Rabu, 29 Maret 2017

Setahun Bersama(mu)

Pre We-fie


Pagi ini, Facebook kasih peringatan, iya?

Tapi peringatan itu ngga berarti apa-apa. Kecuali kesadaran bahwa menurut perhitungan sistem web facebook, hubungan kita berjalan setahun tepat hari ini.

Setahun? Masa sih baru setahun?

Jangan percaya, itu hoax!

Kita memang baru “saling tahu”, menyapa malu-malu, akhirnya sama-sama malu-maluin waktu “nyemplung” bareng ke ODOP Batch 2, akhir Februari tahun lalu. Tapi kemudian kita baru terhubung di Facebook, tepat setahun sampai hari ini. Kos yang kemudian seiring berjalannya waktu membuat kita tampil apa adanya, tanpa tedeng aling-aling.

Kita ngga kenal lagi jaim atau sok baik. Jengkel, ya jengke aja. Mau marah, ya bilang. Ngga usah pakai istilah baik-baik saja padahal mendem perasaan #Ciee.

Termasuk kalau seneng, ya bilang aja lagi bahagia. Begitu juga kalau lagi kangen. Meski awalnya kerasa “ganjil”, karena bisa telpon berkali-kali dalam sehari. Atau chat berjam-jam tanpa henti.

“Awie kangen, iya?” Tembakku daripada menduga, lebih baik tahu.

“Idih, perasaan kakak aja.” Tawa tak kuasa berderai bersama. Padahal apa susahnya sih, jawab aja “iya”. Ah, wanita.

“Kita ini, mungkin satu sel yang membelah jadi dua, lalu dipisahkan di rahim yang berbeda. Kemudian semakin jauh jarak karena kita tinggal di pulau yang berbeda. Dan meski baru bertemu kembali di dunia maya, itu tidak dapat memungkiri fakta bahwa kita berasal dari satu sel yang sama, meski golongan darah kita juga berbeda.” Ini asumsi paling absurd yang pernah kulempar ke dunia nyata kita.

Dan kamu, percaya begitu saja. Ajaib ya?

Kita memang tidak butuh banyak hal untuk saling percaya. Karena pada dasarnya, jiwa-jiwa manusia dikumpulkan pada sesama jenisnya. Pada hobi, karakter, kebiasaan, hal-hal yang menyenangkan, kita bisa dikumpulkan dengan orang-orang dengan kecenderungan yang sama. Mengapa? Karena begitulah cara kerja jiwa manusia: berkelompok, menyatu dengan yang “sejenis”. Maka itulah kenapa muncul banyak sekali komuni di dunia ini, jauh lebih banyak dari jumlah negara, suku, bahkan mungkin bahasa. Satu orang saja, bisa berkumpul dengan lebih dari sepuluh komunitas (aktif). Tercatat atau tidak, setiap orang pasti punya komunitasnya sendiri.

Lalu, perjalanan kita, akan kemanakah selanjutnya?

Entah, aku juga tidak tahu. Kemana cerita ini harus dibawa. Karena bukan kita yang menciptakannya, maka cukuplah percaya pada sang pembuat rencana Maha Sempurna. Kita jalani saja seadanya, sebahagia yang kita bisa, lalu biarkan kenangan demi kenangan terukir begitu saja.

Abaikan sudah setiap hal yang membuat kesedihan jadi berlipat. Hidup kita tak akan cukup untuk menyesali tanpa mengambil arti. Apa yang terjadi, terjadilah.

Masih kurang beberapa hari lagi, rencana pertemuan kita di dunia nyata terealisasi. Tanggal 12 April 2017 yang akan datang, menjelang sore kujemput engkau di stasiun kota Jogja Istimewa. Lalu kita susuri jalan-jalan (yang biasanya agak macet) menuju rumah seorang kawan, menyampaikan amanah. Setelah selesai, kita hampiri klinik kopi yang sudah hadir dalam mimpimu berhari-hari. Menikmati sore bersamamu, kuharap akan jadi kenangan indah berikutnya yang tak mungkin terlupa.

Perjalanan kita masih harus berlanjut satu setengah jam kemudian. Okelah, setelah satu jam perjalanan yang mungkin agak melelahkan, kita bisa istirahat sejenak di bukit bintang. Menyaksikan malam ditemani kelap kelip jutaan lampu di bawah sana. Menikmati jagung bakar dengan berbagai varian rasa. Manis, sedap, panas dan menggoda. Mungkin kita juga bisa memesan segelas cappucino untuk melengkapi renungan yang terencana. Semoga sore itu, cuaca ramah menyapa kita yang ingin menorehkan sejarah. Biarkan hujan sejenak bersembunyi di balik awan tipis. Kalau kita sudah sampai di Jogja lantai dua, tak masalah jika ia ingin menguasai bumi dengan menurunkan pasukan rintikya.

Malam menjelang 13 April, kan kubiarkan kau menjajah kamar tempatku melepas penat selama ini, semaumu. Kuijinkan engkau untuk mengenalku bukan lagi sebatas suara dan kata, tapi juga kepribadian nyata. Bukankah syarat seseorang bisa memberi pendapat tentang sebuah kepribadian adalah minimal pernah tinggal seatap selama tiga malam? Itu akan jadi malam pertama yang mengesankan. Aku siap kau ganggu untuk tidak tidur semalaman. Tapi semoga tenagamu sudah cukup terkuras selama perjalanan, jadi tak ada alasan untukmu tidak memejamkan mata hingga pagi tiba.

Kenapa rencana ini jadi begitu panjang?

Memang begitu harunsya sebuah rencana, sempurna. Meski realisasinya kita harus berdamai dengan kenyataan. Tak apa, yang penting sudah punya rencana. Tanggal 13 April yang akan datang, kita sudah punya beberapa agenda yang harus diupayakan terlaksana. Pertama, mendapat makanan yang “ramah” dengan tubuhmu. Tentu saja aku tidak ingin kesalahan memilih makanan jadi penyebab rusaknya hari-hari yang harus kita lewati.

Setelah itu? Ada Air Terjun Gedad yang menanti dan pertemuan dengan seorang novelis yang tulisan dan perannya di dunia literasi perlu kita acungi empat jempol: Kak Mini. Hari itu, semoga banyak pelajaran baru yang menanti dan menambah pemahaman kita untuk terus berbagi dengan apa yang kita miliki. Mungkin juga akan habis dengan dominasi jalan-jalan karena banyak tempat yang bisa kita kunjungi di sini.

Hari berikutnya, 14 April kita belum punya banyak rencana. Mau meneruskan jalan-jalan atau istirahat saja? Melihat reputasi perjalananmu, aku tidak yakin kita bisa istirahat melewatkan kesempatan berharga itu. Ah, kau bisa jalan-jalan, belanja, atau mungkin ada rencana lain yang bisa kita lakukan nanti. Coba kita pikirkan lagi.

Sampai tanggal 15 April, kita ada janji mau main ke Solo kan? Nah, semoga tubuh kita cukup siap melakukan perjalanan lebih panjang. Kita akan bertemu orang-orang hebat di sana. Teman-teman ODOP, para penulis keren dan entah siapa lagi yang akan sempat kita temui.

Yang penting, amanah dan janji terbayar dengan rasa bahagia dalam hati.

Selanjutnya, engkau harus bersiap kembali ke pelukan bunda yang menunggu di rumah berbau surga. Jangan ada sesal dan kecewa ya, karena kita akan menempuh perjalanan yang sama hari berikutnya. Hanya beda arah saja. Malaikat-malaikat tak bersayap kita sudah menanti di ujung jalan sana, bersiap membuka pintu untuk kehadiran kita di rumahnya. Tanpa air mata, perpisahan sementara satu sel yang terbelah dua akan kembali jadi nyata. Tak mengapa, semoga pertemuan berikutnya segera kembali menyapa kita.

Sampai jumpa di Jogja, Awie ^_^

6 komentar:

  1. Kamuuuu jahattt kakak... pagi2 uda buat aku brebes mili di pojokan mesin. Tapi, aku suka 😍😍😘😘😘😘

    BalasHapus
  2. woooww, terus terus 🙇🙇🙇🙇

    BalasHapus
  3. Wouwwooo terus-teruss #ikuranuncle ☺☺ seronoknyeee

    BalasHapus
  4. Kyaaaa, ini antara ceria, romantis, dan mengharukan 😆😆😆 ... Ntar kalau udah terealisasi, bikin lagi ya kak tulisannya. Aku penasaraaaaaan 😆😆😆 atau undang aku dong buat jadi fotografer kalian 😂😂😂 ..
    Jazakillahu khairan katsir ya kak Kifaaaa .. semoga acara kalian berkah dan lancar! aamiin allahumma aamiin..
    ^ ~^) 🌧🍊🌧🍊🌧🍊🌧🍊🌧🍊

    BalasHapus

Rumah Impian

Tak perlu besar, yang penting cukup untuk menampung keluarga inti dan tamu yang datang berkunjung. Entah itu saudara, sahabat, atau...