Kamis, 06 Juli 2017

Malva Kecil



Iqomah waktu ashar di masjid Ar Rahman sudah beberapa menit yang lalu dikumandangkan. Jamaah yang terdiri dari beberapa orang sudah mulai shalat, masuk rakaat kedua. Setelah hari raya, shaf jama’ah masjid kampung ini semakin maju. Ya, karena para pemudik sudah kembali ke habitat masing-masing. Lingkungan sekitar masjid tidak banyak penghuni seperti dahulu kala.


Sedikit kisah tentang Masjid Ar Rahman yang terletak sekitar 100 M dari rumah, berdiri tepat di samping MI tempatku dulu menghabiskan masa kanak-kanak. Konon, menurut para sesepuh masjid ini didirikan oleh kakek buyut kami dan menjadi masjid tertua di desa sekaligus beberapa desa sekitar. Jamaahnya ramai karena belum banyak masjid berdiri seperti sekarang. Maka jangan heran, masih menurut cerita, dulu di samping masjid ada pondok yang dihuni anak-anak baik keturunan mbah buyut maupun anak-anak desa sekitar yang menuntut ilmu sebelum Madrasah Ibtidaiyah didirikan. Pengajarnya adalah para sesepuh kami yang juga merupakan santri Ponpes Tambakberas, Tebuireng, atau Rejoso.

Sejak adanya sekolah yang didirikan atas nama yayasan keluarga besar, pondok hanya dipakai untuk mengaji kitab suci dan kitab kuning. Pelajaran umum diberikan di sekolah. Selanjutnya, dari yayasan sekolah ini diserahkan kepada Ormas Muhammadiyah hingga sekarang. Seiring waktu, para pengajar banyak merantau dan santri semakin sedikit karena banyak bermunculan tempat belajar baru. Masjid lain juga banyak didirikan.

Waktu aku kecil, bangunan yang katanya pondok itu sudah berubah fungsi jadi gudang kayu dan keranda mayat. Kesan angker menguar dari sana. Pernah waktu kelas 6 MI aku masak nasi bersama teman-teman untuk acara perpisahan di teras pondok itu, satu jam lamanya belum masak juga. Padahal normalnya menanak nasi maksimal 30 menit sudah tanak. Sekarang, pondok itu tinggal kenangan. MI Muhammadiyah XI masih berdiri kokoh. Demikian juga Masjid Ar Rahman. Meskipun ramai jamaah hanya ketika hari jum’at dan bulan Ramadhan (seperti kebanyakan masjid di kampung lain), masjid ini tetap terawat dan nyaman digunakan.

Satu gang tempat masjid ini berdiri adalah anggota keluarga besar kami. Ada sebelas rumah dengan arsitektur belanda yang berdiri. Ciri khasnya adalah tinggi (butuh 3-4 anak tangga untuk mencapai lantainya dan dinding sekitar 4 meter untuk mencapai atap) dan berdinding tebal karena disusun dengan dua batu bata di setiap sisinya. Ukurannya jauh lebih besar dari rumah type 36. Namun tidak semua berpenghuni. Satu rumah beralih fungsi jadi rumah walet, lima rumah tidak berpenghuni (dua diantaranya hampir roboh) sehingga tinggal lima rumah yang dihuni manusia. Menurut para sesepuh, rumah-rumah kosong itu kini dihuni genderuwo. Hehe

Seperti sore ini, hanya satu shaf jamaah laki-laki hampir penuh. Jamaah perempuan hanya ada dua orang, aku dan tetangga yang juga masih “bulik” bagiku. Masuk rakaat kedua, tidak ada tanda-tanda jamaah bertambah. Tiba-tiba ada bayangan kecil masuk ke dalam masjid, mengenakan mukena warna orange. Kupikir anak bulik yang berdiri di sampingku.

Setelah salam, baru kusadari bahwa gadis kecil yang masbuq (jamaah terlambat) tadi adalah Malva, gadis kecil uang usianya belum genap tujuh tahun, tapi tubuhnya masih serupa anak TK karena mungil, tetangga kami yang tinggal di seberang masjid. Dari rumahku, masjid terletak di ujung pertigaan arah barat, sebelah kanan jalan. Pertigaan itu mengarah ke tiga jalan, timur menuju rumahku dan pusat desa, selatan dan utara adalah jalan utama kabupaten, menghubungkan desa kami dengan kecamatan lain. Rumah Malva terletak di sebelah barat masjid, seberang jalan kabupaten yang melintang dari selatan ke utara. Tentu butuh dua kali menyeberang baginya untuk sampai ke masjid.

Usia mungkin membuatnya paham bahwa ia sudah cukup besar untuk berangkat sendiri ke masjid, tapi melihat tubuhnya yang mungil dan imut, aku sedikit khawatir dia di culik di tengah jalan. Kehadirannya dalam shalat jamaah kali ini membuatku malu karena terkenang cerita ibu.

“Malva itu sering ke masjid sendiri. Meskipun ngga ada kakak atau orang tuanya, dia berangkat sendiri. Anaknya pemberani. Tiap dhuhur, ashar dan maghrib biasanya dia ke masjid. Kalau isya’ sama shubuh mungkin karena belum diizinkan orang tuanya berangkat sendiri.” Beberapa hari yang lalu ibu bercerita tentang gadis kecil itu, ketika kutanya siapa yang sering ikut jamaah ke masjid.

Ya, shalat jamaah ke masjid memang sangat berat bagi sebagian orang. Jangankan yang rumahnya jauh, yang tinggal beberapa langkah menuju masjidpun tidak selalu terketuk hatinya untuk segera mengambil wudhu saat adzan berkumandang. Malu rasanya, jika diri ini kalah semangat dengan Malva kecil, yang selalu semangat datang ke masjid meski sendirian.

Satu lagi hal istimewa tentangnya, setelah salam tentu selesailah ritual shalat kami. Namun Malva sadar, tadi datang terlambat dan harus menambah satu rakaat yang tertinggal. Dia menunaikannya dengan khusyuk, tanpa main-main sedikitpun hingga selesai salam. Aku dulu seusianya, apakah sudah se-mengerti itu tentang bab shalat?

Selain Malva, ada jamaah anak-anak yang juga rajin ke masjid sejak belia. Syifa’ dan Daffa mulai dekat dan sering ke masjid sejak TK hingga sekarang kelas 6 SD, sudah bisa rutin lima waktu ke masjid (jika sedang di rumah), Risma, Rizam, Nabila, Rizky, juga Farizah yang belum sekolah juga sering ke masjid jika sedang liburan di rumah kakek-neneknya yang juga takmir masjid ini.


Allah kariim, semoga kelak aku bisa mendidik anak-anak yang shalih dan shalihah, yang hatinya terpaut pada masjid sejak belia. Karena dari masjidlah peradaban Islam bisa bangkit, berkembang dan kembali jaya. Siapa lagi yang bisa berperan jika bukan anak-anakpemuda dan penerus generasi umat kita?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kaos ODOP

Hasil jadi kaos Kira-kira tiga atau empat bulan pasca Kopdar Akbar ODOP pertama, ada wacana ingin membuat kaos ODOP. Koordinatornya...