Jumat, 13 Januari 2017

Pak Miftah, Cool Style of Teacher



“Kalian sudah baca bukunya?”
“Be....belum, pak.” Jawab kami serempak tergagap, tapi pelan.
“Sudah, pak.” Sontak kepala kami mencari sumber suara. Yusuf, pemilik wajah kearaban itu yang bersuara. Kami mendelik. What? Rajin kali dia!
 
“Kalau kalian ngga mau baca buku, gimana bisa paham materi yang akan saya sampaikan?” Kami masih diam mendengar suara Pak Miftah yang penuh wibawa. Kelas menjadi senyap. Padahal, suara bapak sebenarnya pelan, tapi menggema ke seluruh ruangan.

“Tidak ada orang pintar di dunia ini yang tidak suka membaca. Ya, membaca dengan cara apapun. Tidak harus dengan buku. Maka kalian kalau mau pintar, harus banyak membaca. Orang-orang di luar sana, Jepang misalnya. Orang naik bus, menunggu kereta, bahkan menunggu antri beli softdrink saja bisa sambil pegang buku, membaca. Kalian mau ketinggalan berapa abad lagi dari mereka?” Jleb!

Pak Miftah, suara dan nasehatnya selau pelan masuk ke telinga kami, memenuhi ruang kepala dan akhirnya menimbulkan rasa segan jauh melebihi guru lain.

Entah, mungkin wibawa itu yang selalu membuatku bisa mengenang tentang beliau. begitu banyak nasehat, tidak semuanya kuingat. Namun jika aku melihat sesuatu dimanapun yang berhubungan dengan kecerdasan, keanggunan perilaku seorang guru, termasik ucapannya yang pelan namun menggema dalam kepala, aku selalu bis amengingat beliau.

Usianya sekarang mungkin sudah enam puluhan atau tujuh puluhan tahun. Postur tubuhnya tinggi tegap, masa mudanya pasti tampan. Dulu ketika aku SMA beliau sudah setengah baya. Beliau adalah guru Fisika dan Kimia. Aku merasakan istimewanya kepribadian beliau sebagai seorang guru ketika kelas satu, waktu kami diajari Fisika. Saat itu pelajaran Fisika SMA sudah lanjutan dari Fisika tingkat SMP. Jadi ya, rumusnya sudah agak kompleks.

Ketika mengulas kembali pelajaran tentang gerak lurus berubah beraturan, beliau bertanya, “Rumus dasar jarak, apa?” kami memutar otak, mencari rumus itu di dalam tumpukan isi kepala yang berantakan. Sepuluh detik, masih tidak ada jawaban. Saat itu kami tidak bisa membuka internet dengan bebas, lha wong HP saja masih langka. Kami sibuk dengan isi kepala masing-masing, sampai beberapa saat kemudian terdengar pekikan lirih dari bangku seberang, “Woow...”

Di papan depan kelas sudah jelas tertulis:

S = V x t

Oh... Iya! Kami tersenyum malu. Pak Miftah hanya tersenyum, seolah berkata, “makannya, rajinlah membaca biar ngga lupa rumus-rumus sederhana” dalam diamnya. “Nanti kalian akan paham bahwa rumus-rumus yang rumit itu sebenarnya diturunkan dari rumus-rumus yang sederhana semacam ini. Begitu juga kompleksitas hidup, jika diurai akan terdiri dari hal-hal sederhana yang biasa disepelekan oleh manusia.”

Itulah beliau, saat aku masih duduk di kelas 1 SMA. Setiap kehadirannya menimbulkan “dag dig dug” dalam dada. Bukan apa-apa, di mata kami beliau adalah pembawa timbangan keadilan. Tidak pernah kami dapati beliau merokok di kelas, berkata kasar, atau marah tanpa alasan yang jelas. Kalau beliau sampai marah , pasti ada alasan dan alasan itu benar-benar “cukup” untuk menciptakan “kemarahan”.

Aku sih tidak pernah sampai membuat beliau marah padaku. Tapi kalau membuat beliau jengkel akibat aku yang sedikit sulit diberi penjelasan, iya. Alhamdulillah-nya, beliau ngga pernah kesal lama-lama menghadapi kami dengan tingkat kecerdasan yang berbeda.

Kalian pernah lihat film Fast Furious, kan? Masih ingat bagaimana bintang film itu memegang kemudi? Begitu juga Pak Miftah ketika duduk di balik kemudi. Penuh perhitungan dan aku tidak pernah melihat perhitungannya meleset. Buktinya? Tidak ada cerita bahwa beliau menyerempet atau mengalami kecelakaan akibat kesalahan memperhitungan kecepatan.

Saat kelas tiga, beliau menjadi wali kelas kami di kelas 3-IPA, sekaligus guru Kimia yang saat itu kami diajar tim teaching, jadi dua guru mengampu satu mata pelajaran. Pelajaran Kimia kami dipegang oleh Pak Miftah dan Bu Anik, Ibu guru nan cantik ini selalu jadi idola siswa lelaki. Kalau pada jam mengajar Pak Miftah kelas kami sunyi senyap, sebaliknya kalau yang ngajar Bu Anik kelas kami tidak bisa redam dari riuh suara, terutama siswa lelaki yang merasa “segar” diajari bu guru cantik.

Sebagai wali kelas, bapak jugag tetap tidak banyak bicara. Cara mengajarnya juga sama, tidak memberi banyak penjelasan, memberi tugas soal yang harus kami kerjakan, dan menunjuk siswa yang menurut beliau “pantas” diberi pelajaran. Siapapun yang di tunjuk, harus berani maju. Tidak peduli bisa atau tidak, seolah kami harus benar-benar bertanggungjawab sudah mengambil jurusan ini.

Ah, bapak.... Semoga selalu sehat. Kabar terakhir yang kudengar, bapak sudah tidak mengajar lagi di SMA-ku dulu, entah apa masalah sebenarnya, aku tidak paham dan tidak ingin cari tahu. Yang aku percaya, pasti ada alasan karena beliau bukan pribadi yang bertindak tanpa alasan.

Beberapa hari yang lalu, Ratna teman sekelasku dulu di 3-IPA mengabarkan bahwa bapak sempat dirawat di RS Muhammadiyah beberap awaktu yang lalu. “Sakit apa?” Tanyaku.

“Apa ya? Entah, lupa. Bapak abis pulang dari luar negeri gitulah, terus drop.” Jawabnya. Ratna sekarang bekerja di RSM, jadi sering tahu kabar bapak ibu guru SMA kami karena memang RS itu berdiri tepat di sebelah SMAM-kami,

Pak Miftah, aku penyebutnya sebagai penguasa jalan ketika beliau sudah menyetir di jalanan. Tidak ugal-ugalan, tapi cepat dan penuh perhitungan. Beliau adalah master di bidangnya.Namun kami tidak pernah tahu apa saj agelar yang beliau miliki, atau kami yang kuran perhatian pada guru sendiri?

Aku pernah berkhayal, mungkin bukan SMA ini seharusnya tempat bapak berada. Bapak seharusnya ada di LIPI atau sudah menjadi profesor di perguruan tinggi. Khayalan semacam itu pernah kusampaikan pada beliau, yang hanya ditanggapi dengan senyum penuh makna. Ah, benar juga. Kalau bapak ada di LIPI atau jadi profesor, beliau ngga ngajar kami.

Sejak mengenal beliau, aku beranggapan bahwa begitulah seharusnya seorang guru. Menguasai bidang yang diajarinya, memahami hubungannya dengan kehidupan, sekaligus memiliki wibawa yang dapat melekatkan ilmu pada benak anak didiknya.

Cool Style of Teacher.

Begitu Nyimas menyebut beliau dan aku setuju. Diamnya, langkah kakinya, bahkan suaranya selalu keren. Aku tidak bisa luput memperhatikan setiap kata yang beliau ucapkan ketika menjelaskan. Meskipun, beberapa penjelasan itu kemudian menguap begitu saja dari dalam kepala, karena aku tidak mengikatnya dalam catatan atau mengulang kembali pelajaran saat tiba di rumah. Tapi aku termasuk siswa yang beliau sayang. Buktinya? Beliau selalu memanggilku dengan nama lengkap:

Sakifah?

Dan aku suka.
^_^



 
Ini penampakanku beberapa tahun setelah lulus SMA, masih pakai kamera VGA tanpa editan. #Ops

#ODOPChallenge.

3 komentar:

  1. Baru pertama kali liat wajah Kifa lbh deket, manis loo... macam ada gula2 nya gitu

    BalasHapus
  2. Lirikan matanya mak rai... Aku ga kuaaat... Hehehe

    BalasHapus
  3. Hahahaa. Malah pada ngomentari foto ��

    BalasHapus

Rumah Impian

Tak perlu besar, yang penting cukup untuk menampung keluarga inti dan tamu yang datang berkunjung. Entah itu saudara, sahabat, atau...