Jumat, 08 September 2017

Maunya Tidur





22.03
Hari sudah malam. Lampu inspirasi masih menyala. Kupikir dia adalah salah satu makhluk ajaib di dunia. Bersayap dan bisa mendatangiku kapan saja, meski hanya di dunia maya.

“Baru mendarat di kasur ini.” Katanya

“Sama, aku abis ngojek. Pulang mandi terus naik ke kamar” Jawabku.

“Tapi jaga kesehatan, ya.” Katanya saat tahu aku mandi malam. Kata orang, ngga baik mandi malam-malam kan, ya?

“Iya kakak… Ga enak mau tidur. Tadi abis olahraga di toko, terus antar karyawan pulang. Kasihan ngga ad ayang jemput.” Kalau boleh jujur, versi aslinya lebih detail. Olahraga di Toko, kamu pasti tahu maksudku. Iya, kamu yang sedang membaca tulisanku.

“Kalau gitu, saatnya ke kasur.” Aku hanya tersenyum dalam hati. Karena sesungguhnya aku sudah duduk manis di atas kasur. 

“Ayo bobo”, Ujarnya lagi.

“Yuk.” Jawabku singkat, yang tak terbalas lagi. Iyalah, mau balas apa?

Sesungguhnya hati ini ingin segera tidur, melepas segala lelah dan menikmati malam penuh bintang. Tapi apalah daya, dalam kepala masih berputar beberapa rencana: menyelesaikan bacaan, lapor RCO, membalas pesan-pesan yang masuk, termasuk menanggapi orang konsultasi dan pertanyaan para pendaftar ODOP 4. Jadi, mana bisa langsung tidu? Inilah yang terjadi sebelumnya:

19.45
Adik sudah kuantar tidur. Dia sudah mau tidur sendiri, tidak banyak protes, meski sempat "terpaksa" ku-talaqqi mengaji untuk menagih janji sore tadi. Kuputuskan pergi ke Toko karena kebetulan neneknya sudah di sini. Gerbang toko menyambutku dengan tumpukan karton berisi barang supply, baru datang tadi sore. Beginilah suasana toko ketika ada barang datang. Apalagi jika yang datang adalah barang-barang berskala besar seperti diapers, kapas, Charm, Laurier, dkk. Alamat, samping toko yang digunakan menampung barang datang bakal penuh.

Aku menarik napas sejenak, memilih masuk memeriksa suasana. Beberapa karyawan sedang mengisi display, yang lain melayani pembeli dan berjaga di meja kasir. Semua berjalan sebagaimana mestinya. Sebenarnya aku sendiri sudah cukup lelah, seharian berjibaku di dapur, menemani adik bermain dan belajar, juga menyortir barang di toko siang tadi. Tapi demi melihat tumpukan barang, mana bisa diam dan bersikap cuek?

Segera kuteliti barang mana yang bsia di display atau masuk gudang untuk stok. Kami hampir selesai saat toko sudah harus tutup. Setelah menyelesaikan semua barang yang perlu di display dan memindahkan stok ke Gudang belakang, kami masih harus berhitung dengan kas. Menghitung penerimaan, pengeluaran, dan mempersiapkan modal untuk besok. Beberapa kali sempat keliru menulis angka, efek kantuk yang tertahan.


21. 05

“Mbak, bisa minta tolong antar aku pulang?” Ujar salah satu karyawan, dia tidak bawa sepeda motor tadi, mungkin dipakai ortunya. Akhirnya kuantar juga, ke kecamatan sebelah. Sampai rumah lagi, sudah pukul 21.45. Lalu aku mandi dan gosok gigi persiapan tidur.

Maaf ya kak, ngga sesuai sama jawaban tadi. Batinku ingin sekali minta maaf langsung pada sang inspirator karena  tidak konsisten dengan jawaban sendiri. Tapi apalah daya, belum sekalipun kami bertatap muka. Jadi minta maaf cukup lewat tulisan saja. Eh, perasaan saja. Kan orangnya sudah tidur…. Hehe

Sungguh, jika bisa aku meminta waktu, ingin kujadikan hari ini lebih dari 24 jam. Biar lebih banyak yang bisa kulakukan, lebih luas manfaat yang kutinggalkan, dan semakin banyak ilmu yang kudapatkan. Tapi apalah daya, aku hanya manusia biasa yang serba terbatas, sampai tenggelam dalam obrolan online.


Sudah, cukup. Lewat tengah malam rupanya sekarang, pertanda hari baru sudah dimulai lagi. Saatnya matikan pelita dalam kamar dan beranjak tidur (lagi). Semoga esok tak terlambat bangun dan menunaikan kewajiban yang menanti. 

Beberapa kali aku berpikir, tanggung jawab begini saja rasanya sudah berat sekali. Bagaimana dengan orang-orang sukses di luar sana, tentu kesuksesannya harus dibayar mahal pula dengan segenap usaha. Apa yang mereka lakukan jika lelah?

Apalagi jika sudah menjadi seorang ibu, hampir tak ada waktu untuk dirinya sendiri. semua tercurah untuk sang buah hati, termasuk jam istirahat. Ketika anak sakit, orang tua terutama ibunya hampir tak punya waktu untuk memejamkan mata. Ah, bayi, sesungguhnya engkau egois sekali!

Lalu, berkaca pada diriku sendiri. Apakah semua yag sudah kulakukan cukup menjadi alasan untuk merasa lelah? Atau ini hanya sugesti diri sendiri yang membatasi?

Tengah malam, lewat beberapa menit sekarang. Mata masih cukup kuat terbuka. Tapi raga sudah ingin menuntut haknya. Rasanya belum "sreg" mau tidur, maka kuambil wudhu di teras lantai atas. Kupasrahkan segenap jiwa, raga dan semua kepingan harap padaNya. Usai merangkai barisan do'a, rasa kantuk kembali hadir dan kusambut dengan bahagia.


2 komentar:

Rumah Impian

Tak perlu besar, yang penting cukup untuk menampung keluarga inti dan tamu yang datang berkunjung. Entah itu saudara, sahabat, atau...