Selasa, 10 Januari 2017

Kancil Baik Hati




Kancil adalah binatang sejenis rusa kecil, berasal dari Famili Tragulidae, Genus Trangulus dan memiliki nama binomial Trangulus Kanchil. Kita sudah pernah membaca banyak dongeng tentang kancil, bukan? Termasuk dongeng kancil si pencuri ketimun. Kancil sering dikisahkan sebagai binatang yang cerdik sekaligus licik. Suka menipu teman-temannya dan membuat mereka marah. Namun sayang, tidak semua dongeng tersebut benar. Kira-kira, ada berapa banyak kancil di dunia ini? Ratusan? Ribuan? Atau mungkin jutaan? Entahlah, yang jelas tidak hanya satu. 

Mungkin memang ada kancil yang cerdik sekaligus licik. Sampai ada lagu yang dinyanyikan anak-ank:

Si Kancil anak nakal
Suka mencuri ketimun
Ayo lekas ditangkap
Jangan diberi ampun

Jadi, lagu itu berpesan kalau ada anak nakal seerti kancil, jangan diberi ampun. Tapi tidak semua kancil begitu. Ada kancil yang cerdas, sekaligus baik hati. Mau tahu kisahnya?

Kancil yang ini memiliki nama lengkap Trangulus Kancil Hosei. Dia tinggal di pedalaman Serawak, Kalimantan Barat. Daerah ini merupakan salah satu daerah transmigrasi. Di sana ada penduduk pendatang dari jawa yang membuka lahan dan kemudian bertani. Ada penduduk transmigran ini yang menanam padi, sawi, labu, ketimun, juga buah-buahan seperti pisang dan rambutan..

Lahan yang ditinggali penduduk transmigran ini sebelumnya adlah hutan tempat Kancil Hosei tinggal bersama biawak, babi hutan, ular, kera dan juga burung-burung. Awalnya, melihat kedatangan penduduk baru Hosei merasa sedih. Karena itu berarti tempat tinggal dan bermainnya bersama kawan-kawan akan berkurang. Namun ketika melihat para penduduk baru itu mulai bercocok tanam, mengolah tanah dan menanam beberapa tumbuhan di ladang, para binatang itu penasaran.

Tumbuhan yang ditanam penduduk baru itu tumbuh subur karena tanah yang mereka gunakan adalah bekas hutan yang masih banyak mengandung humus, pupuk kompos dari dedaunan yang gugur dan tertimbun lama di dalam tanah. Tanaman sawi tampak hijau dan segar. Labu dan ketimun mulai berbuah kecil-kecil. Kancil Hosei yang sering mengamati kegiatan para petani itu, semakin penasaran dengan tanaman sayur dan buah yang tampak begitu menggiurkan.

Sudah beberapa hari ini Kancil Hosei berjalan mengelilingi hutan namun sedikit sekali menemukan makanan. Dia sadar, inilah salah satu akibat hutan yang semakn sempit. Makanan untuknya semakin langka. Kancil merasa perutnya keroncongan.

Di tangah rasa lapar, ia masih berjalan mengitari hutan, berharap menemukan buah murbey atau setandan pisang yang masak di pohon. Kakinya melangkah semakin lemah ketika ia sampai di ladang ketimun. Otak cerdasnya langsung bereaksi, “Ah, aku lapar sekali. Sedangkan buah-buahan ini sepertinya enak. Apakah aku bisa mengambil beberapa buah saja, untuk mengganjal perut yang benar-benar kelaparan ini? Aku sudah tidak sanggup lagi ....” Ia menengok kanan dan kiri. Tidak ada siapapun.

“Bagaimana mungkin aku mengambil tanpa ijin? Tapi jika aku mencari pemiliknya untuk meminta ijin, rasa lapar ini semakin menjadi. Apalagi matahari saat ini seperti sedang memanggang punggungku.” Kancil merintih. Ia sudah tidak kuat lagi berjalan. Matahari memang sedang sangat terik hari itu.

Di tengah perdebatan dalam hatinya, antara ingin makan dan harus seijin empunya tanaman, KancilHosei mengambil keputusan dalam keterpaksaan.

“Ya Tuhan, ampuni aku yang sudah kelaparan dan berniat mengambil ketimun ini untuk bertahan hidup. Aku janji nanti akan kutemui pemilik ladang ini untuk meminta ijinnya.” Kemudian Kancil Hosei memetik tiga buah ketimun dan langsung memakanya.

“Ah, segar dan enak sekali rasanya!” Ujarnya sambil menghabiskan tiga buah ketimun hasil curian.

Sorenya, Kancil Hosei bertemu dengan kera dan menceritakan kisahnya tadi siang. Kera merasa tertarik juga untuk mencicipi ketimun. Kemudian tanpa sepengetahuan Kanci Hosei, kera pergi ke ladang dan ikut makan ketimun di sana saat malam tiba.

Esok paginya, Pak Tani merasa kehilangan. Ia menemukan ada beberapa bekas ujung ketimun yang dibuang, dan kulit ketimun bekas gigitan. Kejadian ini berulang beberapa hari. Pak Tani merasa harus memberi pelajaran kepada para pencuri. Mumpung labu dan sayuran lain belum ikut dicuri. Ia ingin membuat pencuri itu jera.

Maka Pak Tani memasang perangkap. Saat malam tiba, kera kembali beraksi dan ia terjebak perangkap yang dipasang Pak Tani. Tepat pada pagi itu, Kancil juga ingin menemui Pak Tani untuk meminta maaf dan mengaku sudah mencuri ketimuan. Namun sampai di ladang, Kancil Hosei melihat kera temannya sudah terkurung dalam perangkap.

Pak Tani datang dari sisi yang lain. Kancil merasa harus mengetahui duduk masalah sebenarnya sebelum melangkah lebih jauh. Ia kemudian bersembunyi di balik pohon besar dekat ladang, agar bisa mengamati apa yang sedang terjadi.

“Oh, jadi kamu yang mencuri ketimunku? Kera rakus rupanya kamu ya!” Pak Tani marah kepada kera yang sudah terperangkap. Ia sadar, menangkap pencuri kera itu hanya untuk membuatnya jera, bukan membunuhnya. Pak Tani mondar mandir di sekitar perangkap itu, bingung dengan apa yang harus dilakukan. Sementara kera di dalam perangkap tampak ketakutan.

Kancil memutuskan keluar dari persembunyiannya, mendekati Pak Tani.

 “Selamat pagi pak, ada yang bisa saya bantu?” Kancil menyapa Pak Tani ramah.
Eh? Siapa kamu?” Pak Tani merasa terkejut, baru kali ini ia melihat rusa kecil tanpa tanduk bercabang.

“Saya kancil, teman kera yang ada di perangkap itu.”

“Oh, jadi ini temanmu? Kamu tahu, dia itu pencuri! Saya akan menghukumnya!” Ujar Pak Tani kesal.

“Baik pak, bolehkah saya membantu bapak?” Ujar Kancil lembut. Pak Tani terperangah. Membantu? 

“Memangnya, apa yang bisa kamu lakukan?” Pak Tani bertanya heran.

“Saya akan menyampaikan sesuatu, tapi sebelumnya bapak harus berjanji tidak akan marah. Bagaimana, setuju?” Pak Tani tampak berfikir keras.

“Baiklah.” Ujarnya kemudian. Kancil Hosei merasa lega. Kera tidak berani bersuara sama sekali, ia sudah ketakutan sampai tidak sadar sudah buang air kecil di dalam perangkap.

“Pertama, saya mau minta maaf. Beberapa hari yang lalu saya kelaparan dan terpaksa makan tig abuah ketimun bapak dari ladang ini. Sungguh, saat itu saya benar-benar lapar dan tidak menemukan makanan lain, jadi terpaksa saya mencuri.” Ujar kancil pelan, namun cukup membuat Pak Tani terperanjat, apakah itu berarti perangkapku salah menangkap pencuri? Batinnya penuh tanda tanya. Namun ia tetap berusaha menahan marah, sesuai janjinya. Kancil melanjutkan ucapannya.

“Kemudian sorenya, saya bertemu kawan saya kera ini dan bercerita tentang ketimun bapak yang rasanya enak. Mungkin teman saya merasa lapar dan ikut mencuri juga. Kalau bapak tahu, sesungguhnya beberapa bulan ini kami penduduk hutan semakin sulit mendapat makanan. Hutan kami semakin sempit dan itu ulah kalian!” Kancil setengah berteriak kepada Pak Tani.

Sejenak kemudian, Pak Tani merasa bersalah sudah mengambil hak para penduduk hutan. Namun ia juga sudah terlanjur berjanji akan tinggal di tempat ini.

“Aku bingung bagaimana harus menyikapi. Kalian salah sudah mencuri, namun aku sendiri juga salah sudah mengganggu kehidupan kalian.” Ujar Pak Tani lemah.

“Oleh karena itu saya datang ke sini, ingin menawarkan kerjasama.” Ujar kancil mantap, matanya menatap kedua mata Pak Tani, yang masih belum mengerti.

“Maksudnya, kerjasama bagaimana?”

“Pertama, saya salah dan bapak juga salah. Kita sama-sama salah. Maka seharusnya kita saling memaafkan. Namun kesalahan tetaplah kesalahan pak, tidak adil jika dibiarkan. Maka saya tawarkan kesepakatan kedua, kami –saya dan kera teman saya ini- akan membantu bapak merawat tanaman di sini. Tapi sebagai upahnya, bapak harus memberi kami makanan setiap hari. Bagaimana?” Pak Tani merasa bimbang. Bisakah binatang ini dipercaya?

“Saya rugi dong, harus menjamin kalian kenyang setiap hari? Terus kalau kalian ingkar janji, bagaimana?” Pak Tani menimbang-nimbang keputusannya.

“Tidak, tidak akan. Bapak hanya perlu memberi makan jik akami benar-benar bekerja. Jika kami ingkar janji, bapak bisa tidak percaya lagi dengan kami dan boleh menghukum kami dengan hukuman apapun. Setuju?”

Pak Tani akhirnya mengangguk, kemudian melepaskan kera dari perangkapnya. Sejak hari itu, mereka bekerja pada Pak Tani, membantu menyiram tanaman mengolah laha, memberi pupuk dan juga memanen. Kancil dan kera menjalankan kewajibannya dengan baik. Demikian juga Pak Tani selalu menepati janji. Kancil Hosei yang baik hati dapat menyelesaikan masalahnya dengan baik.

#OneDayOnePost
#ODOPChallenge

1 komentar:

Kaos ODOP

Hasil jadi kaos Kira-kira tiga atau empat bulan pasca Kopdar Akbar ODOP pertama, ada wacana ingin membuat kaos ODOP. Koordinatornya...