Kamis, 15 Juni 2017

Single di Penghujung Ramadhan





Menjadi single merupakan ‘ujian’ tersendiri bagi sebagian orang. Namanya ujian, rasanya ngga enak, berat, menjadi beban pikiran, begitulah. Namanya juga ujian, adalah tahap yang harus dilalui sebelum menapak level berikutnya. Sabar ya, mblo. #Eh


Apalagi pas bulan Ramadhan begini, bulan mulia nan penuh berkah. Sedikit atau banyak bisa jadi baper melanda kaum kita. Eh? Kita? Elu aja kali? Siapa? Gue? Aish, bener sih -_-. Bapernya bukan karena belum punya pasangan. Yakin deh, kaum single itu kuat dan tegar, apalagi yang single-nya lillah. Tapi jangan tanya pas ngeliat pasangan muda lewat di depan mata, diantara mereka ada balita mungil yang digandeng tangannya, tampak mesra dan bahagia. Tidak perlu dipungkiri bahwa terlintas kalimat, “Ih, pengen kaya gitu juga...” Meski hanya dalam kepala. Lalu berusaha meredakan gejolak jiwa sebisanya. Haha

Siksaan hati terberat adalah ketika sepupu, teman dekat atau sahabat yang tahun lalu masih sama-sama single, sekarang sudah punya pasangan, mereka tarawih bareng, update status mudik ke rumah mertua, atau sekedar sadar bahwa sahur tak lagi dibangunkan oleh alarm, sudah cukup!. Lalu pas ketemu ditanya, “Kamu kapan nikah? Truk aja udah gandengan, masa kamu engga? Wortel aja punya teman dansa, masa kamu sendirian kemana-mana?”. Ah, untung ngga ada gelas yang bisa dipecahkan biar ramai. #Ops

Ehm, maaf deh kalau udah ngga sengaja nambah baper. Anggap ini ujian, ngga sengaja.

Ngga papa sih kalau mau baper tingkat dewa, tapi sungguh, kita harus ingat bahwa menjadi single itu tetap istimewa, luar biasa. Ngga percaya?

Pertama, bebas. Bulan Ramadhan adalah bulan mulia, yang harus kita manfaatkan sebaik mungkin untuk terus mendekat padaNya. Kita yang masih single, bisa bebas mau ibadah di mana atau berapa lama. Sedangkan mereka yang sudah punya pasangan, harus mempertimbangkan untuk tidak meninggalkan rumah terlalu lama, kecuali mau i’tikaf berdua (ciieee, baper lagi?) Haha, ops. Apalagi bagi mereka yang sudah dikaruniai momongan, jangankan untuk i’tikaf, bisa tarawih di masjid dengan tenangpun butuh tenaga untuk merelakannya tak terlaksana. Ya, insya Allah ada pahala dalam bentuk berbeda bagi mereka. Tapi Ramadhan, tanpa tarawih berjamaah itu kan, seperti ada sesuatu yang tidak lengkap. Duhai singlelillah, harusnya kita lebih banyak bersyukur. Kita punya waktu lebih panjang untuk bermunajat, berinteraksi dan membangun hubungan vertikal dengan sang pemilik cinta, tanpa perantara. Asik, kan?

Kedua, nikmat. Setiap detik, menit, jam berlalu tanpa ada yang mengganggu minta dibuatkan kopi, minta diperhatikan, atau sekedar menjadi teman berbincang. Sementara tanpa itu semua, kita bisa berinteraksi dengan lebih banyak orang, meluaskan pergaulan dan pengetahuan, atau sekedar jalan-jalan, asal dengan tetap menjaga pandangan.

Dua doang? Iya, jangan banyak-banyak nanti mabok kalau kebanyakan. Sudahlah, tak perlu iri dengan mereka yang sudah punya pasangan. Jika butuh dibangunkan saat sahur, kita masih bisa memasang alarm dengan berbagai nada dering yang pasti lebih merdu dari dengkuran orang tidur. Jika butuh gandengan untuk belanja atau silaturrahim, masih ada adik, kakak, ayah, atau gandengan sama sajadah (ini sih nenteng, bukan gandeng -_-) juga ngga bakal mengurangi  pesona kok. Santai saja.

Atau butuh hiburan anak kecil? Carilah keponakan, anak tetangga, atau anak orang lewat juga boleh buat jadi temen selfie. Jangan lupa kasih mereka es krim ya biar seneng. Sekarang percaya kan, jadi single itu luar biasa? Setrong, girls. Semua ada masanya. Kita hanya tunggu antrian untuk naik pelaminan. yang pentig karang, siapkan diri sebaik mungkin agar ketika saat itu tiba, kita bisa menjalaninya dengan sepenuh jiwa.

Selamat menghidupkan malam-malam penuh berkah, semoga puasa tahun ini mengantar kita sehingga termasuk orang-orang yang bertaqwa.

1 komentar:

Rumah Impian

Tak perlu besar, yang penting cukup untuk menampung keluarga inti dan tamu yang datang berkunjung. Entah itu saudara, sahabat, atau...