Rabu, 14 Juni 2017

Kehilangan, Bagian Perjuangan Tesis (3)




Sampai di luar, aku kembali berlari ke tempat semula. Motor, tas yang kutitipkan dan pak satpam tidak ada lagi di sana. Aku menoleh ke pos satpam. Pak satpam dan temannya sudah tersenyum melihatku.

Aku kembali berlari menuju mereka, menyerahkan fotokopi KTM dan menerima kunci. Saatnya melanjutkan rencana, mencetak hasil revisi dan menemui dosen pembimbing di FEBI, gedungnya dekat bandara, butuh sekitar sepuluh menit untuk sampai di sana. Waktu semakin sempit sebelum batas waktu bertemu dosen pembimbing kedua.

Semua perasaan campur aduk itu sama sekali tidak membuatku merasa sakit hati. Tidak, ini adalah ujian yang kulalui. Satu kalimat pinta yang terus kuulang sepanjang melalui ujian tadi adalah: “Ya Allah, aku percaya Engkau hanya memberi kejadian terbaik untukku. Kumohon, izinkan aku bisa melalui semua dengan baik, izinkan aku mendapat Acc tesis hari ini agar besok senin bisa mengurus pendaftaran ujian.” Entah, rasanya lega dan tenang selalu mengungkapkan semua keinginan padaNya. Selebihnya, aku pasrah.

Terserah Allah, jika memang takdirku baik untuk bisa ikut ujian periode ini dna wisuda Agustus nanti, pasti ada jalan-jalan yang sudah disiapkanNya sedemikian rupa. Aku hanya perlu menitinya dengan sebaik-baik usaha. Setiap detikku adalah do’a sekaligus tawakkal padaNya. Inilah wujud penghambaanku yang masih jauh dari sempurna. Minimal, inilah caraku untuk bergantung hanya padaNya.

Allahusshomad.

Hanya Allah tempat bergantung. Aku berusaha untuk tidak lagi berhitung dengan logika manusia. Dosen pembimbing keduaku memang terkenal perfeksionis. Bagaimana mungkin mendobrak pertahanan beliau untuk memberi tanda tangan hanya dengan empat kali konsultasi setelah menyerahkan surat pembimbing?

Hanya Allah yang bisa membuat segalanya mungkin. Jika berhitung tentang kesalahan, aku bisa kehilangan semangat. Kenapa baru sekarang aku berjuang menyelesaikan semuanya? Seolah begitu tergesa. Kemana saja berbulan-bulan sebelumnya?

Tidak, aku tidak bersantai ria dan tenggelam dalam kesibukan lain. Sejujurnya, perjalanan menyelesaikan tesis (meskipun draft awalnya kemudian diacak-acak oleh pembimbing), adalah hasil semedi dan perjuanganku untuk memahaminya selama berbulan-bulan. Puluhan buku, jurnal baik bahasa Indonesia maupun english kupelajari untuk memahami alur dan menyusun laporan penelitian. Membuat karya ilmiah selengkap mungkin seperti tesis-tesis lain yang sudah lulus uji adalah kesibukanku siang-malam selama beberapa bulan terakhir. Tentu saja, disamping –kadang- aku membelokkan jari untuk membuka jendela baru dan menulis beberapa cerita atau puisi, sekedar untuk mengusir bosan.

Ya Allah, ridhoilah perjuanganku.

Do’a ini kuulang tak terhitung kali, bersama lafadz lain mengiringi kesungguhan permintaanku. Ini adalah salah satu hari sabtu yang tak akan kulupa sepanjang hidup. Belum, hari belum berakhir setelah kutemukan motor yang sempat “menghilang”. Masih ada ujian dalam bentuk lan yang menghadang. Perjuangan mendapat tanda tangan “Sang Dosen Perfeksionis” yang sangat berkesan. Akan kutulis dalam cerita berikutnya. Tunggu ya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rumah Impian

Tak perlu besar, yang penting cukup untuk menampung keluarga inti dan tamu yang datang berkunjung. Entah itu saudara, sahabat, atau...