Minggu, 11 Desember 2016

Mertua Jawa Menantu Sunda




Gilang, adalah salah satu makhluk adam paling eksis di kos-an ODOP. Ramah, hobi #eh anti galau, humoris, baik hati, dan tentu saja: berisi (red: sinonim tidak ditemukan, hentikan pencarian). Asalnya dari Bandung, urang Sunda, sundanese.

Ciri khususnya adalah dia paling bisa nulis komedi. Mau seserius atau sehoror apapun niat awalnya, toh akhirnya lucu juga. Entahlah, sepertinya dia bakal jadi penerus Raditya Dika, maklum fans beratnya. Yah, dia berpotensi lah jadi penerus Bang Dika, secara tulisannya kadang lebih keren dari pada tulisan Bang Dika, suer! Setidaknya bagiku sih, kadang. Meskipun jelas, fans Bang Dika lebih banyak dari pada Aa Gilang. Tapi bisa jadi, dua puluh tahun lagi Bang Dika kalah saingan sama teman kita yang satu ini.

Nah, karena penduduk di Kos ODOP ini sudah kenalan dan saling kenal selama hampir setahun, wajar kalau kami jadi tahu karakter masing-masing pribadi. Mulai dari karakter sifat sampai tulisan, hampir setiap penduduk punya ciri khas, termsuk Aa Gilang yang spesialis komedi sekaligus pecinta sejati.

Emang sih, “katanya” Aa Gilang statusnya jomblo, saking jujurnya dengan status ini si Aa sering sekali mengeluh saat malam minggu tiba. Bercerita sibuk dngan koreksian dan rekap nilai siswanya, sibuk ngantar mamanya ke mana, atau jika tidak ada kegiatan dia sibuk berdo’a agar malam minggu itu hujan turun dengan deras, biar para jomblo bahagia katanya. Yah, walapun tidak bahagia karena punya kekasih yang bisa digandeng kemana-mana, toh tetap bisa bahagia melihat para pasangan itu ngga bisa ke mana-mana saat malam minggu tiba.

Meski jomblo bahagia, bukan berarti Aa Gilang selalu bahagia dengan statusnya. Buktinya, dia sering mengeluh pengen punya kekasih layaknya mereka.

Pucuk dicinta ulam tiba, keluhannya di kos-an ODOP mendapat tanggapan dari gadis manis berkacamata. Sebut saja namanya CiLi. Ingat ya, huruf L di tengah itu harus ditulis kapital, jangan sampai lowercase karena akan berbeda maknanya!

CiLi adalah gadis lembut, baik hati, cantik, berhijab, dan berkacamata pula. Type perempuan yang “Aa Gilang banget” deh pokoknya. Apa yang harus dilakukan oleh seorang lelaki yang mengagumi sosok perempuan selain mahromnya?

Tepat!

Halalkan atau tinggakan!

Berbekal tekad, restu mamah dan segenap keluarga, ijazah sarjana, dan segunung cinta, pada minggu yang mendung di bulan Januari 2017 Aa Gilang berangkat ke Solo untuk menemui pujaan hati, De’ CiLi. Begitu dia biasa memanggilnya.

Kereta Pasundan berangkat dari Stasiun Kiaracondong pukul 05.20 pagi. Aa Gilang mengenakan jaket tebal karena cuaca bulan Januari masih berselimut kabut saat pagi. Menurut jadwal, kereta ini akan sampai di Stasiun Purwosari yang paling dekat dengan rumah De’ CiLi sekitar pukul 15.30 sore nanti.
***

“Aa sudah sampai mana? Kenapa tadi ade’ telpon ngga diangkat? Aa ngga kebablasan kan? Sekarang nyampe mana?” Suara panik CiLi memenuhi gendang telinga Aa Gilang sedetik setelah panggilannya di angkat.

“Umm....nyampe mana ya ini de? Maaf tadi Aa ketiduran.” Jawabnya sambil melirik arloji di tangan kiri, masih 15.00, berarti setengah jam lagi. Kenapa De’ CiLi sudah panik begitu? Padahal kan masih lama. Ah, pasti cinta yang membuatnya demikian gugup menyambut pertemuan pertama.

Setengah jam kemudian, mereka bertemu di stasiun dan makan tengkleng di rumah makan dekat stasiun. Tentu saja Aa lapar setelah perjalanan seharian dan nerveous yang menyiksa selama berada di dalam kereta, namun dia tetap tidak bisa makan banyak, masih sungkan dengan gadis manis di depannya yang juga hanya berhasil menyuapkan beberapa sendok nasi.

Setelah makan, mereka naik angkot sekali untuk menuju rumah CiLi. “Biar ngga maksiyat jadi naik angkot aja aman,” kata CiLi. Disambut wajah masam Gilang yang awalnya ingin memuaskan diri melihat wajah CiLi di alam nyata. Meski akhirnya terpaksa juga dia terima, daripada ditelantarkan di tanah jawa yang belum pernah dia arungi sebelumnya?

“Kiri bang...” teriak Aa Gilang tiba-tiba.

“Loh? Kita kan belum sampai a? Sepuluh menit lagi?” Tidak dijawab oleh lelaki “berisi” itu, tapi CiLi ikut turun juga, mengekor dibelakangnya. Mereka melanjutkan langkah dalam diam, lalu Gilang belok kiri, masuk di sebuah gedung tinggi.

Kenapa Aa ke sini? Emang ada keluarga? Katanya?.... Pikiran CiLi mulai tak karuan. Setelah masuk, Aa Gilang meminta CiLi menunggu di salah satu kursi. Jangan-jangan.. Pikiran CiLi kembali bermain sendiri.

“Ade tunggu di sini sebentar ya, Aa mandi dulu. Ngga enak ketemu calon mertua kalau kucel gini.” CiLi hanya mengernyitkan dahi, kemudian mengangguk. Ia tak sanggup bertanya ketika kekasihnya menghilang di balik pintu.

Oh My God... Astaghfirullah.... Ujarnya lirih. Tatapan matanya terpaku pada plang besar di tembok sebelah kiri bangunan : Penginapan Melati, Bersih dan Syar’i. Pantas!
***

“Ini rumah Ade, a’... maaf ya mewah, cuma mepet sawah. Anggap aja rumah sendiri. Toh mau jadi rumah Aa juga kan nantinya?” CiLi membuka suara ketika mereka sampai di halaman. Aa Gilang hanya tersenyum bahagia. Ah, ini sih beneran mewah. Kata hati Aa Gilang bersuara.

Rumah itu memang jika diperhatikan tampak biasa saja, khas bangunan jawa dengan halaman yang cukup luas, teras, tembok berwarna putih dan atapnya genting. Namun jika diperhatikan lebih rinci, ada beberapa tanaman bunga yang tertata rapi, serumpun tanaman obat, dan sebatang pohon jambu biji yang siap berbuah di tengah halaman sebelah kanan. Teras dihiasi dengan beberapa bunga yang ditanam dalam pot tanah, beberapa sedang berbunga cantik. Merah, putih, kuning, entah bunga apa saja namanya. Mama CiLi memang penggemar tanaman. Gilang menunggu dengan sabar di teras sambil menikmati semua pemandangan indah itu, sementara CiLi sudah sejak tadi menghilang di balik pintu.

“Assalamu’alaikum..... Oh ini yang namanya Aa Gilang? Selamat datang di rumah kami yang sederhana ini. Anggap saja rumah sendiri ya nak... Mari sini duduk di ruang dalam saja. Ngga pantas dilihat orang lewat kalau di teras.” Suara perempuan setengah baya membuyarkan lamunan Gilang, ia menoleh dan segera berdiri, “Wa’alaikum salam, iya bu, saya Gilang. Teman CiLi yang baru pertama ke sini.” Jawabnya ramah sambil menyambut uluran tangan dan menciumya, seperti biasa ia lakukan pada mama di rumah.

Di Belakang Ibu, ada seorang lelaki separuh baya yang tersenyum meski agak kaku. Ini pasti bapaknya. Batin Gilang memberi tahu. CiLi belum kelihatan juga. Gilang jadi kikuk dibuatnya.

Monggo pinarak, nak....” Sikap tubuh bapak mempersilahkan. Gilang menurut, masuk ke ruang tamu dan duduk bersama mereka, lalu menatap keduanya, tersenyum dan mengangguk.

Kaleh sinten wau saking Bandung?” Bapak membuka percakapan.

Hah? Artinya apa? Duh... Tadi bapak bilang Bandung. Pasti maksudnya bertanya soal perjalanan tadi. Bismillah... Gilang sempat menark nafas sebelum menjawab.

“Tadi pagi pak, dari Bandung. Naik kereta.” Sang Bapak hanya manggut-manggut.

“Sudah makan belum, nak?” Kali ini ibu yang bertanya, lega rasanya tidak menggunakan bahasa yang “aneh” di telinganya.

“Eh? Sudah bu.. tadi di dekat stasiun De’ CiLi ngajak mampir beli apa itu yang dari daging kambing tapi ada kuahnya... enak.” Kalau bahasa Indonesia gini kan enak, Gilang hanya berani membatin kalimat terakhir.

“Oh tengkleng... iya emang enak di situ. Kita sering juga makan di sana ya pak?” Ibu beralih bertanya kepada suaminya, yang kemudian hanya di jawab dengan anggukan.

“Nak, CiLi sudah banyak cerita tentang kami?” Ibunya kembali mengalihkan pandangan kepada Gilang.

“Alhamdulillah sudah bu, kami sudah banyak bertukar cerita tentang keluarga masing-masing. Karena itulah saya bertekad segera ke sini.” Gilang menjawab dengan sopan. Sang bapak yang awalnya hanya manggut-manggut ikutan bertanya.

Nak Gilang niki, putro nomer pinten nggeh?”

Hah? Apa ini maksudnya? Nomer? Umur kali ya maksudnya? CiLi ke mana sih.... Hiks, bisa mati kutu klau begini terus. Gilang hanya bisa meratap dalam hati.

 “Saya umur 24 tahun pak. Insya Allah sudah siap menikah tahun ini. Pekerjaan juga sudah ada.” Gilang menjawab mantap, di depan mer....eh calon mertua harus kelihatan yakin. Iya kan?

Ibu dan bapak melongo, saling berpandangan.

“Ini minumnya, maaf ya a’ lama... “ Tiba-tiba CiLi membuka pintu penghubung ke ruang dalam, ikut bergabung setelah menyajikan teh hangat dan beberapa camilan di tengah meja.

Putro nomer pintan, nak... sanes yuswo ingkang kulo pitakonaken kolo wau....” Sang bapak merasa belum puas juga bertanya dalam bahasa jawa. CiLi baru menyadari sesuatu, ada yang salah di sini, lalu melirik Aa Gilang yang wajahnya mulai pucat pasi.

Bapak, Aa Gilang meniko mboten saget boso jawi. Tiyang Bandung kok dijak ngendikan basa jawi nggeh mboten mudeng. Pripun toh bapak niki...” CiLi protes kepada bapaknya, Gilang hanya bergantian menatap mereka, tetap tak mengerti.

Gilang merasa batu yang menindih tubuhnya beberapa menit yang lalu kini terbang entah ke mana.

Beginilah kalau cinta beda budaya, beda bahasa, untungnya masih dalam satu negara.

 
#ODOPChallenge
#CintaKomedi
#FiksiRealita
#Jangan lupa belajar bahasa jawa sebelum ketemu mertua, ya Aa Gilang. Goodluck.
#Sengaja tanpa terjemah, yang penasaran artinya bisa tanya orang jawa di sekitar anda.


10 komentar:

  1. Kalau aku ditanya gitu juga mikir keras. Jawa halus banget haha

    BalasHapus
  2. Ahahaha tos kang,kira sama2 nggak ngerti.

    BalasHapus
  3. Baiklah.... Biar pembaca selanjutnya paham setiap dialog..berikut terjemahnya:

    Monggo pinarak : silahkan duduk
    Kaleh sinten wau saking Bandung? : Sama siapa tadi dari Bandung?
    Nak Gilang niki, putro nomer pinteng nggeh? : Nak Gilang ini, anak nomor berapa ya?
    Putro nomer pinten nak, sanes yuswo ingkang kulo pitakonaken kolo wau: Anak nomor berapa nak, bukan umur yang saya tanyakan tadi



    begitu kira-kira sodara *_*

    BalasHapus
  4. Wkwkwkwkwk... Bukannya kursus basa jawa dulu ya sebelum ke de cili

    BalasHapus
  5. Usul, boleh dikumpulin nih tulisan-tulisan tentang A Gil, jadiin buku. 😀

    BalasHapus
  6. Lucu mba,,,apalagi klo jawanya Tegal Brebes

    BalasHapus
  7. Bahasa jawanya halus banget... 😍

    BalasHapus

Rumah Impian

Tak perlu besar, yang penting cukup untuk menampung keluarga inti dan tamu yang datang berkunjung. Entah itu saudara, sahabat, atau...