Kamis, 16 Februari 2017

Earth: Flat or A Spinning Globe?



Apa bentuk bumi yang anda yakini?


Apakah bulat? Seperti yang kita pelajari dalam ilmu sience di sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Teori yang menguatkan anggapan ini banyak dijelaskan oleh NASA, ilmuwan internasional, seminar bahkan bukti-bukti rekaman video dan gambar dari luar angkasa. Imajinasi yang luar biasa juga digunakan oleh para novelis dan penulis script film tentang kehidupan alam semesta. Sehingga dengan mudah kita bisa meyakini, benar bahwa bumi ini berbentuk bulat.

Atau datar? Seperti yang viral diberitakan media sosial sejak 2015. Videonya bisa dengan mudah kita akses di youtube. Tulisan tentang flat earth dalam bahasa indonesia juga sudah banyak beredar di google. Tinggal kita mau membaca, atau tidak. Sebenarnya teori ini juga sudah cukup berumur. Flat Earth Society atau dikenal sebagai International Flat Earth Society / International Flat Earth Research Society, adalah sebuah organisasi interasional yang didirikan oleh Samuel Shenton pada tahun 1956 di California. Organisasi ini sempat tidak aktif pada 2001 dan diaktifkan kembali baru-baru ini oleh Daniel Shenton.

Kedua teori tersebut memiliki dasar yang sama kuat. Perdebatan mengenai bentuk bumi sudah berlangsung sejak beberapa abad yang lalu. Dan hingga sekarang, belum menemui titik temu. Kita bisa berdebat dengan anggapan masing-masing. Menganggap benar apa yang kita yakini. Ya, bukankah kita hanya bisa menganggap benar setelah yakin? Atau tahu bahwa itu benar baru bisa diyakini? Ah, pikirkan baik-baik. Mana yang seharusnya didahulukan: keyakinan atau bukti kebenaran?

Sebagai muslim, saya tidak ingin meyakini salah satu dari kedua teori tersebut. Kesimpulannya: saya belum yakin apa bentuk bumi sebenarnya, dan belum bisa menentukan mana yang benar dari kedua teori tersebut. Ya, karena agama saya mengajarkan bahwa yang harus diyakini kebenarannya adalah setiap hal yang sesuai dengan kitabNya: Al Qur’an. Itulah kebenaran mutlak yang tidak terbantahkan; menurut pemahaman saya.

Lalu apa yang dikatakan Al Qur’an mengenai bentuk bumi?

Sebelum membahas lebih jauh, mari kita akui kenyataan bahwa setiap hari kita mengalami pergeseran waktu. Dari siang ke malam, dari malam kembali ke siang. Kita menyaksikan matahari beredar pada garis yang tepat, pada waktu yang tepat. Tidak pernah tercatat dalam sejarah manapun, kita yang hidup di Indonesia, melihat matahari terbit jam 12 siang atau tiba-tiba muncul dari timur pada jam tiga sore. Kekacauan semacam itu hanya akan terjadi pada hari kiamat, bukan?

Apakah pergeseran matahari itu gerakan perspektif, bukan peredaran benda langit melalui orbit?

Di waktu yang lain, kita pernah menyaksikan gerhana bulan, gerhana matahari, cuaca dan musim yang silih berganti. Semua berjalan begitu teratur karena kita yakin ada yang mengaturnya. Semua fenomena tersebut didukung dengan ilmu pengetahuan yang kita pelajari di bangku sekolah. Tentang pergantian siang dan malam, musim, adanya gerhana dan sebagainya, adalah akibat dari rotasi dan evolusi bumi. Kita yakin bahwa bumi ini berbentuk bulat, berputar dalam porosnya dan mengelilingi matahari sesuai orbitnya. Begitu?

Kita melihat bulan tampak beredar menurut orbitnya. Tidak melenceng walau ribuan tahun. Apakah dia bergerak karena gravitasi bumi? Lalu kenapa tidak jatuh? Kemudian satelit yang katanya menembus atmosfer, terbang di ruang tanpa gravitasi, bukankah bulan jaraknya lebih jauh lagi, kenapa satelit tidak tertarik gravitasi bumi dan jatuh?

Ini baru kejadian sehari-hari yang pernah kita alami. Tapi jujur, diantara kita belum pernah ada yang membuktikan semua teori tersebut di dunia nyata, bukan?

Zaman semakin modern dan peralatan yang berhasil diciptakan manusia semakin canggih. Kamera, pesawat, satelit, bahkan misi ke ruang angkasa. Apakah semua bisa dipercaya?

Teori flat earth yang dicetuskan oleh para flatter akhir-akhir ini tampak ingin mematahkan semua teori tersebut. Dengan berbagai data pendukung seperti jurnal, catatan perjalanan, peta dunia datar para petualang dan pelaut jauh sebelum perhitungan tahun masehi dimulai, sampai clue yang disampaikan dalam berbagai film modern seperti The Hunger Games: Catching Fire, iklan Hennesy dengan teori firmanent-nya, Under The Dome, dan banyak film lain yang diam-diam (kalau tidak bisa disebut terselubung) menyampaikan fakta bahwa sesungguhnya bentuk bumi ini datar. Dilengkapi dengan sebuah kubah tak tembus manusia dan segala peralatan ciptaannya yang dianggap sebagai langit.

Tentu tulisan ini akan menjadi sangat panjang jika harus memaparkan fakta dari kedua kubu yang berusaha saling mematahkan. Sebuah perdebatan dengan data-data akurat, bukan debat kusir yang tidak berujung. Sebagai orang awam, saya lebih menikmati perdebatan pengetahuan itu sebagai bukti bahwa sesungguhnya kekuatan manusia untuk memahami tempat tinggalnya sendiri masih sangat terbatas, masih jauh sekali dibawah kekuasaan Tuhan yang menciptakan semesta sedemikian kompleks dan teratur.

Apakah bulan, bintang, itu terletak menempel di kubah bumi yang disebut firmanent oleh para flatter? Atau beredar mengitari bumi jika benar bahwa bumi ini berbentuk bulat?

Kejanggalan-demi kejanggalan tampak dalam kedua teori tersebut. Jika teori jarak antara bumi-bulan dan matahari, serta diameter ketiga benda langit yang disampaikan oleh NASA dan kubunya dianggap salah oleh para flatter, apakah kemudian sesungguhnya bumi, bulan dan matahari bentuknya memang lebih kecil dari perkiraan selama ini? Tapi jika benar bahwa ukuran bumi, bulan dan matahari tidak terlalu besar, kenapa manusia belum bisa menembusnya?

Menurut data flatter, roket atau misi keluar angkasa belum bisa menempuh jarak lebih dari 400 km dari permukaan bumi. Sementara jarak dari bumi ke bulan adalah 4000 km. Apakah berita bahwa Neil Amstrong pernah ke bulan itu bohong? Benarkah dia hanya mau di wawancara sebanyak 2 kali setelah misi tersebut dan menyatakan berhenti dari program NASA setelah kembali ke bumi?

Fakta yang membuat pusing kepala itulah, yang membuat saya menarik diri untuk meyakini salah satu dari keduanya. Anggap saya belum tahu apa bentuk bumi sebenarnya, ada dua kemungkinan menurut para ilmuwan: bulat (atau bulat lonjong), dan datar, seperti piringan yang terbang layaknya pesawat ruang angkasa karya imajinasi kreator film modern kita.

Mungkin benar bahwa manusia belum bisa menembus batas keduanya, membuktikan teori dengan fakta tanpa rekayasa. Manusia baru bisa menembus jarak  400 Km ke atas dan mengebor sejauh 12 Km ke dasar bumi. Sama sekali belum apa-apa dibanding jarak yang dipaparkan masing-masing teori.

Jadi, kebenaran kedua teori tersebut? Selama masih saling mematahkan, belum bisa dinyatakan mana yang paling benar.

Enam masa, waktu yang disebut dalam kitab suci untuk menciptakan langit dan bumi. Mengenai garis orbit, Allah menegaskan dalam Q.S. Ibrahim ayat 33:

33. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.


Dalam Q.S Al Anbiya’ ayat 33:

33. Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.

Perhatikan kata: beredar dalam garis orbitnya. Bentuk apa saja yang memungkinkan sebuah benda beredar, dalam garis orbit? Apakah sebuah piringan raksasa bisa beredar melalui sebuah garis orbit? Ayat inilah yang membuat sebagian ilmuwan muslim menganggap bentuk bumi bulat, namun tdak bulat penuh. Tepatnya, agak lonjong.

Tentang matahari dan bulan, dijelaskan dalam Q.S. Yaasin ayat 38-40:

38. Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui.

Dalam ayat ini, ada kata: berjalan di tempat peredarannya (orbit). Jadi, matahari berjalan? Ke mana?

39. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah Dia sampai ke manzilah yang terakhir) Kembalilah Dia sebagai bentuk tandan yang tua[1267].

Manzilah: lintasan, garis edar, orbit.

40. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya.

[1267] Maksudnya: bulan-bulan itu pada Awal bulan, kecil berbentuk sabit, kemudian sesudah menempati manzilah-manzilah, Dia menjadi purnama, kemudian pada manzilah terakhir kelihatan seperti tandan kering yang melengkung.

Apakah yang dikatakan flatter tentang orbit, peredaran bumi, bulan dan matahari? Apakah siang dan malam benar terjadi akibat gerakan perspektif matahari?

Tujuh lapis. Adalah langit yang sudah diciptakan sang pemilik semesta. Ada di Q.S. Nuh ayat 15:

15. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat?

Ayat-ayat tersebutlah yang lebih layak diyakini kebenarannya. Karena berasal dari zat yang maha hidup, penguasa sekaligus pencipta alam semesta. Ayat-ayat yang menuntut manusia untuk membuktikan kebenarannya. Siapa yang lebih mengetahui segala sesuatu dibanding penciptanya? Tidak ada. Kebenaran Al Qur’an tidak bisa dinafikan, sampai sekarang tidak satupun teori berhasil mematahkan bukti kebenarannya. Bahkan yang terjadi adalah, alam, ilmu pengetahuan dan perkembangan teknologi dari masa ke masa semakin banyak membuktikan kebenaran ayat-ayatNya. Maka disanalah, seharusnya kebenaran bermuara.

Lalu apa yang dikatakan Al Qur’an terkait bentuk bumi? Apakah dia bulat atau datar?

Tidak satupun ayat yang jelas menyatakan apa bentuk bumi, bulan, bintang, bahkan matahari. Apakah bulat, lingkatan, seperti pring datar atau ada bentuk lain? Q.S. Nuh ayat 19 menegaskan:

19. Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan,

Apakah “hamparan” disini berarti bumi datar? Atau hamparan dalam pandangan manusia dimana sejauh mata memandang, kita tidak bisa melihat batas bumi kecuali garis yang menyatukannya dengan laingit? Allahu a’lam. Ulama sendiri terbagi dalam pendapat yang berbeda. Beberapa menyatakan bumi ini datar, namun ada juga yang menyatakan bahwa bumi ini bulat.

Tentang siang dan malam, Al Qur’an memaparkannya dalam puluhan ayat. Bacalah! Atas nama Tuhanmu yang menciptakan. Jika kita ingin menembus langit dan bumi sekalipun, dipersilahkan. Allah menegaskannya dalam Q.S. Ar Rahman ayat 33 berikut ini:

33. Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, Maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan (dari Allah).

Tembuslah!

Wahai para pelajar, calon ilmuwan masa depan, jangan lenakan diri dengan hal-hal sepele dalam hidup. Masih banyak hal penting yang perlu kita prioritaskan. Sebelum langit terbelah dan menjadi merah mawar seperti kilauan minyak.

“Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak.” (Q.S. Ar Rahmaan: 37)

Disanalah, dan pada banyak hal lain disekitar kita. Tidak ada satupun pertanda yang bisa membuat kita mendustakan nikmatNya. Bumi, langit dan semua isinya dalah sumber pengetahuan. Al Qur’an adalah sumber kebenaran. Maka tugas kita sebagai muslim, ada diantara keduanya. Membenarkan Al Qur’an dengan fakta pengetahuan. Akan sanggupkah kita?

Eh, kenapa kebanyakan ayat Al Qur’an yang bicara tentang langit dan bumi ada di ayat ke 33? Adakah hubungan tidak langsung dengan ordo freemansory yang tingkat tertingginya adalah 33? #IgnoreThisSection

Percayalah, kebenaran akan terungkap pada waktu dan oleh tangan yang tepat.

Semoga generasi muslim semakin semangat menjelajahi ilmu pengetahuan. Membenarkan yang benar dan menyalahkan yang salah. Hanya kepada Allah-lah kita patut memohon petunjuk dan kekuatan.

#OneDayOnePost
#Challenge

#MysteriAnalyze

3 komentar:

Rumah Impian

Tak perlu besar, yang penting cukup untuk menampung keluarga inti dan tamu yang datang berkunjung. Entah itu saudara, sahabat, atau...