Senin, 03 Juli 2017

Kejutan dan Daftar Impian  


Istimewanya persahabantan, ia bisa dengan mudah mengubah diri menjadi persaudaraan tanpa syarat. Gratis, tapi bisa jadi juga menyedot isi rekening. Pernahkah kau mengalaminya? Jika iya, pastikan engkau termasuk orang-orang beruntung di dunia.


Ya, sahabat adalah anugerah. Menemukannya adalah karunia sekaligus mutiara dunia. Maka jika sudah menemukannya, jangan sekalipun berusaha melepas walau sehasta. Masih terekam jelas dalam ingatan, pertengahan April 2017 adalah salah satu kejutan yang sekali lagi menghapus satu daftar impian. Kedekatan kami sebelmnya di media sosial membuatku menuliskan pertemuan nyata dengannya sebagais alah satu impian. Hujan rintik-rintik turun menemani laju motor yang kunaiki menuju stasiun Tugu Yogyakarta. Jarum pendek dalam jam di tangan menunjukkan angka tiga. Jadwal kereta api seseorang yang harus kujemput sebentar lagi tiba. Aku menunggu, bertanya kepada petugas, mereka bilang belum datang. Syukurlah, tidak terlambat. Hampir setengah jam menanti, keretanya datang juga.


Aku berusaha mengenali wajah yang selama ini akrab di daftar akun sosial media diantara ratusan penumpang. Gelombang penumpang yang melintasi pintu keluar silih berganti. Namun wajah bulat berkacamata itu tak kunjung kutemukan juga. Aku hampir khawatir dia tak jadi datang, atau turun di stasiun yang salah?


Ah, belum juga khawatirku sirna, sosok berjaket hijau dan berkacamata itu tampak menggeret koper dari kejauhan. Aku lega, rasa khawatir perlahan sirna. Suka cita di hati tak bisa diungkap dengan kata-kata. Perut mules dibuatnya. Inilah yang terjadi saat diri tak mampu menampung perasaan berlebih. Terlalu senang, terlalu khawatir, terlalu takut, biasanya bermuara pada perut. Aku mengabaikannya dan berusaha menetralisir suasana. Pertemuan pertama itu seolah tanpa kesan, namun terukir nyata dalam hati yang bahagia luar biasa.


Bahagia itu berhasil mengusir rasa malu bahkan lelah. Buktinya? Kami bisa membawa satu koper besar dan carrier 19 liter yang sarat muatan di atas motor (ditambah bobot dua orang dewasa) menuju daerah kaliurang, mengunjungi teman dan kemudian menuju klinik kopi.


Iya, K L I N I K K O P I Jogja, punya mas Pepeng si maniak kopi. Tahu, kan? Kalau ngga tahu, tanya aja sama google. Bayangkan saja, kami ke sana dengan sebuah koper besar dan tas ransel yang sudah persis orang pindahan. Beruntung, tidak seorangpun bertanya kami baru diusir sama siapa.


Malu? Engga. Capek? Engga juga. Kok bisa? Karena kami bahagia.


Setelah itu perjalanan kami masih berlanjut  1,5 jam naik ke Jogja lantai dua. Malam penuh bintang menemani syahdunya bahagia tak terkira, mengantar pada istirahat semalam yang menenangkan.


Pertemuan pertama itulah yang mengantar kami pada persahabatan yang lebih erat, persaudaraan yang lebih menguatkan, dan perjalanan yang penuh dengan kejutan. Pertemuan itu menghapus rasa enggan bercerita, jaim mengungkap rasa, bahkan sungkan untuk menegur kala alpa. Daftar impian kami masih banyak, tapi kini dapat kami pastikan, bahwa persahabatan dan persaudaraan yang saling menguatkan mampu mengantar langkah-langkah kecil kami menghapus satu per satu daftar impian karena sudah berhasil dicapai, lewat kejutan demi kejutan yang datangs ilih berganti dalam kehidupan kami.


Salam rindu untuk awie

#OneDayOnePost

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kaos ODOP

Hasil jadi kaos Kira-kira tiga atau empat bulan pasca Kopdar Akbar ODOP pertama, ada wacana ingin membuat kaos ODOP. Koordinatornya...