Kamis, 25 Mei 2017

Tawakkal Sejak Awal





“Dek,  aku punya kenalan baru. Sepertinya dia menyukaiku.” Perempuan yang telah kuanggap seperti kakak sendiri itu bercerita padaku suatu hari.


“Oh ya, apa buktinya kalau dia beneran suka? Kakak sudah dilamar?” Tanyaku tak kalah antusias. Dalam persepsiku, definisi “suka” antara lawan jenis yang belum menikah dan sudah cukup dewasa, tidak bisa dibuktikan hanya denganpernyataan suka. Harus ada aksi nyata, betul kan?

“Ya ngga gitu, dia baik dek. Enak pula diajak ngobrol. Kami nyambung satu sama lain.” Aku hanya mendengarkan, sampai dia melanjutkan, “Sikapnya itu, dewasa banget. Tapi sayang, ngga jelas. Dia terlalu suka bercanda. Tapi aku suka, bersamanya seperti hilang semua masalah yang ada.”

“Terus? Kakak maunya gimana, serius atau main-main sama dia?” Tanyaku tak kalah santai.

“Ya, gimana. Masa cewek mastiin maunya gimana. Dia kalau diajak ngomong serius malah bercanda terus. Ya aku jadi kebawa, akhirnya ngga tau mau gimana?” Sorot matanya mulai lemah menatapku. Seperti meminta kejelasan harus bagaimana, tapi memangnya aku siapa? Kenal orang yang dia maksud saja tidak. Ah, kakak ini ada-ada saja.

“Hemmm, kalau ngga bisa dijelaskan ya sudah. Ikhlaskan saja kalau akhirnya dia ngga jadi siapa-siapa.” Aku tahu, seketika ekspresinya berubah seperti tidak terima. Tapi apa aku salah ngomong gitu? Syukurlah, dia tidak benar-benar protes.

Begitulah, salah satu dilema usia menjelang dewasa. Saat hati mulai dipenuhi keinginan dan mimpi. Perempuan, biasa ingin mendapat kejelasan perasaan. Sementara lelaki, sebagian dari mereka sekedar menikmati perjalanan. Lalu bagaimana mempertemukan rasa penasaran tentang kejelasan sebuah hubungan?

Ikhlaskan.

Meski tidak semudah diucapkan, memang itu yang harus dilakukan. Lelaki dan perempuan memiliki dunia yang berbeda, pola pikir yang berbeda, dan tentu saja cara mengambil keputusan yang berbeda pula. Perempuan cenderung tergoda dengan perasaan. Diberi harapan sedikit saja, sudah melambung tidak karuan. Sementara lelaki, masik asyik sendiri menikmati hari-hari. Mereka mendominasi keputusan dan sikap di atas logika. Ya, meski tidak semua lelaki berbuat demikian. Ada juga kan lelaki yang emosional, mengambil keputusan berdasar pada keinginan semata?

Mengikhlaskan bukan berarti membiarkan sebuah hubungan berjalan tanpa kejelasan. Tapi lebih dari itu, adalah pekerjaan hati untuk menyiapkan segala bentuk perasaan yang mungkin terjadi nanti. Tawakkal, pasrah, namun tidak menyerah.

Lepaskan.

Jadi perempuan itu harus tegas, tidak bisa hanya mengandalkan sikap manja dan sok imut untuk mencuri perhatian. Kita bukan boneka yang hanya bisa dijadikan mainan. Apalagi hiasan yang hanya bisa dipandang, diteliti, kalau itu artefak bisa jadi lebih memiliki nilai. Dijual dengan harga tinggi. Nah ini?

Jika ada lelaki yang mendekati tanpa bisa menjelaskan hakikat sebuah hubungan, lalu buat apa dipertahankan? Kecuali wahai perempuan, engkau siap diombang-ambing oleh ketidakjelasan perasaan. Jangan menaruh perasaan sembarangan, jika tak ingin dicuri tanpa permisi. Dan engkau duhai lelaki, tidak bisakah sedikit menata diri untuk tidak sembarangan memberi harapan kepada makhluk bernama perempuan? Jika tidak ingin menjalin hubungan serius, maka tegaslah memberi jarak.

Memang, meski tawakkal dipasang sejak awal sebagai tameng diri, perasaan bisa diserang tanpa pertahanan yang berarti. Ah, perempuan.

4 komentar:

  1. Keren Kali tulisanmu dek

    Tulisan yg bikin jleb dan skak mat

    BalasHapus
  2. Keren Kali tulisanmu dek

    Tulisan yg bikin jleb dan skak mat

    BalasHapus
  3. Aku lebih sering datar kalo itu mah .

    BalasHapus

Yang Terbaik

Edited by canva "Iya Ki, insya Allah kamu dapat yang terbaik."