Senin, 11 September 2017

Book Review: Sebelas Patriot



Judul                     : Sebelas Patriot
Penulis                 : Andrea Hirata
Penerbit              : Bentang
Tahun                   : 2011
Tebal                     : 112 Halaman
ISBN                      : 978-602-8811-52-1

Novel ini tidak bercerita detail tentang perjuangan sebelas patriot seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Tidak juga menjelaskan rinci siapa sebelas patriot yang dimaksud dan latar belakang cerita kehidupan mereka. Kisah tentang sebelas patriot adalah kisah tentang: Ayah.


Apa bedanya dengan novel Ayah? Novel Ayah bercerita tentang kisah Sabari dan Zorro, dua anak manusia yang ditakdirkan hidup bersama dan menyandang status bapak-anak, namun sesungguhnya Sabari bukanlah bapak kandung Zorro. Status bapak dan Anak tersebut diperoleh karena pernikahan Sabari dengan Marlena yang merupakan ibu kandung Zorro. Bagaimanapun, kisah ini adalah tentang pegorbanan dan kasih sayang seorang ayah kepada anaknya, meski tak sedarah. Sebuah kehidupan dramatis yang dialami oleh “orang lain” bagi Andrea Hirata.

Lain halnya dengan “Sebelas Patriot” yang berkisah tentang Ayah, langsung bagi penulisnya, Andrea Hirata. Kesan biasa yang didapat dari seorang ayah hingga Ikal remaja tiba-tiba berbalik 180 derajat menjadi kekaguman, takzim, sekaligus bangga tak terhingga setelah melihat selembar foto usang. Tampak dalam foto itu seorang lelaki yang dengan bangga memamerkan sebuah piala. Tatapannya seolah berlapis-lapis, antara rasa bangga, bahagia, sekaligus sedih tak terkira.

Perasaan Ikal membuncah ketika tahu bahwa sosok yang ada dalam foto usang itu adalah ayahnya. Satu dari sebelas patriot pribumi, bungsu dari tiga bersaudara yang palig berpengaruh diantara mereka, sekaligus pemain sayap kiri terbaik di zamannya. Foto itu kemudian menjadi penyemangat Ikal untuk melanjutkan mimpi ayahnya: menjadi pemain PSSI.

Meski mimpi itu tak teraih, Ikal berhasil menggantikannya dengan membeli kaos bertanda tangan Figo, pemain Real Madrid di kandangnya. Sepak bola di dunia ini bersaing ketat dengan cinta, karena sama-sama sanggup membuat gila manusia tanpa rencana.

Kelebihan Buku

Novel ini ringan, jauh lebih tipis dibanding tetralogi laskar pelangi atau novel “Ayah”. Gaya Bahasa yang digunakan penulis masih khas, seperti yang sudah dipublikasi pada novel-novel sebelumnya. Gaya Andrea bercerita kaya diksi sekaligus renyah layaknya menyimak cerita langsung dari sang pelaku. Sulit rasanya membedakan apakah ini murni fiksi atau fakta yang diceritakan kembali.

Setiap orang mungkin punya penilaian berbeda. Namun sejak awal membaca, kesan “Sebelas Patriot” tidak begitu terasa menjiwai keseluruhan isi cerita. Kecuali pada bagian puisi pengantar kaos bertanda tangan Figo yang dikirim Ikal dari Eropa untuk ayahnya, kesan haru, sedih dan bahagia hanya biasa terasa jika benar-benar membacanya langsung. Nvel ini adalah kesan Ikal tentang ayahnya yang ternyata merupakan sosok luar biasa dibalik kesederhanaannya yang bersahaja. Sedetail apapun saya berusaha menceritakannya dalam ulasan singkat ini, tentu tak akan bisa menggantikan kesan yang tersisa dari proses membaca langsung.


Jadi, selamat membaca.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rumah Impian

Tak perlu besar, yang penting cukup untuk menampung keluarga inti dan tamu yang datang berkunjung. Entah itu saudara, sahabat, atau...