Rabu, 05 April 2017

Prof. Dr. KH Said Agil Siradj Tidak Salah Bicara, kawan.

1.      

“Siapa saja yang mampu dan dipercaya rakyat, pemimpin yang adil meski itu non muslim tapi jujur, itu lebin baik daripada pemimpin muslim tapi zalim.”


Semoga kita belum lupa, itulah kalimat yang dilansir beberapa media dari ucapan pemimpin NU, yang merupakan salah satu organinsasi masyarakat terbesar di Indonesia, Prof. Dr. KH Said Agil Siradj. Mungkin kita juga belum lupa, kalimat itu menuai kontroversi beberapa pihak yang menganggap bahwa dengan mengatakan seperti itu, sang kyai mendukung paslon non muslim. 

Benarkah demikian?

Situr resmi NU sudah mengklarifikasi pandangan masyarakat terkait ucapan tersebut. Namun rasanya belum basi membahasnya disini, mengingat balada pilkada belum berakhir dan supaya kita bisa belajar lebih banyak lagi.

Kalau kita mau “googling” sedikit saja, tentang profil sang kyai, pasti jadi tahu siapa dan bagaimana kemampuan akademik beliau. Gelar yang tersemat pada namanya, jelas diperoleh dengan usaha maksimal yang tidak sia-sia, sekaligus menjadi bukti bahwa beliau memiliki kemampuan intelektual di atas rata-rata. Jadi, rasanya mustahil jika ada orang menganggap beliau salah bicara, sebagai seorang muslim terutama. Kecuali yang bicara itu punya kedangkalan intelektual yang tidak bisa diakui begitu saja. Hehe...

Kata Prof. Riawan Amin, “Hati-hati, itu orang pinter yang ngomong. Ngga bisa dipahami gitu aja. Musti dipikirin.” Memang betul, orang pintar kalau ngomong pakai dipikir. Beda dengan orang bodoh yang cenderung ngomong dulu sebelum mikir. Jadi, kita termasuk yang mana? Let’s judge our self, not other.

Mari kita bicara fakta dan logika.

Kalimat yang diucapkan oleh sang kyai tersebut dikutip dari kitab Al Hisbah fi Al Islam aw Wadzifah Al Hukumah Al Islamiyah (hal. 7 dalam cet. Dar El Kutub El Imiyyah Libanon) karya Ibnu Taimiyah. Seorang ulama dunia yang kita kenal dengan keshalihannya. Tapi ilmu yang beliau tulis tidak bisa kita telan mentah-mentah tanpa mencernanya. Salah satu ciri ilmu adalah dia tidak bisa diambil secara parsial, karena akan cenderung merusak tatanan utuh dan membiaskan pesan intinya. Begitu juga dalam kalimat ini. Satu kalimat dari satu bab yang disitir bebas tanpa penjelasan, bisa jadi menyesatkan.

Lalu apa maksudnya?

Ada penjelasan lain yang harus disampaikan juga sebagai pelengkap kalimat tersebut. Ada pembahasan mengenai pemilihan pemimpin. Sungguh, tidak seorangpun ulama shalih yang berani menganjurkan untuk memilih pemimpin non muslim!

Jelas sekali, perintah Allah di dalam Al Qur’an, Surah Ali Imran ayat 28: “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali[192] dengan meninggalkan orang-orang mukmin. barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. dan hanya kepada Allah kembali (mu).”

[192] Wali jamaknya auliyaa: berarti teman yang akrab, juga berarti pemimpin, pelindung atau penolong.

Masih mau ngeyel dengan perintah Allah? Jelas sekali loh, itu fi’il nahiy, yang berarti tegas: LARANGAN!

Memang, apa sih dampaknya? Maaf, soal ini mungkin penjelasannya akan lebih panjang. Kita bahas di tulisan berikutnya ya? Insya Allah.

Sekarang kita fokus, pada apa yang sudah diucapkan salah satu kyai sekaligus pemimpin ormas terbesar di negeri kita tercinta. Apa maksudnya? Tidak, beliau tidak sedang menganjurkan siapapun untuk memilih pemimpin non muslim! Justru beliau menuntut siapapun, terutama umat islam untuk berpikir. Tidak ada yang salah dari kalimat beliau, karena dalam penafsiran panjangnya, begini:

“Siapa saja yang mampu dipercaya rakyat (yang mayoritas muslim), pemimpin yang adil meski itu non muslim tapi jujur, (lihat poinnya: jujur, sekaligus “adil”) itu lebih baik daripada pemimpin muslim tapi zalim.” Kita perlu cermati kalimat terakhir, pemimpin yang zalim. Itu yang seperti apa? Ada contohnya, seperti Ayatolah Khomaini, Muammar Khadaffi, yang membunuh, menyiksa, bahkan menghancurkan bangsa dan negaranya sendiri. Nah, sekarang adakah calon pemimpin yang sudah nyata terbukti bertindak zalim sehingga tidak layak dipilih meskipun dia muslim? Kalau tidak, berarti kewajiban memilih pemimpin muslim itu masih berlaku! Begitu maksud beliau.

Apa iya calon pemimpin non muslim itu lebih baik? Jujur dan adil? Dengan segala perangai dan kalimat kasarnya, juga kebijakan yang banyak mendapat koreksi para ahli. Kalian sudah mengaku pintar, maka semoga memang-benar-benar pintar menentukan pilihan. Berpikirlah jauh ke depan, temuilah berbagai fakta dan sesuaikan dengan teori kehidupan, Jangan lupa, sertakan iman dan pegang kuat-kuat.

Lalu benarkah pemimpin muslim akan lebih baik sesuai janjinya? Masih ragu untuk lebih mendukung pemimpin muslim? Ia tidak akan bisa menjamin apa yang akan terjadi satu atau dua tahun berikutnya. Bisa jadi semua berjalan seperti rencana, atau bahkan sebaliknya.

Ah, berapa pemilu sudah kita lewati? Lalu berapa kali anda sertakan suara untuk memilih pemimpin? Dan mash ingatkah hasilnya? Survey membuktikan bahwa mayoritas dari kita, kecewa setelah musim pemilu. Karena pemimpin yang terpilih tidak menepati janji-janji selama kampanye. Atau minimal, kenyataan yang ada tidak sesuai harapan. Pertanyaannya sekarang, sudah siapkan menerima kekecewaan berikutnya?

Yang terpenting adalah, bahwa prinsip seorang pemimpin akan mewarnai kepemimpinannya. Siapa dan apa yang ia perjuangkan akan menjadi pertimbangan terbaiknya. Maka, pahamilah jangan hanya sosok calonnya, tapi juga kekuatan yang ada dibaliknya.

Hidup ini sangat kompleks kalau kita mau pikirkan semuanya. Tapi sebagai muslim, konsekwensi kita jelas untuk menaati kitab suci. Apapun alasannya, tidak ada yang bisa memisahkan agama, keyakinan yang kita miliki dengan kehidupan. Politik sekalipun! Mau pakai logika apa memisahkan keduanya?

Kalau mau berdebat, silahkan. Tapi pesan saya, berpikirlah sebaik mungkin sebelum berkata. Jangan berkata sebelum berpikir, itu tidak cerdas.

Terima kasih sudah membaca ^_^

4 komentar:

  1. Belum dijelasin pandangan politik beliau gimana , dalam hal ini ttg dukungan ke paslon mana. Klo memang condong ke paslon 2 emang berabe.

    Pemimpin non Muslim yang adil lebih baik Dari pemimpin muslim yang zalim.

    Pertanyaannya apa ahok adil? Apakah anies zalim?

    BalasHapus
  2. Setuju.... Mari belajar...

    BalasHapus

Kaos ODOP

Hasil jadi kaos Kira-kira tiga atau empat bulan pasca Kopdar Akbar ODOP pertama, ada wacana ingin membuat kaos ODOP. Koordinatornya...