Senin, 28 Agustus 2017

Anak Kecilpun Perlu Paham


Wajar, jika anak usia lima tahun begitu dekat dan “lengket” dengan mamanya, sehingga tak terpisahkan. Maka wajar pula jika keadaan terpaksa, ketika keduanya harus berjauhan, ada drama merajuk dan tangisan yang tak bisa dihindari. Begitu pula yang terjadi pada adikku, Afizah, ketika ditinggal ayah dan mamanya pergi haji.


Sebagian orang tua menganggap bahwa anak kecil mudah dikendalikan tanpa melibatkan perasaan. “Mereka masih kecil, belum bisa memilih dan memilah mana yang baik dan benar.” Kata mereka. Benarkah demikian?

Faktanya, tidak. Setiap anak memiliki ciri karakter sendiri. Menjadi orang tua dituntut multitalenta. Sebagai dokter, psikolog, konsultan, sekaligus bodyguard, mengerti dan memahami bagaimana menyikapi setiap anak dengan karakter dan potensi yang berbeda. Ada anak yang  mudah dipengaruhi, maka orang tua harus terus memberi pengaruh baik agar potensinya muncul dan ia bisa mengendalikannya dengan baik. Ada yang keras, tegas, individualis, ada pula yang humanis, mudah bersosialisasi, menguasai bidang tertentu, ada pula yang perlu motivasi tinggi untuk melakukan sesuatu.

Afizah termasuk anak yang cukup “keras” dan tegas sejak kecil. Ia memiliki bakat prinsip yang baik, tidak mudah goyah dengan pengaruh orang lain termasuk orang tuanya sendiri. Jika sudah menolak sesuatu, maka tidak seorangpun bisa membuatnya menerima tanpa drama. Butuh cara khusus untuk mendekatinya, membuatnya paham tentang sesuatu. Yaitu dengan penjelasan yang baik, bahasa yang mudah dimengerti dan intonasi rendah, serta penjelasan panjang kali lebar berulang-ulang sehingga tidak ada miss komunikasi.

Hari Sabtu, 26 Agustus 2017 adalah hari pertamaku bersamanya sepanjang hari, setelah kemarin dia sempat merajuk menelpon mamanya berkali-kali dan kucoba jelaskan posisinya dengan globe. Saat bangun pagi, ia tidak lagi mencari mamanya. Tidak mau mandi, cukup cuci muka dan berangkat sekolah. Tidak ada kegiatan bermain dan waktu istirahat karena hari ini dia pulang pagi. Otomatis, pelajaran di sekolahnya hanya mengaji, setelah itu pulang. Semua sekolah di kecamatan Ngoro pulang pagi karena hari ini ada karnaval menyambut HUT RI. Jalanan depan toko sudah padat sejak pagi. Menjelang siang, jalan samping rumah sudah ditutup untuk parkir motor. Afizah baru mau makan nasi disuapi pengasuhnya setelah pulang sekolah pukul delapan. Pagi hari sebelum berangkat hanya mau minum milo habis segelas.  

Seharian menonton karnaval, membuatnya lelah saat siang. Dia minta tidur. Kutemani sebentar di kamar belakang. Dia baru bangun saat sore menjelang. Ditawari makan oleh pengasuhnya tidak mau, nasi dengan lauk apapun tetap menolak. Tapi saat ditawari mie, dia menerima. Pengasuhnya butuh persetujuanku untuk memberinya mie. Kami memang tidak sembarangan memberinya makanan. Apalagi mie instan dengan zat kimia tak terbilang. Aku sempat menimbang, daripada tidak makan sama sekali, mungkin ada baiknya tetap diberi, minimal mie mengandung karbohidrat penyusun energi. Aku mengingatkannya untuk memberi bumbu sedikit saja, jangan sampai setengahnya. Kasihan lambung adik yang belum normal.

Ah, benar saja. Baru dua suap, dia muntah. Sebentar reda, disuapi lagi, muntah lagi. Okey, stop memberinya makanan. Kutawari minum, sedikit sekali dia minum setelah kubersihkan tubuh dan kuganti pakaiannya.

Wajahnya pucat, tapi tetap kusuguhkan senyum agar dia ikut merasa tenang. Kubesarkan hatinya, bahwa semua baik-baik saja. Setelah itu kuajak dia istirahat, bercanda dan perlahan wajahnya kembali ceria. Meski masih tampak pucat, tentu saja. Kutawari nutrijel coklat yang kubuat saat pagi, dia mau.

Ah, nutrijel memang penyelamat. Orang sakit saja masih bisa memakannya dengan lahap, apalagi orang sehat, enak sih rasanya. Adik paling suka yang rasa coklat. Ini baik untuk perutnya, selain mengenyangkan juga membuatnya “adem”, damai di perutnya. Tidak ada mual dan muntah lagi, membuatku tenang. Bahkan kami sempat foto selfie. Hehe



Ajaibnya, sehari ini dia tidak minta telpon mama atau ayahnya. Meski sakit mendera, tidak satu kalimatpun kutawarkan untuk menelepon atau video call. Alhamdulillah, dia mulai paham betapa jauh posisi ayah dan mamanya saat ini.

Tidak ada lagi acara merajuk minta mamanya pulang saat itu juga. Ternyata, anak kecilpun perlu pemahaman yang baik. Mereka suka merajuk, bermain drama, bukan hanya karena mereka menuntut perhatian, tapi mereka butuh pemahaman, yaitu pemahaman yang benar. Mereka tidak perlu dibohongi dengan penjelasan palsu. Justru ketika mereka tahu apa dan bagaimana kejadian sebenarnya, pemahaman itu bisa diterima dengan baik. Memang prosesnya tidak selalu mudah, tapi bisa. Adakalanya anak harus dipaksa agar mengerti, membuatya menangis sementara. Tapi tidak mengapa, setelah mengerti, kita tidak perlu menyusun kebohongan yang lain untuk menutupi kebohongan sebelumnya, bukan?

Masih banyak PR lain untuk adik, membuatnya paham untuk tidak menyalakan TV terlalu lama, memperbanyak mengaji dan menghafal ayat suci, membuatnya tertarik belajar menulis dan membaca (dia lebih mudah menerima pelajaran menghitung daripada membaca), tapi semua butuh proses. Satu bulan penuh September nanti, semoga lebih mudah dijalani.


Alhamdulillah, sampai hari ini, Senin 28 Agustus 2017 adik tidak merajuk lagi. Makan sudah mulai normal, mau makan buah dan camilan kesukaannya, mikako. Minum susu seperti biasa. Semoga semua lancar sampai semua kembali seperti semula. 

Ngoro, 28 Agustus 2017

3 komentar:

  1. Alhamdulillah, Fatih juga tak biasain gitu. Diberi pemahaman, bukan disuguhi kebohongan.
    Nice sharing ifa..

    BalasHapus

Rumah Impian

Tak perlu besar, yang penting cukup untuk menampung keluarga inti dan tamu yang datang berkunjung. Entah itu saudara, sahabat, atau...