kami pikir semua aman terkendali. Jam di tangan sudah menunjuk angka 2.30. Kami adalah kelompok yang terakhir. Jadwal acara ini sampai jam 3 pagi, setelah itu kami bebas untuk tahajjud dan menanti shubuh. Usai melaksanakan tugas di pos 3 yang di jaga kak Fajar, kami melanjutkan perjalanan kembali ke bumper. Iya, kami kira semua baik-baik saja. Namun ternyata tidak, ketika kami mendengar cerita dari senior yang mengikuti kami di belakang. Kejadian itu sekitar setengah jam sebelum kami datang.

Kak Fajar yang sedang berjaga disana ditemani kak Udin. Keduanya sedang mengobrol ringan saat kelompok Said datang. Dua anggota juniornya melangkah di depan, Ucil dan Hanan. Seharusnya, setiap kelompok terdiri dari tiga orang. pos 3 diterangi dengan lampu jalan, karena tidak jauh dari pemakaman umum. Kak Fajar melihat ada yang janggal ketika bayangan said yang berjalan di belakang kedua anggotanya tampak ada dua. Segera kak Fajar meminta Ucil dan Hanan mendekat, sementara membiarkan Said melangkah sesuai kecepatan awal. Sampai di depan Said, benar saja, ada “makhluk lain” yang mengikuti dibelakangnya. Sosok bayangan putih melompat sesuai langkah Said. Entah sejak kapan, atau dimana ia mengikuti. Mungkin saat melewati area pemakaman tadi.

Kak Fajar yang paham situasi segera mengambil aih, sementara yang lain dari kelompok itu dibiarkan bersama Kak Udin, Kak Fajar mendekati Said.

“Selamat datang di Pos 3, silahkan lapor!”

“Siap, nama saya Said, kami dari kelompok lima, siap menerima tugas!” Ucap Said dalam posisi sempurna, hormat.

“Said, apakah kamu sadar?” Tanya kak Fajar.

“Siap, tidak!” Kak Fajar terperanjat, tapi tetap berusaha tenang.

“Saya ulang sekali lagi. Said, apakah kamu sadar??”

“Siap, Tidak!!”

“Laahawlaa walaa quwwata illa billaaahhh...” Kak Fajar berteriak lantang. Sosok putih itu masih berdiri di belakang Said. Tak bergerak.

“Silahkan baca surat Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Naas masing-masing tiga kali, semuanya!!”

Serempak, Said mengikuti bacaan kak Fajar, kak Udin, Ucil dan Hanan. Mereka yang di depan Said kemudian melihat sosok putih tadi pergi, menjauhi Said, mungkin kembali ke “rumah”nya yang entah dimana.

Setelah selesai, kembali kak Fajar bertanya, “Said, apakah kamu sadar??”

“Siapp, saya sadar!!” Hufft... semua bernafas lega.

Aku mendengarkan cerita itu sambil bergidik ngeri, tapi tidak takut lagi. Dalam hati kami percaya, makhluk-makhluk semacam itu memang ada. Tapi selama kita kuat, menjaga iman dan bergantung hanya pada Allah, mereka tak akan mampu berbuat apa-apa.

Pagi harinya, cerita horor semalam tetap disimpan rapi. Tidak banyak yang tahu soal cerita itu. Ya, memang tidak harus banyak yang tahu. Karena tidak semua orang siap menanggapinya dengan cara positif. Acara perkemahan di tutup dengan makan bersama dan upacara.

Memang selama perkemahan kami tidak harus membaca buku tapi ada banyak pelajaran yang harus kami ambil langsung dari alam. Mendidik kami agar menjadi orang-orang bijak di masa depan. Dan yang terpenting, adalah bangunan rasa kekeluargaan yang tidak dapat kami tolak, rasanya semakin mengenal teman-teman, semakin dekat sebagai saudara sepenanggungan. Kami siap melanjutkan persaudaraan ini esok di sekolah dan selanjutnya.

Tentang Yana dan Putra?

Yah, kau pasti percaya bahwa Yana melakukan banyak hal untuk membuat Putra meliriknya. Tapi aku bisa melihat bahwa Putra bersikap sedatar mungkin, layaknya teman, layaknya ketua. Tidak lebih, tidak ada yang istimewa. Dan aku, tetap bersikap seperti bisa, seperlunya.

Tapi dalam cerita selanjutnya, mungkin aku harus bercerita bagaimana kedekatan kami bermula. Nantikan saja.

#OneDayOnePost.

2 komentar:

  1. Aaiisss... Risaaaa... Galak bgt yak, hhaa pake nantangin hantu segala.

    BalasHapus

Yang Terbaik

Edited by canva "Iya Ki, insya Allah kamu dapat yang terbaik."