Selasa, 01 Agustus 2017

Kausalitas Kerja



“Ma, apakah bekerja membuat orang jadi kaya?” Reno membaca koran sambil bertanya kepada mamanya yang sedang asik menyiapkan sarapan.


Minggu pagi seperti ini sering dimanfaatkan Reno untuk membaca koran setelah jogging keliling kompleks, pelajar kelas 10 itu memang remaja yang baik. Selain berprestasi, Reno juga selalu bersikap baik kepada orang tuanya.

“Apa No?” Mama minta Reno mengulang pertanyaannya karena tadi suara Reno kalah dengan suara mesin blender. Mama membuat jus jambu pagi ini.

Reno mendekati mama, bersandar di pintu dapur sambil memperhatikan wanita hampir separuh baya itu asik sendiri. Berjalan kesana kemari, mengambil ini dan itu, menata makanan dalam piring saji, memastikan rasa masakannya pas di lidah, lalu tersenyum puas ketika hasilnya sesuai harapan, atau berkerut sebentar lalu menambahkan sesuatu. Semua harus terasa “pas” di lidah dan mata mama. Reno seperti melihat artis di panggung yang sedang performance menguasai dapur. Penuh penghayatan dan perhitungan, semaksimal kemampuan. Begitulah mamanya ketika memasak, selalu berbumbu “cinta”, menambah cita rasa istimewa dari setiap masakan buatannya.

“Reno bantu ya ma?” Ujarnya setelah puas memperhatikan mama. Ia mengambil beberapa piring saji dan membawanya ke meja makan, menata rapi semua seperti biasa. Setelah piring terakhir berpindah ke meja, Reno bermaksud kembali ke dapur untuk bilang, “Ma, Reno mandi bentar ya...” Tapi sang mama mencegahnya. “Kamu tadi mau nanya apa?”, namun Reno mengernyit tak paham, mungkin sudah lupa. “Setelah baca koran tadi? Apa? Kaya dan bekerja?” Mama menjelaskan pertanyaannya, Reno tersenyum lebar. “Eh iya, emang orang bekerja bisa bikin kaya?” mama lalu menarik lengan Reno dan mengajaknya duduk di kursi dapur. Semua sudah beres dan rapi, sehingga mama bisa bersantai.

“Banyak orang yang bekerja, tapi tidak kaya harta, Reno” Ujar mama bijak.

“Nah, itu maksud Reno. Tapi kenapa orang yang sudah kayapun rela korupsi agar tidak banyak bekerja? Dan orang yang bekerja keras tidak kunjung kaya? Itu kan kelihatan tidak adil, Ma?” Reno pasti baca berita soal banyaknya korupsi di negeri ini, batin mama.

“Nak, di dunia ini memang ada kaidah kausalitas, hukum sebab akibat. Siapa yang bekerja ya bisa dapat upah dari kerjanya. Siapa menanam benih pasti menuai hasilnya. tapi tidak ada yang bisa menjamin secara materi, bahwa 10 benih akan menghasilkan 10 buah di kemudian hari. Ada yang mendapatkan 5, 10, bahkan 100 dari 10 benih yang ditanam tadi.” Mama tersenyum menjelaskan, berharap putranya paham.

“Lalu hubungannya sama kaya dan bekerja, Ma?” Reno belum puas rupanya.

“Orang yang bekerja keras secara fisik, bisa jadi mendapat upah rendah. Sedangkan yang bekerja sekedarnya bisa mendapat upah tinggi, lebih berpotensi kaya. Menurut manusia, seperti itu bisa jadi dianggap tidak adil. Tapi kau jangan lupa nak, bahwa kaidah kausalitas tidak hanya bekerja menurut hukum manusia. Ia lebih tunduk kepada ketentuan Tuhannya, pemilik alam semesta ini. Kau lihat, orang yang gajinya tidak seberapa bisa jadi lebih bahagia daripada orang yang bekerja di gedongan sana. Kuli bangunan bisa jadi lebih merasa tenang hidupnya daripada seorang presiden.”

“Jadi, standar kausalitas hidup kita sebenarnya apa, Ma?” Reno mulai paham penjelasan mamanya.


“Kepercayaanmu pada Tuhan, membuat setiap hal terasa sempurna nak” 

Mereka tersenyum. Di luar rumah, beberapa burung pipit mencicit riuh.

#OneDayOnePost
#Latepost

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kaos ODOP

Hasil jadi kaos Kira-kira tiga atau empat bulan pasca Kopdar Akbar ODOP pertama, ada wacana ingin membuat kaos ODOP. Koordinatornya...