Selasa, 07 Maret 2017

Tahniyah, ya Ashdiqoo-i




Tiga semester berlalu begitu saja. Mulai dari perkenalan malu-malu, senyum simpul tanpa prasangka, sampai kerelaan berbagi dan saling menerima. Semester awal, kita dihadapkan pada lima mata kuliah dengan dosen-dosen luar biasa. Ada yang sangat menjunjug tinggi etika akademik. Sehingga terlambat menjadi pembahasan yang memalukan, apalagi jika ada kesalahan yang bahkan tidak sengaja kita lakukan, bisa jadi bahan bualan yang menyesakkan. 
Ada yang begitu terbuka menerima dan mencerna hujjah para ulama, sehingga kebenaran yang selama ini kita yakini bisa sedikit goyah mendengar penjelasannya. Mungkin dengan begitu, kita dipaksa belajar lebih banyak lagi dan lagi, sekaligus bijak menyikapi perbedaan yang seolah tak pernah bisa dipungkiri dalam kehidupan sehari-hari. Ada yang begitu antusias mengajar, sehingga tidak pernah alpa memberi tugas, membuat kita begadang bermalam-malam untuk menyelesaikannya.

Masuk semester kedua, apakah semua jadi lebih ringan? Nyatanya tidak. Bahkan semakin banyak beban tugas yang harus kita selesaikan. Sekaligus iya, kebersamaan kita semakin terasa dengan banyaknya agenda jalan-jalan yang terlaksana. Begitu juga ketika sampai di semester tiga. hampir semua rencana kita *terutama jalan-jalan, bisa terlaksana. Mulai dari pantai, kota, situs budaya, pusat belanja, sampai gunung dan camping disana walau sebagian awalnya terpaksa dan setelahnya ada penyesalan tersisa. #karena ngga tau bakal selelah itu. Ah, tak mengapa, yang penting kita bahagia-nya lillah. Iya kan? Jangan ada yang menyesal lagi ya, kalau ada tempat yang ingin dikunjungi bersama lagi katakan saja. Sebelum menyesal nanti.

Semester empat, kita semakin jarang bersua. Kesibukan untuk menyelesaikan proyek penelitian masing-masing otomatis membatasi pertemuan. Sebagian bahkan harus pulang kampung untuk mengambil data, sekalian menuntaskan rindu pada keluarga. Ada juga yang berhasil menapakkan kaki di lima negara, menuntaskan salah satu resolusi tahun baru ya? Semua, begitu penuh warna. Meski tak banyak lagi canda yang tercipta.

Mungkin pernah ada satu, dua atau bahkan beberapa hal yang tanpa kita sadari sudah menggoreskan luka. Entah lewat ucap atau sikap, entah lewat perhatian atau pengabaian, entah mungkin juga karena kita yang belum tuntas saling mengenal kepribadian. Apapun itu, semoga tdak lebih berharga dari kenangan dan rasa bahagia yang pernah tercipta diantara kita.

Februari 2017, sudah ada tiga teman kita yang berhasil menuntaskan penelitian dan mengajukannya ke meja sidang. Luar biasa, Kak Iman dan dua saudari calon bidadari bumi (ukhtina Nurul Susianti dan Fitriani) berhasil mengenyahkan serangkaian halangan yang sempat datang. Sungguh, itu pencapaian yang luar biasa, kawan. Salut untuk kalian. Menyandang gelar M.E hanya dua bulan setelah usai semester tiga, itu berarti tidak lebih dari 20 bulan kalian menyelesaikan studi magister ini.

Apa yang pernah kita impikan? Masuk bersama, keluarpun bersama. Semester pertama, kita sempat berangan bahwa satu angkatan spesial ini harus lulus tepat waktu, semuanya. Membayangkan kita wisuda bersama mungkin saat itu bsa dianggap sebagai sebuah utopia, mengingat riwayat kakak angkatan kita yang tidak hanya sulit, tapi juga membuat tampak mustahil. Karena pasti, di tingkat akhir kita sudah dihadapkan pada kepentingan masing-masing. Sedangkan bisa jadi, prioritas kita berbeda untuk menyelesaikan tugas akhir.

Tapi buktinya, kalian bertiga mampu menyelesaikannya lebih cepat dari empat semester yang ditarget sebelumnya. Ah, kalau saja tidak ingat bahwa penyelesaian tesis memang tidak sama dengan proses kreatif sebuah cerpen atau artikel harian, mungkin iri bisa menjadi pilihan. Iri dalam kebaikan, tidak dilarang, bukan?

Tapi tidak. Memang seharusnya berbeda, dan begini adanya. Jika di tiga semester pertama kita bisa lulus bersama, karena mau tidak mau tanggal ujian sudah ditetapkan dan kita harus menyelesaikan atau mendapat konsekwensi pengulangan tanpa alasan, jadwal ujian itu tidak bisa ditawar seperti halnya kita tidak bisa menawar nilai. Namun di semester akhir ini, kita harus menetapkan tanggal ujian dan lulus sendiri-sendiri. Nilai yang kita dapat, tentu sesuai dengan usaha yang dikeluarkan selama ini, kan? Semaksimal usaha, semaksimal itu pula hasilnya. Impas. Jika tidak sesuai harapan? Tak mengapa, bisa jadi memang usaha kita sebenarnya tidak sekuat harapan itu sendiri. Atau mungkin, masih ada maksud tersembunyi yang akan terbuka suatu hari nanti. Syukuri, agar hati selalu merasa damai.

Mimpi untuk wisuda bersama satu angkatan mungkin harus pupus. Tapi rasanya tetap bahagia karena yang terjadi ketidaksamaan tanggal wisuda kita bukan karena meninggalkan sebagian yang lain *semoga. Karena yang sebenarnya terjadi adalah, sebagian akan wisuda lebih dahulu dan sisanya akan menyusul periode berikutnya. Insya Allah.

Jadi, kapan ini acara makan-makan merayakan kelulusan kalian? Ayolah, bagi semangat agar kami yang belum selesai bisa menyusul semua dan wisuda bersama. Tidak perlu ada baper diantara kita. Toh memang kebersamaan kita ini sementara. Di sebuah persimpangan jalan hidup kita bersua, di persimpangan yang lain mungkin kita harus mengambil jalan yang berbeda. Sederhana, yang perlu kita lakukan adalah bersyukur untuk pertemuan yang pernah ada.

Terima kasih untuk hari-hari yang telah kita lewati, tidak ada yang lebih hebat, lebih pandai, atau lebih sukses sendiri dalam ukuran materi, bahkan nilai. Setidaknya, teman sejati tidak akan menilai begitu untuk menghargai sebuah persahabatan. Cukupkan perasaan dengan saling mengerti, atau memberi pengertian agar tidak terjadi kesalahpahaman. Limpahkan rasa saling memaafkan agar tersisa kerelaan. Bukankah dengan rasa ikhlas kita bisa melangkah lebih ringan ke masa depan?

Masih banyak agenda, rencana, juga cita-cita yang harus kita wujudkan di perjalanan hidup berikutnya. Tahniyah yaa ashdiqoo-i. Selamat teman-temanku, sahabat, saudara dan saudari dalam perjalanan ini. Semoga ilmunya berkah dan lebih bermanfaat agar ekonomi islam membumi di tanah pertiwi.



1 komentar:

  1. Ishhh aku kok jadi brebes Milo gini. Jadi kbayang kawan2 satu kelas, satu angkatan.

    BalasHapus

Masa Depan RCO

Reading Challenge ODOP atau disingkat RCO saat ini sudah masuk angkatan ke-3. Aku sudah pernah ikut ketiganya. RCO pertama, zaman admin ...