Senin, 17 Juli 2017

Blokir Aplikasi Oleh Pemerintah Indonesia




Menkominfo Rudiantara usai menghadiri deklarasi anti radikalisme di Kampus Unpad, Jalan Dipatiukur, Kota Bandung, Jabar pada hari Jumat 14 Juli 2017 telah mengatakan “Kalau tidak ada perbaikan kami akan sangat pertimbangkan menutup platform. Mohon maaf kalau terpaksa harus (menutup). Karena kita ingin menjaga kondusifitas agar teknologi media sosial bisa dimanfaatkan dengan baik. Kalau situs cepat dikontrol oleh Menkominfo. Sementara media sosial itu kan melibatkan pemerintah dan pelakunya sendiri”.


Saat ini, aplikasi Telegram udah tidak bisa digunakan di Indonesia karena diblokir oleh pemerintah melalui kementrian komunikasi dan informasi. Sejauh ini telegram dianggap tidak patuh terhadap peraturan negara sehingga keputusan pemblokiran itu harus diambil. Menanggapi kenyataan tersebut, warganet mulai cemas karena pemerintah mengancam akan menutup aplikasi lain yang tidak dapat menangkal akun pemicu terorisme dan radikalisme.

Warganet menganggap jika pemerintah menutup youtube, facebook, whatssapp hingga Instagram di Indonesia, maka akan ada banyak sekali pihak yang dirugikan. Karena era digital berhasil menghadirkan kesuksesan bagi sebagian orang. Strategi marketing begitu efektif dijalankan melalui berbagai aplikasi tersebut, bahkan dapat mengalahkan usaha yang tidak mampu berinovasi di bidang teknologi.

Pada dasarnya, berbagai platform yang kini membanjiri dunia digital tanah air memang seperti pisau bermata dua, karena mengandung manfaat sekaligus memiliki potensi buruk. Maraknya aksi bom bunuh diri, jaringan terorisme, sampai konten negative dan perilaku criminal disinyalir berasal dari aktivitas warga di dunia maya. Namun di sisi lain, marketing berkembang pesat, ilmu pengetahuan begitu mudah tersebar mendunia, berita apapun dapat dengan mudah kita akses setiap hari.

Menutup platform media sosial sesungguhnya tidak hanya dilakukan oleh pemerintah Indonesia. China, adalah salah satu negara yang memblokir youtube, twitter, bahkan facebook. Menurut beberapa sumber, pemblokiran itu disebabkan karena pemerintah China tidak mau ambil risiko berurusan dengan pihak-pihak yang menentang revolusi. Namun sumber lain menyebutkan bahwa China melakukan pemblokiran dan proteksi ketat pada internet di negaranya untuk melindungi platform lain yang dikembangkan oleh warganegaranya sendiri.

Di China ada Baidu sebagai mesin pencari pengganti Google, Weibo yang berfungsi sama seperti Twitter, dan Youku sebagai pengganti Youtube. Pornografi, konten negative dan isu sara mungkin bisa diminimalisir dengan pemlokiran berbagai platform dan website yang menyediakan konten tersebut. Namun apakah berhasil memutus peredaran berbagai sumber kebobrokan moral manusia tersebut?

Ternyata tidak. Bahkan pemerintah China sendiri yang selama ini gencar dan ketat mengawasi peredaran konten negative pernah beberapa kali membuka blokir dan membiarkan warganya menikmati situs porno. Meski beberapa waktu kemudian situs-situs tersebut kembali diblokir, "Mungkin pemerintah berpikir jika pengguna internet boleh mengakses beberapa konten porno, mereka tidak akan terlalu mengurusi masalah politik," ujar Zhao Jing, analis internet China yang menggunakan nama populer Michael Anti seperti yang kami kutip dari tekno.kompas.com.

Pemblokiran situs porno dan konten negative termasuk mencegah penyebar luasan isu radikalisme perlu terus dilakukan, namun rasanya terlalu berlebihan jika dampaknya pemerintah merasa perlu menutup semua platform. Jika ingin melindungi warga, maka ada dua cara yang perlu ditempuh: melakukan proteksi internet melalui pemblokiran pada semua web dan platform dan meningkatkan proteksi diri terhadap warga pengguna internet. setiap warga perlu disadarkan bahwa konten egatif dapat merusak ota dan moral bangsa sehingga perlu dihindari secara pribadi.


Namun akhirnya, kita boleh merasa lega setelah kemarin (16/7)  Presiden Indonesia Joko Widodo menegaskan tidak aka nada pemblokiran selain Telegram. "Tidak (pemblokiran media sosial yang lain-red). Tidak," tegas Jokowi saat ditemui wartawan usai dirinya meresmikan Akademi Bela Negara di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan, Minggu (16/7/2017, dikutip dari detik.com). Setidaknya, group penulis dan marketing online bisa terus jalan, kan?.

#OneDayOnePost

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kaos ODOP

Hasil jadi kaos Kira-kira tiga atau empat bulan pasca Kopdar Akbar ODOP pertama, ada wacana ingin membuat kaos ODOP. Koordinatornya...