Senin, 03 Juli 2017

Saudari dari Bumi Wali






Senang campur deg-degan. Entah kenapa perjalanan ini terasa begitu berkesan, bahkan sebelum kumulai menginjakkan kaki di jalan. Pagi itu, tanggal 2 Juli 2017, saya berencana mengunjungi mba Hiday Nur, salah satu awardee LPDP yang sedang menyelesaikan S2 Islamic Studies di UIN Sunan Ampel Surabaya yang tinggal di Tuban. Pertemuan kami berawal dari group penulis One Day One Post yang diprakarsai oleh Bang Syaiha. Kemudian keakraban dalam group dunia maya tersebut berlanjut ke dunia nyata. Ini adalah pertemuan ketiga kami. Namun rasanya semakin istimewa.


Pertama kali kami bertemu di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun kemarin. Saat itu Mba Hiday ada acara ke Jogja, sementara saya kuliah dan tinggal di Jogja. Jadilah kami bertemu dan melepas penasaran. Mengganti perkenalan di dunia maya dengan pertemuan yang mengikat hati untuk selalu bahagia (#uhuks). Pertemuan kedua kami tercatat di Stadion Manahan Solo. Bersama dengan anggota ODOP domisili Solo dan sekitarnya, kami bertemu lagi dalam kesempatan yang lebih meriah. Rasanya bukan lagi hubungan teman biasa yang terjalin di sana. Tapi sudah terasa seperti saudara dan keluarga yang lama tak berjumpa.


Pertemuan ketiga, adalah kesempatan saya untuk mengenal lebih jauh Mba Hiday yang multitalenta. Ya, beliau adalah sosok salah satu wonder women masa kini. Beberapa profesi yang sekaligus beliau geluti membuktikan bahwa saya sudah menyebut beliau multitalenta itu bukan isapan jari. Beliau adalah seorang istri, ibu dari dua anak, guru, penyiar radio, penulis, mahasiswa, interpreneur, berbakat sebagai psikolog, dan entah profesi apa lagi yang sangat mungkin belum saya temui di depan mata kepala sendiri.  Banyak sekali, kan profesi beliau? Nah, pertemuan ke tiga ini (juga selanjutnya) adalah kesempatan istimewa untuk saya belajar langsung, biar ketularan multitalenta, begitu ceritanya.


“Pada guru sebenar guru, ada adab yang tidak bisa ditemui pada buku-buku” (Ibnu Athailah)


Kita memang bisa belajar banyak dari buku. Membaca buku ibarat membuka jendela dunia dengan ilmu. Kita bisa jalan-jalan ke Paris, Sorbone, bahkan merasakan dinginnya samudera Arktik lewat buku. Tapi sungguh, seg=canggih apapun dunia maya tidak ada yang bisa menggantikan dunia nyata, kesan dan energi positif yang mengalir begitu terasa dalam proses transfer ilmu yang kita jalani di dunia nyata. Saling menatap mata, melempar senyum, kemudian berlanjut dengan berbagi cerita dan banyak peristiwa yang dialami bersama, menyisakan kesan yang terukir abadi dalam hati.


Begitu juga dalam proses belajar. Membaca, mendengar, atau melihat tidak bisa melampaui 50 persen daya serap kita terhadap suatu pengetahuan. Namun dengan pertemuan, mengalami dan praktek langsung dengan melibatkan kelima indera yang kita punya, proses belajar bsia berjalan dengan jauh lebih sempurna.


Saya berangkat naik bis dari traffic light Sentul (Kec. Tembelang Kab. Jombang) sekitar jam 8 pagi. Sampai di patung Letda Sucipto Tuban jam 9.30. Perjalanan hanya 1,5 jam, jauh lebih cepat dari perkiraan Mba Hiday antara 2-2,5 jam. Sopir bis yang saya naiki rupanya berbakat mengikuti racing. Setelah dijemput dan sampai di rumah beliau dan mencicipi dawet siwalan yang rasanya maknyus, kami diajak jalan-jalan ke Klenteng Tuban yang konon terbesar se-Asia Tenggara. Setelah itu beli siwalan (buah lontar) dan kawis. Lalu kami melanjutkan perjalanan ke masjid agung Tuban karena adzan dhuhur sudah berkumandang sejak kami masih di klenteng. Sambil Istirahat, menikmati buah lontar yang masih fresh, kami melepas lelah sejenak. Kazumi sempat tidur sebentar di sini sebelum kemudian ceria bermain dengan teman barunya.


Dari Masjid Agung Tuban, perjalanan kami berlanjut ke Goa Akbar. Ah, sehari yang terasa lebih panjang dari kelihatannya. Ceritanya kulanjut lain waktu, ya...


Sekarang, yang pasti saya merasa menemukan saudari di bumi wali. Kakak, guru, mentor (berharap diterima jadi siswa yang baik), sekaligus teman yang luar biasa. Terima kasih, jazakillah bi ahsan jaza’ Mba Hiday Nur untuk sehari yang begitu istimewa. Ya, Tuban Bumi Wali, begitu tagline yang terpampang di perempatan patung Letda Sucipto. Tagline ini dipatenkan oleh pemerintah daerah disamping beberapa sebutan lain bagi Tuban yang juga terlanjur terkenal.

Sebelumnya, Tuban memiliki banyak julukan, diantaranya: kota seribu goa karena banyaknya goa yang terdapat di kota ini, kota siwalan karena banyaknya pohon lontar yang berbuah siwalan menjadi ciri khas Tuban, kota tuwak karena legen (air nira lontar) yang didiamkan lama bisa menjadi tuwak (minuman keras), kota bumi wali (karena banyak wali yang konon pernah berdiam dan menyebar ilmu di kota ini, bahkan makam Sunan Bonang terdapat di belakang masjid agungnya, dan banyak julukan lain yang kemudian ditetapkan “bumi wali” sebagai julukan yang sah di atas julukan lain.

Saya tinggalkan Tuban jam 16.30 sore dan turun dari bis jam 19 malam. Cukup lama, karena sopir berbeda tentu dengan cara mengendara yang berbeda pula. Alhamdulillah, saat pulang rasa grogi dan deg-degan sudah menguap entah kemana. Hanya masih tersisa rindu kembali ke sana. Sampai jumpa lain waktu, Tuban dan segala pesonanya.

2 komentar:

  1. Wah, kapan saya bisa kopdar dengan mbk Sakifah dan ke Bumi Ronggolawe?

    BalasHapus
  2. mantaaa soul. pertemuan dua perempuan hebat

    BalasHapus

Rumah Impian

Tak perlu besar, yang penting cukup untuk menampung keluarga inti dan tamu yang datang berkunjung. Entah itu saudara, sahabat, atau...