Senin, 10 April 2017

Dampak Memilih Pemimpin



1.  

Di Indonesia, pemilihan pemimpin baik tingkat daerah, provinsi, sampai pusat memiliki tempo jabatan selama lima tahun. Satu coblosan, menentukan nasib lima tahun berikurnya. Saat masa kampanye tiba, semua calon berlomba mengunggulkan program. Berbagai cara dilakukan untuk menarik simpati publik. Mulai dari isu SARA, karater, sampai program yang diajukan, bisa saling serang. Yang penting menang.

Lalu apa?

Rakyat kebanyakan hanya menilai siapa yang paling layak menjabat. Melihat dari karakter, track record yang sudah dilalui, juga visi misi. Tidak ketinggalan, opini media cukup membantu untuk menentukan. Rakyat yang dibuai dengan janji dan pesona salah satu paslon pasti cenderung memilih yang “paling” sesuai menurut kata hati. Iya, kata hati.  Bisa jadi kosakata ajaib yang mendominasi.

Padahal sesungguhnya, proses memilih pemimpin di negeri kita adalah salah satu agenda politik nasional. Namanya agenda politk, jelas tidak lepas dari kepentingan politis. Setuju? Jelas! Jadi jangan terlalu naif, kalau mulai dari penentuan paslon sampai selesainya proses pemilihan itu sendiri sarat dengan berbagai kepentingan. Bahkan setelah itu, kontrol masif dari pihak-pihak pemegang kepentigan masih bisa dilakukan. Itulah mengapa janji-janji kampanye hanya bisa menari, sejenak kemudian pergi.

Program kampanye dan semua usaha yang dilakuan oleh masing-masing paslon sesungguhnya mewakili kepentingan yang jauh lebih besar. Mau tau polanya? Bacalah koran, perdalam pemahaman, dan jangan lupa berpegang teguh pada iman. Semoga yang kita temukan adalah kebenaran.

Mengingat bahwa setiap paslon membawa banyak kepentingan di belakangnya, maka sungguh kita harus sadar bahwa sebagai pemilih, tidak bisa cukup mempertimbangkan hanya dengan kata hati. Lebih jauh dari itu, kita harus lihat apa dan siapa di belakangnya. Karena sesungguhnya, “yang dibelakang” inilah penentu lima tahun ke depan.

Bukan soal siapa yang memimpin.

Tapi dia memimpin untuk apa dan siapa? Ini yang perlu dicermati.

Jadi, Ahok maupun Anis itu sama sekali ngga berbahaya. Sungguh. Apa sih artinya dua orang itu? Kalau ada apa-apa terus seluruh jakarta melawan, bisa habis juga kan mereka? Begitu juga siapapun yang jadi presiden, sesungguhnya bukan inti dari gejolak yang terjadi di masyarakat. Kekuatan di belakang mereka, yang jadi motivasi sesungguhnya, akan bertindak sesuai rencana yang sudah disusun matang. Inilah yang seringkali tidak disadari oleh banyak orang.

Jadi, siapkah dengan semua kemungkinan?

Sekarang, masih mau berdalih? “Ah, serahkan saja  sama hukum. Negara ini adalah negara hukum. Semua bisa diselesaikan dibawah payung hukum.” Oh, tolong buka mata, telinga, dan hati seluas-luasnya. Kurang bukti apa kita dengan berbagai aksi di negeri ini. Mulai dari yang dihadiri segelintir orang sampai jutaan, bisakah meredam keinginan para penguasa yang sesungguhnya? Sekedar pereda nyeri, mungkin saja. Hukum negeri ini, diakui atau tidak, sudah banyak dimanipulasi oleh penguasa sendiri.

“Sudah terbukti kan, yang non muslim selama ini bisa jadi pemimpin yang baik, apa salahnya diteruskan?” Hello, coba cermati kata “baik”, pahami benar apa maksudnya. Lalu bandingkan dengan fakta. Jangan asal bicara, pikirkan saja.

Lagi, aneh sih umat islam ini. Diminta loyal sama iman sendiri masih cari dalih pembenaran. Giliran diminta loyal sama “orang lain” malah dengan mudah mengiyakan. Sebenarnya siapa yang ngga konsisten? Ah, kaca mana kaca?

Apa yang ada dibaliknya, bisa dilihat dari siapa yang paling “repot” ketika dia bikin ulah. Jelas, kan?
Sudah, mari pikirkan lagi mau jadi seperti apa lima tahun kedepan. Eh, bukan hanya itu. Tanyakan lagi dalam diri sendiri, iman sedang berdiri di mana? Barangkali masih main ke tetangga sebelah ^_^
Apa beda dampaknya lima tahun ke depan?

Asal tahu saja, negara-negara tetangga itu bisa maju baik secara ekonomi, teknologi, maupun pendidikan karena apa sih? Apa karena mereka banyak kasus korupsi seperti di negeri kita? Ambil contoh, Malaysia, Singapura, China, dan Amerika. Atau kejauhan? Bisa Jepang dan Australia, tidak masalah. Beberapa negara maju itu beberapa puluh tahun yang lalu bahkan kondisinya lebih buruk dari Indonesia. Tapi terbukti, mereka berhasil melakukan percepatan sehingga Indonesia tertinggal. Selain karena dipegang oleh orang yang tepat, bangsa di negara maju memiiki loyalitas yang tinggi terhadap prinsip yang mereka yakini.

Orang Amerika, mereka boleh menguasai perdagangan dunia, namun tidak akan pernah mengekspor sumber daya manusianya. Maka jangan cari penduduk Amerika sebagai pedagang asongan di negara berkembang. Orang jepang, jika membeli barang akan bertanya, “Buatan mana?” kalau bukan buatan bangsa mereka, tidak akan dibelinya. Begitu juga orang China, mereka tidak segan untuk berbagi rahasia kepada kawan sebangsa. Tapi kepada pribumi? Jangan harap. Loyal terhadap prinsip, itu konsekwensi hidup manusia. Jadi jangan selalu dihubungkan dengan SARA.

Lagipula, siapa sebenarnya yang menyinggung SARA? Umat Islam tidak akan bertindak tanpa sebab. Sudah lihat video kampanye kubu penista agama yang terakhir dan sedang menuai kontroversi saat ini? Ini masih masa kampanye, sudah senang sekali sepertinya bikin ulah. Bagaimana nanti jika sudah jadi pemimpin?

Semoga Allah melindungi kekuatan hati kami yang ingin berdiri dan membela kebenaran agama, keyakinan, dan hati nurani.

Lalu, duhai pera muslim dan muslimah yang ingin memilih pemimpin non muslim, sebenarnya kalian loyal kepada siapa? Sudah cukup cerdaskah menggunakan akal dan pikiran untuk membedakan efek lima tahun ke depan? Hidup kita saat ini sedang berada dalam hegemoni kapitalisme yang mencengkeram erat. Kalau belum bisa memperbaiki dan membaliknya jadi sistem yang benar, minimal jangan semakin merusaknya dengan salah pilih pemimpin.

Oke, fix?

Jika belum, mungkin tulisan selanjutnya harus kuurai sistem keuangan setan dengan bahasa yang lebih ringan, semoga bisa meluaskan pemahaman dari buku “Satanic Finance” karya Prof. Dr. (HC) Riawan Amin.

Sampai Jumpa besok ya. Stay tune.

1 komentar:

  1. Pelan.... Pelan bacanya nih sayaaa... Perlu pemahaman mendalam...

    BalasHapus

Masa Depan RCO

Reading Challenge ODOP atau disingkat RCO saat ini sudah masuk angkatan ke-3. Aku sudah pernah ikut ketiganya. RCO pertama, zaman admin ...