Sabtu, 31 Desember 2016

Camping Di Bukit Pengilon




28-29 Desember 2016
Rencana agenda kelas kali ini tidak butuh banyak persiapan. Kami hanya perlu memastikan berapa orang yang ikut, mencari sewaan tenda dan sleeping bag, kemudian membeli beberapa makanan instan lalu berangkat setelah beberap ajam saling menunggu.

Kelas Reguler Magister Keuangan dan Perbankan Syari’ah Fakultas Syari’ah dan Hukum Islam UIN Sunan Kalijaga, adalah kelas dimana kami belajar bersama hampir dua puluh orang selama tiga semester ini. Banyak suka dan duka, perselisihan, ketidakcocokan satu sama lain, lengkap dengan canda tawa bahagia dan acara makan bersama. Tidak terasa, tiga semester begitu cepat berlalu bersam arangkaian tugas yang kemarin dulu terasa begitu mengganggu.

Sekarang, masa teori dan belajar di kelas sudah selesai, kami hanya tinggal menyelesaikan beberapa paper untuk nilai UAS dan tesis sebagai syarat kelulusan. Saatnya menghela nafas sejenak, mengumpulkan tenaga kembali setelah rutinitas tugas yang begitu menguras isi hati. Kami memilih bukit Pengilon atas rekomendasi salah satu teman. Selain tempatnya yang masih terjangkau di Gunung Kidul, dekat pantai, dan kami bisa menikmati tiga destnasi wisata sekaligus: Pantai Siung, Air Terjun Banyu Tibo, dan Bukit Pengilon.

Empat belas orang yang akhirnya memutuskan ikut acara ini. Kami berangkat dari kampus setelah shalat ashar, sampai di lokasi sekitar waktu maghrib. Perjalanan kami memakan waktu sekitar 2-3 jam karena lalu lintas akhir tahun di kota Jogja dan jalur ke Wonosari yang lumayan padat. Satu rombongan naik mobil berisi tujuh cewek dan satu teman lelaki yang punya mobil. Enam orang lainnya mengendarai motor. Kondisi jalan tentu tidak memungkinkan kami selalu berdekatan. Apalagi kecepatan motor di jalan pegunungan berbeda dengan mbil yang cenderung lambat. 

Sayangnya, saat kami sampai di tempat tujuan, ketiga motor yang dikendarai enam orang itu belum sampai! Sialnya, tidak satupun signal masuk ke HP kami. Rasa panik mulai melanda, kemana mereka? Nyasarkah? Atau ada apa-apa? Khawatir dan rasanya ingin sekali mencari mereka, tapi kemana? Upaya mencari signal kami lakukan sampai harus mendaki bukit terdekat. Siapa tahu kan, di ketinggian ada signal? Benar saja! Namun signal itu hanya cukup untuk mengirim SMS, tidak bisa untuk melakukan panggilan, apalagi jaringan internet. Ahh ....

Terpaksa, kami hanya bisa menunggu. Beberapa teman mulai bosan dan kami berinisiatif mendirikan tenda di bibir pantai. Tak lama kemudian, rombongan mereka datang dan mengajak kami membereskan kembali tenda, “Buat apa bawa tenda kalau cuma mau tidur di pantai?” Kata pak ketua sambil tertawa.

Oh, tentu saja bagi petualang, pantai sama sekali bukan barang istimewa –kecuali soal pemandangannya- yang tentu saja mempesona. Enam orang laki-laki dan delapan orang perempuan berhjab mulai bergerak naik. Diiringi dengan satu dua atau berkali-kali keluhan keluar dari tubuh para wanita pendaki pemula. Jalanan menuju bukit pengilon dari bibir pantai Siung memang menanjak, melalui begitu banyak anak tangga yang cukup menghabiskan nafas pendaki pemula.

Setiap ada pondokan, kami berhenti. “Udah yuk, ngecamp di sini aja?” Aku hanya tersenyum melihat wajah lelah mereka. Masih ingat beberap ahari yang lalu hatiku juga mengeluhkan hal yang sama saat mendaki merbabu.

“Yok, siaapp ... Jalan!” Ketua kelas kembali meneriakkan aba-aba. Tanpa banyak mengeluh kami kembali menata barisan.

“Ini masih jauh ngga sih? Tau kaya gini kita ngga ikut aja ...” Sahut yang lain, antara ingin menyerah dan pasrah.

“Awas kanan jurang...hati-hati. Pegangan ya... Boleh pegangan batu di sebelah kiri atau pohon yang ada. Pelan-pelan....” Pak Ketua begitu “sabar” memaksa kami untuk terus melangkah, sampai entah kapan.

“Senter awas yang bawa senter, arahkan ke jalan ya jangan ke depan atau samping. Kalau ngga bisa bawa senter kasihkan temannya!” Teriak ketua dari ujung paling depan. Aku masuk barisan belakang, sambil berjaga jika sesuatu terjadi di depan.

Tanjakan, turunan, beberapa jalan landai, kami lalui tanpa tahu dimana ujung jalan ini. Hampir tiga jam kami melangkah, dengan beberapa kali berhenti, melintasi gemuruh suara air, kemudian menanjak lagi. Kami juga sempat berhenti menunaikan shalat isya’ ketika menemukan toilet dekat gemuruh suara air. Setelah itu berjalan lagi, menanjak dan akhirnya kami sampai di tanah lapang. 

Rasanya, “inilah bukit pengilon”. Terdengar deburan ombak di bawah sana, tak jauh dari tempat kami berdiri. Setelah menimbang beberapa tempat, memeriksa keadaan sekitar termasuk bukit yang ada di depan kami, di sana ada beberapa tenda yang sudah berdiri. Kami memutuskan mendirikan tenda di lembah tadi.

Tenda tidak bisa langsung didirikan, karen akami harus memasukkan benang penghubung kerangka tenda yang putus dari asalnya. Cukup memakan waktu, hingga sebagian sudah tertidur tenda baru bisa berdiri, tengah malam. Rasa lelah tidak juga mengantar mata ke peraduan. Beberapa dari kami malah memilih bermain kartu sebelum tidur. Seolah kami khawatir kehabisan waktu hanya untuk tidur malam ini. Meski akhirnya tubuh tak bisa dibohongi, satu per satu roboh dan menjemput mimpu dalam sleeping bag masing-masing. Kecuali beberapa yang sulit tidur di tempat terbuka, sempat mengganggu teman yang sudah tidur duluan. Ah, setiap detik yang terjadi disana adalah kenangan indah, kawan.

Kasihan para cowok, satu tenda kami tertinggal dalam mobil sehingga mereka harus tidur beratap langit. Menjelang subuh, tiba-tiba hujan turun. Mereka langsung pontang-panting mencari tempat berteduh. Beruntung, dekat tempat kami mendirikan tenda ada gubug yang sepertinya jika siang dipakai sebagai warung makanan. Mereka langsung melanjutkan mimpi, disana.

Pagi menyapa kami lembut, setelah shalat shubuh kami baru menyadari, bahwa lembah ini berada diantara dua bukit kembar. Tenda kami berdiri diantara dua palung laut, indah tak terperi. Siapa yang bisa menyesali perjalanan semalam jika melihat pemandangan seindah ini? Bahkan para cewek tidak lupa merias diri, sebelum kemudian mengambil banyak gambar dari berbagai sudut.

Indah, mengesankan, menenangkan, meskipun melelahkan. Hanya ada beberapa potong roti dan susu untuk sarapan kami pagi ini. Tidak mengapa, karena itupun cukup membuat kami tersenyum setiap melihat lensa kamera mengarah pada kami.

Pukul 07.30, kami mulai membereskan tenda dan merapikan barang-barang pribadi. Setelah puas dengan foto, kami beranjak turun dan menyadari betapa semalam perjalanan kami memang benar-benar melalui tepian jurang yang dalam. Ah, untunglah malam menyembunyikan rasa takut kami, jika tidak mungkin bukit pengilon hanya tersimpan dalam mimpi.
Tenda kami diantara dua laut di kanan dan kiri.

Camping ini, mungkin menjadi moment terakhir kebersamaan kami tahun ini. Camping yang mengajarkan kami untuk saling berbagi, saling mengerti sifat pribadi. Alam selalu bijak menasehati, agar kami tidak egois terhadap diri sendiri, menilai tanpa menghakimi, dan mengerti arti teman sejati.
Perjalanan kami tutup dengan makan siang sederhana di rumah. Maaf ya, sudah tidak berdaya untuk masak macam-macam makanan. Hanya ada sayur dan lauk sekedarnya. Namun semoga cukup mengenyangkan untuk mengobati kerinduan perut pada nasi. Cukuplah untuk bekal sampai ke Jogja dan istirahat di kamar masing-masing.
Melipat tenda diantara hembusan angin lembah

Terima kasih untuk kebersamaan ini, maafkan setiap salah yang mngkin terjadi.
Tepi jurang, tampak air terjun banyu tibo

Malam tahun baru, kita mau kemana dan jam berapa, kawan? Hahaha...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kaos ODOP

Hasil jadi kaos Kira-kira tiga atau empat bulan pasca Kopdar Akbar ODOP pertama, ada wacana ingin membuat kaos ODOP. Koordinatornya...