Sabtu, 18 Februari 2017

Antara Menikah dan Penyelesaian Studi




Semester akhir, adalah tingkat tertinggi dalam tangga studi di perguruan tinggi. Mahasiswa manapun beserta orang tua dan keluarga mereka pasti ingin segera menyelesaikan studi. Setelah itu berharap mendapat pekerjaan yang layak, kemudian menikah dengan pasangan idaman. 

What a wonderful life!


Untuk lulus dari semester akhir, setiap mahasiswa perlu menyusun tugas akhir, skripsi, tesis, apapun itu. Tugas akhir ini merupakan hasil laporan dari sebuah proyek penelitian yang sebelumnya dirancang dan disetujui rancangannya oleh dosen pembimbing. Setelah proposal disetujui, mahasiswa harus menyelesaikan penelitiannya dan membuat laporan sesuai dengana rahan dari dosen pembimbing.

Untuk menyelesaikan penelitian dan laporan inilah, setiap mahasiswa bisa jadi mengalami cobaan yang berbeda-beda. Namanya juga mau lulus dari perguruan tinggi, ujiannya jauh lebih “nyata” dibanding dengan UN yang tersedia jawaban pilihan ganda. Ah, tapi kan mending jawaban essai dibanding dengan pilihan ganda? Yang jika salah satu saja, maka nilainya 0. Sedangkan jawaban uraian masih memungkinkan mendapat nilai sekalipun jawaban dari pertanyaan tersebut kurang tepat?

Ehm, mungkin perlu dibuktikan bahwa ujian untuk lulus kuliah ini rasanya jauh lebih “nano-nano” ketimbang UN sekolah dasar hingga menengah atas?

Gampang. Coba saja kuliah, lalu sampai di semester akhir ... rasakan sendiri!

Dan disinilah aku sekarang.

Lalu apa hubungannya judul tulisan ini dengan tugas akhir?

Entah, tadi jari-jari begitu saja ingin mengetik hubungan antara pilihan untuk menikah dengan penyelesaian studi.

Bagi laki-laki, mungkin menikah tidak selalu menjadi tujuan utama setelah selesai studi. Mereka dibebani “tanggung jawab” atas nafkah lahir dan batin setelah emnikah. Bagi yang belum siap, memiliki sumber penghasilan mungkin menjadi prioritas yang lebih penting dibanding pernikahan.

Sedangkan bagi perempuan, sebagian iya sih memprioritaskan karir sebagai target utama setelah lulus. Tapi sebagian yang lain memilih menikah sebagai prioritas utama. Mengingat permintaan orang tua, saudara yang akan melangkahi jika tidak segera, atau usia yang tidak lagi muda bisa jadi pendorong untuk segera menggenapkan separuh agama.

Masalahnya adalah, ketika ingin menikah tapi belum ada calon. Mau menikah dengan siapa?

Sama seperti lelaki yang belum tahu mau kerja di mana setelah lulus. Tidak punya target perusahaan yang akan dituju, Bahkan belum pernah mencoba menyusun daftar riwayat hidup atau CV.

Dapatkah studi segera selesai?

Tanpa motivasi tertentu, studi itu tidak akan pernah selesai. Percayalah. Kuliah tidak akan sama dengan sekolah yang UN terjadwal pasti, program belajar tambahan disusun rapi oleh para guru, termasuk try out menjelang ujian penentu kelulusan itu. Kuliah? Selama kita tidak memprogram diri sendiri untuk segera selesai, maka lulus hanya akan jadi mimpi dan bunga tidur yang selamanya hanya jadi angan semu.

Maka, jika ingin segera lulus, prioritaskan! Tentukan motivasi terbesar apa yang membuat “harus” segera selesai studi ini. Bisa jadi, permintaan orang tua, tunggakan sewa kos yang membayang, tagihan SPP yang akan mekar bak bunga jika waktunya tiba, termsuk target akan kerja di mana atau akan menikah dengan siapa.

Menetapkan prioritas dan motivasi terbesar itu, sesungguhnya jauh lebih penting ketimbang menetapkan judul penelitian. Ngga percaya? Buktikan!


Lalu rasakan, karena tanpa motivasi istimewa dan prioritas yang benar-benar penting, semangat untuk lulus itu tidak akan tercipta begitu kuat: untuk mahasiswa.


#LulusSegera
#Harapan

3 komentar:

Yang Terbaik

Edited by canva "Iya Ki, insya Allah kamu dapat yang terbaik."