Minggu, 08 Januari 2017

Engkau yang nomor satu



I was a foolish little child
Crazy things I used to do
And all the pain I put you through
Mama now I'm here for you
For all the times I made you cry
The days I told you lies
Now it's time for you to rise
For all the things you sacrificed



Pagi masih berkabut saat aku menyusuri jalan setapak, menuju rumah di ujung gang ini. Jaket dan syal masih melekat ditubuhku. Bahkan sarung tangan juga. Musim dingin yang ditemani mentari cerah tak mampu mengusir dingin jam enam pagi. Tapi tak masalah, dadaku hangat karena hatiku membuncah bahagia, akan bertemu denganmu. Orang nomor satu dalam hidupku.

Tahukah engkau, bahwa menyusuri jalanan ini mengingatkanku akan masa kecil. Masa dimana aku begitu bahagia, merasa cukup hidup bersamamu. Aku tak butuh apapun, tak butuh siapapun selain engkau.

Halaman rumah masih lengang saat kubuka pagar yang tak dikunci. Semua kenangan itu menyeruak begitu saja. Dulu, di halaman sebelah kanan depan iniah engkau biasa menjemur hasil cucian. Melihat kain bersih berkibar-kibar, bukan main senang hatiku. Rasanya aku lupa bahwa tangan dan kakiku masih penuh lumpur hasil bermain di pematang depan rumah.

“Mamaaa..... Tangkap aku!” Kemudian berlari diantara jemuran sprei dan selimut. Aku lupa bahwa lumpur ditanganku bisa dengan mudah berpindah ke kain-kain yang masih basah. Aku hanya ingin melihatmu tertawa lepas seperti biasa, Sementara engkau hanya menggeleng. Sedetik tampak kecewa melihat ulahku. Namun detik berikutnya, engkau ikut tertawa dan aku merasa lega.

Betapa masih lekat dalam ingatan saat aku mengejutkanmu di dapur atau dari balik buku yang engkau baca. “Baa ..!” Kutepuk koran dihadapanmu dengan kedua tangan mungilku, hanya untuk mencuri perhatianmu. Ada bahagia yang membundah saat engkau tersenyum, kemudian mengecup keningku pelan.

Aku belum beranjak dari halaman, saat kutatap daun pintu, ingatanku kembali ke masa seperempat abad yang lalu. Saat itu aku bermain pedang sendiri. Rasa bosan menggiringku ke dapur, berharap engkau menemaniku. Namun rupanya engkau sedang sibuk. Di meja sudah tertata sekitar lima atau enam cake, menerbitkan rasa lapar dalam perutku.

Melihatmu lengah, adalah kesempatanku mendekati meja.  Rasa lapar menuntunku mencium aromanya yang sangat lezat. Perlahan aku mengambil satu, lalu pergi. Beberapa saat kemudian, ambil lagi. Sementara engkau membereskan segala sesuatu di seberang meja. Aku bahagia. Kue itu lezat sekali di lidahku. Aku mau lagi!

Saat itulah, engkau berbalik dan ... menemukanku!

Bayangan engkau berkacak pinggag dan menatapku tajam begitu menakutiku.  Jujur, aku takut engkau marah karena cake itu hampir habis. Aku memilih lari, sembunyi di balik pintu. Namun engkau tersenyum, menghampiriku dan mengembalikan cake itu. Oh Tuhan... kurasa engkaulah malaikat hidupku.

Aku tak sabar lagi ingin menghambur dipelukanmu. Setelah sekian lama kutinggalkan rumah ini, ingin sekali rasanya aku kembali ke masa itu. Aku sangat merindukanmu. Rumah ini sangat sepi. Mungkin engkau lupa bahwa aku akan pulang hari ini, seperti yangs udah kuceritakan dalam surat sebelumnya.

Ah, mama...

Oh, if I could turn back time rewind
If I could make it undone
I swear that I would
I would make it up to you
Mum I'm all grown up now
It's a brand new day
I'd like to put a smile on your face every day
Mum I'm all grown up now
And it's not too late
I'd like to put a smile on your face every day

Aku tidak bisa kembali ke masa itu. Kini aku sudah dewasa, bukan anak kecil yang selalu ingin dimanja.

Aku memang tidak bisa kembali ke masa itu, persis seperti keinginanku. Tapi setidaknya, aku bisa berjanji pada diriku sendiri, bahwa aku akan selalu menghiasai wajahmu dengan senyum di setiap waktu, mama.



There's no one in this world that can take your place
Oh, I'm sorry for ever taking you for granted, ooh
I will use every chance I get
To make you smile, whenever I'm around you
Now I will try to love you like you love me
Only God knows how much you mean to me
 
Video Clip

#OneDayOnePost

1 komentar:

  1. assiiikk keren, tapi kok saya merasa dejavu ya sama ceritanya..

    BalasHapus

Kaos ODOP

Hasil jadi kaos Kira-kira tiga atau empat bulan pasca Kopdar Akbar ODOP pertama, ada wacana ingin membuat kaos ODOP. Koordinatornya...