Minggu, 02 Juli 2017

Budi Pekerti Jawa





Ada sebuah adagium yang sering disebut oleh Suryo Mentaram tentang budi pekerti orang Jawa. “Dadi wong jowo kui ora cukup pinter lan lantip, tapi ugo kudu waskito”, begitu kurang lebihnya. Kita sering mendengar istilah “njawani”, atau “menjadi orang jawa”, bukan? Dalam masyarakat kita, ada orang Jawa yang dianggap belum sepenuhnya “jawa”, istilahnya “ora njawani”. Hal ini disebabkan oleh budi pekerti yang dianggap belum sesuai dengan karakteristik khas orang jawa sesungguhnya. Menjadi orang jawa bukan semata karena keturunan atau hubungan darah semata, tapi juga karakter dan kehalusan budi yang sesuai dengan standar enjadi orang jawa. Orang yang menikah dengan suku jawa, para pendatang yang tinggal di Jawa, bisa jadi lebih “Jawa” ketimbang orang Jawa asli. Sementara orang keturunan jawa belum tentu “njawani”.

Memang, perbedaan karakter manusia itu sebuah niscaya tak terbantah. Jangankan dalam masyarakat luas, satu keluarga yang terdiri dari beberapa orangpun memiliki karakter yang berbeda satu sama lain. Namun, secara umum orang jawa memiliki ciri khusus. Budi pekerti yang halus, dianggap pintar, dan bisa menempatkan diri dimanapun. Sehingga jangan heran kalau pemuda pemudi jawa kerap menjadi menantu idaman. #Ops

Menurut para sesepuh dan pinisepuh, seperti yang disampaikan oleh Suryo Mentaram dalam adagiumnya, ukuran pintar bagi orang jawa tidak cukup menjadikannya sebagai “orang jawa”. Ya, karena bagi mereka, orang dianggap pintar ketika pandai berhitung. Misal dengan mengukur gaji berapa, sekolah di amana, pangkat seberapa tinggi, nilai berapa, harta sudah punya apa saja, semua diukur, ini di sebut orang pintar. Segala sesuatu diukur dengan angka, semakin tinggi angka, maka dianggap semakin sukseslah dia.

Nilai yang lebih tinggi dari “pintar” adalah “lantip”. Yaitu orang yang mengerti, mau bagaimana mengambil posisi diri, bagaimana menempatkan diri dalam masyarakat, keluarga, lingkungan, dan sebagainya. Menjadi orang jawa tidak cukup hanya menyandang predikat “pintar” dan “lantip”, tapi juga harus “waskita”, istilah yang bisa diartikan: waspada. Ya, menjadi orang jawa tidak hanya harus pintar dan mengerti posisi diri, tapi juga harus waspada, paham tujuan hidup ini dan hendak kemana harus melangkahkan kaki.

Bagaimana dengan kita, sudahkah “njawani”?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Masa Depan RCO

Reading Challenge ODOP atau disingkat RCO saat ini sudah masuk angkatan ke-3. Aku sudah pernah ikut ketiganya. RCO pertama, zaman admin ...