Kamis, 31 Agustus 2017

Menolak atau Menerima Tawaran: #Temaniakuhidup




Hastag #temaniakuhidup mendadak viral di media sosial. Siapa lagi pelakunya jika bukan para jomblo? Eh, ini tidak lebay, sungguh! Hanya suara hati yang mencoba keluar dari sarangnya. Hehe


Buat para jomblo mulia #sambilnunjukdiri ngga papa kalau mau jujur bilang #temaniakuhidup. Sungguh, ngga papa. Ngga usah bilang baper karena tanpa diumumkan itu sudah menunjukkan kebaperan. Tapi, ingatlah bahwa #temaniakuhidup itu hanya layak diucapkan ketika sudah benar-benar siap. Baik secara fisik, mental, finansial, dan tentu saja kalau sudah jelas ada calonnya. Kalau belum? Cari dulu sana!

Terus, kalau sudah ada calon, gimana bilangnya? Kan ngga enak tiba-tiba bilang: “Hai, #temaniakuhidup yuk?”

Ops, okey… begini, katakana saja:

Duhai kamu yang tampak baik dalam pandanganku, izinkan aku memintamu untuk #temaniakuhidup selama sisa waktu. Mungkin aku bukan manusia sempurna, karena tak seorangpun tercipta tanpa cela. Mungkin aku tak sebaik yang kau pinta dalam doa, tapi aku yakin Allah izinkanku memilihmu karena engkau pantas menjadi yang terbaik untuk dunia dan akhiratku. Bukankah engkau juga memiliki kekurangan serupa?

Engkau boleh menerima atau menolak permintaanku. Namun sebelum memastikan jawaban, semoga engkau sudah menetapkan diri dalam keyakinan. Jika engkau menolakku karena masa lalu, maka sesungguhnya kita tak akan pernah bisa kembali ke sana, maka untuk apa mengkhawatirkannya? Jika engkau menerimaku karena kemungkinan masa depan, maka sesungguhnya kita tidak bisa menerkanya dalam kepastian, maka untuk apakah menggantungkan pilihan yang masih penuh dengan pertimbangan?

Jika engkau menolak atau menerimaku karena rupa, sesungguhnya tak ada yang abadi dalam kenyataan fisik yang kau puja. Tubuh ini akan menua, menyisakan keriput yang menghabiskan pesona. Lalu apakah ketika yang kau suka lenyap dari pandangan mata, lenyap pula rasa yang disebut cinta?

Jika engkau menerima atau menolakku karena harta, bukankah kepemilikan dunia bersifat sementara? Harta adalah rupa dunia yang bisa datang dan lenyap tiba-tiba. Bisa menjauhkan persaudaraan atau mempereratnya dengan syarat. Atau bisa jadi, harta itu abadi ketika kita mengikhlaskannya. Jika kau ikhlas, aku yakin engkau tidak akan memilihku karena harta.

Atau karena nasab yang penuh sejarah dan pelajaran berharga? Mungkin benar jika buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Namun kau harus ingat bahwa setiap biji yang terpisah dari induknya memiliki sifatnya sendiri. Engkau tak bisa menilai semua sama. Meski mungkin tak semua hal berbeda. Jika engkau ingin tahu karakter seseorang, maka perhatikanlah caranya marah, bermuamalah dan memperlakukan orang tua.

Cukuplah engkau pertimbangkan menolak atau menerimaku karena agama, iman yang kujaga. Engkau boleh bertanya padaNya lewat untaian doa atau pertimbangan orang tua. Dengarkanlah mereka, karena ada ridha Allah tercermin pada keduanya. Jadi, kapan engkau siap untuk #temaniakuhidup selamanya?


1 komentar:

Kaos ODOP

Hasil jadi kaos Kira-kira tiga atau empat bulan pasca Kopdar Akbar ODOP pertama, ada wacana ingin membuat kaos ODOP. Koordinatornya...