Minggu, 16 Juli 2017

Sakit Itu Mengubahku


Sebagian besar orang hanya bisa mengeluh saat tiba-tiba sakit. Awalnya, akupun begitu. Merasakan sakit tanpa alasan rasanya tidak bisa diterima. Bagaimana mungkin? Aku biasa makan dengan teratur, tidak terlalu banyak, olahraga, banyak kegiatan, cukup minum, asupan gizi terpenuhi. Kurang apa lagi?


Tapi serangan itu tak butuh sekali untuk menunjukkan eksistensi diri. Jantung tiba-tiba berdegup kencang, tekanan darah turun drastis, disusul tubuh yang melemas seperti baju tanpa hanger, ambruk. Tidak cukup sampai disitu, tingkat kesadaran perlahan terus turun diikuti keringat dingin yang membanjir. Telapak tangan dan ujung kaki terasa dingin, perlu beberapa lapis selimut untuk membuatnya hangat. Tapi sekali lagi, keringat terus keluar dari kepala, wajah, hingga tubuh. Lebih deras dari efek berlari kecil sejauh 1 KM. Keringat dingin, membuat pakaianku terasa basah dalam 1-2 jam sejak serangan itu datang.

Rasa sakit paling terasa ada di dada sebelah kiri. Nyeri, seperti ditindih benda berat yang membuat sesak napas. Sementara jika diperhatikan, degup jantung membuat dada sebelah kiri tampak kejang, seperti melompat-lompat tanpa aturan. Pakaian luarpun tampak jelas bergerak naik-turun mengikuti gerak jantung tanpa irama.

Jangan tanya soal sakit di kepala, rasanya kematian saat itu begitu dekat. Hati dan logika mencoba terus bekerjasama untuk mengikhlaskan semua. Bilakah waktuku sudah habis untuk hidup di dunia? Apakah malaikat maut datang menjemputku sekarang? Apakah yang akan kuserahkan padaNya di hari pengadilan nanti? Aku belum punya cukup bekal untuk melangkah di dunia keabadian. Masih banyak dosa yang pernah kulakukan, belum terhapus oleh amal kebaikan. Tapi jika benar sakit ini mengantarku ke sana, apa yang bisa kulakukan? Tentu Allah dan malaikatNya tak akan menerima satupun alasan penundaan.

Aku pasrah. Nyawa, tubuh, bahkan pakaian yang melekat di badan adalah milikNya. Aku hadir ke dunia ini dalam keadaan telanjang, tanpa harta apalagi tahta. Segala bentuk sanjungan orang, apresiasi menyenangkan, bahkan seulas pujian begitu mudah dilupakan. Saat itu, satu-satunya hal yang kuinginkan adalah: Allah ridha atas hidupku. Tidak, bukan lagi neraka yang kutakuti. Untuk apa takut pada neraka, sedangkan aku pernah dengan berani melanggar laranganNya? Untuk apa khawatir disiksa, padahal sebelumnya dosa pernah begitu saja kulakukan tanpa mempertimbangkan akibatnya?


Bukan lagi surga yang kuharap. Tidak pantas rasanya. Surga itu mahal, mana mungkin mampu kubeli dengan amal yang pernah kutekuni, dzikir yang terlintas dalam hati, juga do’a-do’a yang merantai melangitkan harap, sedangkan nilainya mungkin tak lebih berharga dari sebutir debu ditengah gurun pasir? Aku tak peduli, kemana kehendakNya ingin membawaku saat itu. Bagiku, yang penting Allah ridha, dimanapun aku harus berdiri akhirnya.

Rupanya dugaanku untuk segera meninggalkan dunia itu salah. Buktinya, sekarang aku masih diberi kesempatan mengetik huruf demi huruf dalam tulisan ini. Rupanya tugas hidupku belum selesai. Masih ada kesempatan yang tak kutahu sampai kapan. Belum satupun dokter kutemui untuk konsultasi hingga saat ini. Bukan karena khawatir tak mampu membayar tagihannya, tapi takut tak cukup kuat mengetahui hasilnya.

Serangan seperti itu hanya berlangsung paling lama delapan jam. Setelah itu semua kembali normal seperti tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Pernah sekali diantar ke klinik dekat rumah dan petugas medis melakukan pemeriksaan dasar. Saat itu kondisiku sudah cukup stabil sehingga bisa dibawa ke klinik. Petugas medis bilang aku hanya kecapekan, tekanan darah rendah karena dibawah 90. Obat yang diberikan adalah vitamin dan tablet tambah darah, tidak ada obat lain atau pertimbangan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Aku berasumsi bahwa saat itu mereka tidak curiga adanya sesuatu yang janggal dalam tubuhku selain kecapekan.

Aku memilih melakukan riset kecil sendiri, menganalisis penyebab, mencari faktor pemicu dan cara tepat mengatasinya ketika serangan serupa datang. Internet menjadi sumber berita utama, konsultasi dokter secara online juga pernah kulakukan. Termasuk observasi kecil, semacam melakukan penelitian pada diri sendiri.

Hasilnya? Serangan itu datang setiap ada beban pikiran yang terlalu berat. Orang lain bisa melihatku seolah tanpa masalah dan bersikap tenang, tapi jauh di dalam diri, aku selalu memikirkan banyak hal. Mulai dari hal-hal sepele seperti penilaian orang tentangku, hingga rencana-rencana masa depan lengkap dengan berbagai pertimbangan logika. Aku cenderung merasa “harus” melakukan dan menyelesaikan apa yang sudah kurencanakan, atau kalau perlu memaksa, atau kecewa jika kenyataan tak sesuai harapan. Aku sering merasa sendiri menghadapi semua ini, sepi tak terperi. Satu demi satu beban pikiran itu menorehkan luka psikologi tanpa kusadari. Berbeda dengan luka fisik yang tampak jelas, berdarah-darah, bisa diobati dan dipantau perkembangan kesembuhannya setiap saat. Tapi luka di jiwa, siapa bisa mengukurnya?

Perlahan tapi pasti, aku berubah. Kutarik nafas lebih dalam dan panjang. Bukankah setiap hal terjadi sesuai dengan ketetapanNya? Maka tak ada alasan selain harus mengikhlaskan. Aku belajar menerima, membebaskan jiwa dari rasa tertekan, membiarkan setiap mimpi melambung tinggi. Aku berusaha merasa bahagia apapun yang terjadi. Tak peduli lagi pada rasa sakit, kecewa, atau keraguan yang timbul menghias hari. bahagia adalah keputusan, maka aku hanya perlu memutuskan untuk selalu bahagia, agar perasaan buruk pergi sendiri berganti dengan atmosfer menyenangkan dalam hati.
Demi menyembuhkan diri sendiri, aku hijrah ke Jogja. Melanjutkan jenjang S2, sesungguhnya merupakan keputusan berdasarkan banyak pertimbangan. Ya, hijrah hati, perasaan, jiwa, sekaligus raga. Sejujurnya, menuntut ilmu bukan satu-satunya tujuan. Mungkin inilah yang Allah kehendaki dariku, mengubah diri menjadi lebih ikhlas, tenang, dan menggunakan logika seperti seharusnya. Fitrah wanita memang dominan dengan rasa. Tapi seringkali, perasaan yang terlalu menguasai diri bisa berakibat fatal pada penurunan kondisi fisik.
Sakit itu datang bukan tanpa alasan. Karena dengan merasakan ambang kematian, kemudian kembali pada kenyataan, seolah Allah menegur, “Sadarlah, kau tak pernah sendiri. Ada Aku didekatmu.” Lalu jiwa ini menjadi tenang. Kini aku tak perlu khawatir lagi akan masa lalu, hari ini, dan masa depan. Setiap detik berusaha kulalui dengan hal-hal baik agar terus bermanfaat. Entah, tak peduli sampai kapan kesempatan untuk menjalani kehidupan ini kudapatkan. Jenjang S2 sudah kuselesaikan, yang rasanya tak pernah pantas disebut kebanggaan. Karena rasa bangga tak pernah jadi tujuan untuk melalui semua. Cukuplah rasa lega atas kesempatanku menghirup nafas dengan bebas ini dan upayaku mengamalkan ilmu menjadi sarana syukur tak terbilang hari. Aku siap untuk hari ini, juga nanti.
Terima kasih Ya Allah, untuk rasa sakit yang pernah mengubahku. Tapi sungguh, jika aku boleh meminta, jangan ulangi lagi rasa sakit itu, jika habis waktuku hidup di ala mini, panggil aku dengan caraMu yang indah dalam khusnul khotimah.

Aamiin… 

2 komentar:

Yang Terbaik

Edited by canva "Iya Ki, insya Allah kamu dapat yang terbaik."